Responsive Banner design

Damn it !!

Bajak laut, buaya darat, kecoa bulukan, babon monyet, shiit, entah makian apa lagi yang pantas dilontarkan dus sekaligus minjem makian khas kapten Haddock, kenesan Ratu atau makian bule segala. Sekedar berjuang pengin ke kantor harus menempuh jalan layaknya offroad. Sengaja dari jauh hari mengambil rumah di daerah yang tidak buruk dan termasuk level menengah-lah tetap lingkungan sekitar kurang mendukung. Pagi-pagi harus ngantar anak sekolah dulu, kasihan kehujanan. Yap, hujan memang dari semalaman turun tanpa ampun. Praktis terbayang jelas rangkaian kemacetan membosankan di segala sudut. Tetangga depan rumah yang keluar jam 05.30 WIB harus kembali pulang sekitar jam 08.30 karena basah kuyup. Sang tetangga sengaja bawa motor dengan niat semula biar cepet, apa daya kemacetan-pun menghadang tidak saja mobil juga motor, yang akhirnya malah balik pulang. Entah sekalian nggak ngantor atau masih punya semangat balik ke kantor.

Saya sudah ragu-ragu pengin ngantor atau tidak, namun banyak agenda dan pekerjaan menunggu. Pengin bawa mobil saya urungkan ketimbang stress saya naik menghadapi kemacetan berjam-jam. Pengin bawa motor hujan layaknya mengejek. Setiap siap berangkat hujan menjadi deras, ditinggal duduk agak mereda, bangkit bentar hunaj mendadak deras begitu terus sampai terulang tiga kali. Akhirnya toh hidup mesti berlanjut, life must go on anyway dan kita wajib hadir kerja maka dengan membawa cadangan celana dan sepatu dibungkus saya nerobos hujan yang membosankan ini.

Benar perkiraan saya, genangan air setinggi ban menghadang di berbagai sudut. Rute yang saya ambilpun sudah milih jalan tikus, bukan jalan gajah lho. Jalur arteri dipastikan mampet dan tidak bergerak sama sekali. Belakangan ketemu orang di penitipan motor benar belaka, arteri total macet. Selain makin banyaknya mobil, jumlah motor-pun sudah di luar daya tampung jalan. Pokoknya ruwet habis. Waktu, bbm, tenaga, energi semuanya menjadi tidak berguna lagi. Mau sekeras apapun berpikir, secanggih apapun mengatur rute, macet ya tetap macet. Wong bergerak saja nggak bisa, mau maju, mundur aapalgi nyamping jelas tidak bisa. Hanya pasrah dengan situasi konyol ini. Dan ingat keadaan ini berjalan terus setiap datang hujan.

Wuih baru kali ini kita nerjang air setinggi ban motor. Beberapa kali sempat pengin jatuh dan sudah tak terkira celana basah semua. Gile berat nian perjuangan pengin berangkat kerja aja. Ini sebenarnya kemana saja uang atau pajak kita. Setiap tahun kita harus bayar pajak motor atau pajak mobil. Rumah kita ditarik pajak bumi dan bangunan. Beli ember plastic-pun kita kena pajak. Lha imbal balik yang kita terima mana. Boro-boro kita dapat kenyamanan di jalan namun yang terjadi malah stagnansi jalan yang semakin parah.

Pembahasan ini tentunya membosankan dan membuat kita semua semakin tidak nyaman. Namun setidaknya kita memiliki hak atas fasilitas dan lingkungan social yang sepantasnya, kenapa lagi-lagi kita sempatkan melontarkan kekesalan ini.

Akhirnya dengan badan basah kuyup kita menitipkan motor dan berganti celana. Hujan masih turun dan dengan berpayung koran kita berlari mencari mobil omprengan. Boro-boro kita disediakan bus atau mass transport yang nyaman, ini kita mesti naik mobil omprengan yang tanpa AC. Kalau pagi sih masih banyak orang ngantor nyambi ngompreng, dimana kendaraan bisa nyaman dan ber-AC. Di atas jam 08.00 tinggal mobil ompreng yang tanpa AC dan duduknya dijejal pula.

Perjalanan ke kantor ditempuh sampai tiga jam. Sempurna sudah penderitaan balada seorang karyawan swasta di kota yang konon diakui sebagai Ibukota sebuah Negara besar. Tidak ada yang bisa diperbuat dalam kondisi ini. Umpatan dan sesalan ini juga sekedar pengingat, kelak siapa tahu kita butuh mengungkap sebuah moment menyedihkan ini.

Driving Environment

Have you ever driven car in big city like Jakarta. If so, then what kind of comment or experience of yours about the traffics. Have you heard that driving in Jakarta represent one of the wildest environment ever. Why not, if you are facing such traffic in a mass or cars overlapping everywhere across the street. Yes the behavior of common driver in this city are really bad – not to mention worse. What kind of traffic signals that no compromise obeyed on every other countries, in facts are not done properly here.

If you see white straight lines mean you are not allowed to cross, but still it often crossed anyway. In every freeway there is one space in the bank functioning for emergency. If there are ambulances or police car having emergency matter then they drive away on it. But this part of freeway always driven through by any cars except there is a police patrol.

In this country everything must be supervised by state officer or some incident of law breaking instead. Another simple one in the stopping lamps often cars stand crossing the lines. In addition there are more bicycles spread away around the street and stand everywhere. Bicycles are usually act worse by instance of taking another part of street. Talking about bicycle will not end up in short. It needs another discussion.

There was a manager coming from Singapore and he tries driving himself around the city. What he finally comment is driving in the City need high braveness and patient behavior unless you are going to fell stress and under-pressured. That is why from more population of expatriate working in Jakarta only little of them may drive themselves. The most rest of them need to hire local driver and just sleep along the way rather than thinking the complicated street running.

I myself have no experience driving aboard except in some Asian Country. I think Malaysia and Singapore have rather smooth way of driving. Despite the traffic is more rule minded condition of street is better as well. Moreover behavior of most drivers are better.

I think the point of driving problem on the street is behavior and awareness of traffic rule. If every car in normal queues as street sign then every driver will feel comfort and patience to face the jam. The traffic will automatically run well and under control. On the other hand if everybody races to break the sign of traffic then it creates a war in the street. Consequently people become panic and behave terror each other.

Police and officer need to straightly force the law in the street. No compromise or no exceptions may apply to all drivers. Whoever breaking the rule must be stop and punish. The longer complicated situation happen the more difficult to solve the problem. It is better late than never.

Pendapatan

Berapa besar gaji anda per tahun. Apakah 100 juta atau 300 juta atau lebih besar lagi. Konon CEO di perusahaan bergengsi memiliki gaji sekitar 250 jutaan per bulan atau 3 milyar per tahun. Dan ini tidak semua CEO bergaji segitu ada yang jauh lebih kecil. Guna mendapatkan gaji tersebut berapa tahun anda sekolah, kuliah dan berapa besar biaya yang anda keluarkan. Konon honor pelawak dan presenter Thukul mencapai 30 juta sekali tampil, hmm lebih gila lagi yaa. Atau honor Tamara Blezynki yang mencapai 75 juta per episode sinetron. Atau super grup band Dewa yang mematok sekali tampil 100 juta atau lebih dan seterusnya.

Bicara gaji atau mudahnya pendapatan memang tiada habisnya. Toh berapapun pendapatan kita kalau diturutkan bakal tiada pernah cukup juga kan. Kadang pendapatan dengan mudah mencerminkan kerja keras sebelumnya, sebagaimana dialami pengusaha yang sukses. Kadang juga pendapatan kurang mencerminkan kerja keras pelakunya. Misalnya karena ketatnya dunia kerja maka seorang jebolan pasca sarjana hanya berkesempatan mengajar dengan gaji pas-pasan.

Trus berapa ya pendapatan per tahun dari Bill Gates yang konon asetnya mencapai 45 milyar dollar. Sebagai salah satu orang terkaya bahkan Bill Gates tidak menamatkan kuliahnya dan lebih menekuni industri software yang akhirnya membawanya sukses.

Kompas tempo hari memberikan daftar atlet terkaya dengan pendapatn per bulan yang begitu wah. Ada Tiger Wood yang setahun berhasil mengumpulkan sekitar 100 juta dollar, atau Schumacer pembalap F-1 dengan 80 juta dollar. Saking kaya-nya Schummy demikian nama akrabnya mendonorkan sekitar 10 juta dollar buat korban Tsunami beberapa tahun lalu. Di urutan berikutnya ada Valentino Rossi, Maria Sharapova, Ronaldinho, Becham dan lainnya dengan range 20 sampai 30 juta dollar per tahunnya. Ronaldinho bahkan membuat yayasan/lembaga di negaranya yang dapat menampung 2500-an anak usia sekolah. Di lembaga tersebut diajarkan teknik bermain bola dan latihan lainnya.

Barangkali itulah berbagai profil dari atlet, artis, pelawak atau pelaku lainnya dengan berapa banyak nominal uang yang dikumpulkan. Alokasi dari uang tersebut secara umum tercermin dari gaya hidup, rumah mewah, jet pribadi dan pesta-pesta yang mereka adakan. Namun tidak sedikit pula yang turut memikirkan kepedulian terhadap manusia lainnya.

Apapun yang mereka lakukan hal tersebut sedikit banyak menggambarkan buah hasil kerja keras dan semangat mereka. Tanpa kerja keras mustahil buah sukses tersebut dipetik. Tentunya kita tidak semata mengukur bentuk sukses dari banyaknya uang yang dikumpulkan. Money isn’t merely everything. Masih banyak parameter sukses seseorang ketimbang sekedar ukuran jumlah uang atau asset yang dikumpulkan.

Land Cruiser (LC)

Mobil ini begitu akrab di telinga offroader atau dulunya karyawan perkebunan atau kehutanan. Kenapa akrab di sana, karena mobil ini dibangun memang untuk menjelajah segala medan. Sebutan akrab lain dari Toyota LC adalah Hartop atau FJ. Sebenarnya tipe mobilnya ada yang Hartop atau beratap plat layaknya SUV pada umumnya atau beratap terpal. Juga ada yang chassis pendek ataupun panjang.


Menilik dari sejarahnya lahirnya jeep diawali pada saat perang dunia. Amerika sebagai Negara besar yang terlibat perang antar benua perlu membangun kendaraan bagi tentaranya menjelajah medan perang. Didesainlah kendaraan jeep tadi yang identik dengan kendaraan tangguh dan menjelajah beragam medan. Terbukti jeep menjadi kendaraan wajib bagi tentara Amerika saat itu.

Jepang sebagai pihak yang sudah pula mampu membuat mobil berniat membangun mobil serupa. Bahkan targetnya adalah melampaui kehandalan jeep tadi. Terbentuklah prototype jeep versi Toyota tadi dan dilakukan test gila-gilaan mendaki bukit sampai ke puncak. Hasilnya adalah kendaraan segala medan yang kekuatannya setara atau melebih jeep Amerika tadi.

Sejak tahun 1960-an Jepang telah mampu membuat LC ini dan saat itu didukung oleh departemen lain guna menyerap dan menggunakannya. Quality talks begitu kira-kira gambaran dari sang jagoan Toyota ini. Mulai-lah tersebar ke seantero daratan penyebaran dari LC ini.

Bahkan saat ini masih banyak kita temukan jangan kata yang tahun 80-an atau 70-an, bahkan yang tahun 60-an pun masih banyak digunakan orang. Seorang tokoh offroad menjuluki jeep ini sebagai badak yang bakal tidak rusak meski diperlakukan bagaimana kasarpun. Sudah jamak dalam dunia offroader wajib menggunakan jeep ini guna menaklukan medan belantara.

Kalau kita sempat datang ke daerah Bromo di Malang, Jatim maka bakal kita temukan banyak LC chasis pendek yang disewakan mendaki puncak Bromo. Hal ini dikarenakan begitu curamnya sudut gunung Bromo dan tidak sembarang kendaraan aman dan mampu dibawa mendaki. Toyota LC menjadi mascot dan andalan menaklukan ketinggian gunung yang indah saat matahari terbit tersebut.

Tahun 2003 saya sempat memiliki sebuah Hartop FJ-40 tahun 1977 yang saya beli dari seorang kenalan. Wuih ini mobil memang tiada matinya. Digunakan melintas jalan apa saja semuanya mulus dilibas. Berhubung terbatasnya lahan parkir dan kurang optimalnya perawatan maka kurang dari satu tahun mobil dibeli oleh teman saya. Memakai hampir satu tahun saya tidak rugi, karena harga jualnya lebih tinggi dari belinya, he he dasar pedagang yaa.

Dunia offroader bahkan menyimpulkan bahwa Toyota LC memiliki kaki-kaki terkuat diantara jenis jeep lainnya. Memang untuk speed dan onroad bisa saja jeep semacam CJ atau Wrangler lebih kencang, namun untuk urusan kekuatan kaki dan kebandelan mesin nampaknya Hartop-lah jagonya.

Mengalami pergeseran dan inovasi jeep Hartop sekarang sudah mengalami berbagai penyempurnaan. Mulai dari FJ-40, FJ-50, FJ-60 dan seterusnya, sekarang serinya sudah sampai ke FJ-100. FJ-100 sudah bukan merupakan kendaraan jeep semata namun gabungan dari segala medan dan kemewahan. Bagaimana tidak mewah kalau LC FJ-100 berbandroll di atas 1 milyar rupiah. Itulah legenda hidup salah satu jeep yang pernah dibangun.

Polusi

Kompas hari ini memberitakan buruknya kondisi udara/langit di atas Jakarta. Konon tiap kilometer jalan terdapat 2000 kendaraan bermotor. Disamping jumlahnya yang banyak umumnya kendaraan motor yang beroperasi di Jakarta belum ramah lingkungan. Rekor-pun dengan mudah diraih, yakni kota dengan polusi udara terkotor nomor tiga di dunia, di belakang Mexico dan Bangkok. Makin bertambah saja gelar kita, selain terkorup, kotanya juga ter-polusi.

Belum lama saya melakukan penerbangan dari Changi, Singapura menuju Jakarta. Nampak langit di atas Singapura terlihat cerah dan awannya terlihat jarang/wajar. Namun selang sekian menit ketika pesawat berada sekitar atas pulau Sumatera dan menuju Jakarta, langit nampak tebal dan awan bertumpuk-tumpuk. Sangat kontras bedanya langit di atas Singapura dan diatas Sumatera dan Jakarta. Entah gumpalan dan awan bertumpuk ini menandakan memang polusi di atas kita sudah sedemikian terkontaminasi, sementara udara Singapura lebih bersih, saya tidak tahu persis.

Entah sampai kapan kita harus belajar dan menyadari bahwa lingkungan hidup merupakan penopang kehidupan kita. Dianugerahi hutan yang luas habis ditebang. Ditambah pembakaran hutan yang asapnya sempat mengganggu masyarakat dan bahkan negara tetangga. Sungai banyak tercemar oleh sampah yang dibuang sembarangan. Kualitas air semakin menurun, sementara bisnis air minum semakin ramai dan harganya semakin mahal. Oksigen dan udara yang menaungi kitapun kita kotori dengan berbagai asap kendaraan dan pabrik.

Tentunya kita juga pernah mendengar istilah pemanasan global. Bayangkan bila hutan semakin gundul, langit semakin tipis kadar ozon-nya dan sinar matahari makin menyengat. Konon lagi es di kedua kutub bumi dapat saja mencair dan lautpun menjadi pasang. Singkatnya bahwa alam atau lingkungan hidup tidaklah berdiri sendiri. Kerusakan suatu lingkungan akan berdampak terhadap lingkungan yang lain.

Bahwa lingkungan hidup yang begitu luas pada hakekatnya adalah sumber hidup kita. Makanan, sandang dan tempat tinggal berasal dari alam dan lingkungan. Saat ini hampir tidak ada sesuatu yang gratis – there is even no further free lunch. Menyusul cerita lama bahwa hutan dikapling-kapling, sekarang bahkan lebih hebat lagi. Yang namanya pantai-pun sudah dikapling-kapling juga, tidak percaya coba datang ke Anyer atau Bali. Tadi kita sebut bisnis air minum ramai, ternyata sumber air di pegunungan-pun juga sudah dikapling-kapling.

Nampaknya hanya udara atau oksigen yang sulit untuk mengapling, makanya ya sudah dikotori sekalian. Toh saat ini kita belum kesulitan oksigen kan. Masa bodoh dengan hari esok dan dampak lingkungan karena udara terpolusi. Saat ini semuanya yang terpenting adalah barangkali memuaskan segala kenikmatan hidup. Itulah yang sedikit banyak tercermin dari kehidupan kita semua. Terbayangkah apa jadinya kehidupan kita tanpa oksigen? Bila lapisan ozon tadi menipis dan kandungan oksigen semakin berkurang sementara manusianya tambah banyak apa yang terjadi ? bakal sangat mengerikan.

Tidak ada salahnya pemerintah, lagi-lagi pemerintah dan masyarakat luas tentunya segera memberikan perhatian yang besar dengan pengelolaan lingkungan hidup kita utamanya air dan udara. Janganlah kita sudah tahu belaka dampaknya namun kurang peduli. Konon lingkungan hidup, tanah dan air ini merupakan titipan anak cucu, lantas kenapa kita bahkan cenderung merusaknya.

SPBU

Bila kita kebetulan lewat tol Cikampek, Jagorawi atau Cileunyi maka tidak terlampau susah mendapatkan Stasiun Pengisian Bahan Bakar (SPBU). Unit usaha ini terintis sejak puluhan tahun lalu dan umumnya dikelola oleh Pertamina. Bisa dikatakan bahwa SPBU merupakan bentuk usaha yang nyaris tanpa resiko saat itu. Kenapa? Karena memang monopolis dan pasarnya semakin besar. Hampir semua kendaraan di tanah air menggantungkan operasionalnya kepada SPBU. Mustahil kan subuah perusahaan, entah itu konglomerasi atau perusahaan multinasional sekalipun membangun SPBU sendiri. Tetap semuanya dikelola oleh BUMN tersebut. Kalaupun join venture rasanya mesti melibatkan Pertamina.

Saking monopolis dan begitu dibutuhkannya SPBU ini berdampak pelayanan yang terkesan seenaknya. Mulai dari takaran liter yang tidak akurat, kondisi statsiun tidak nyaman maupun saat bensin habis tanpa sosialisasi. Praktis semua kendaraan hanya bisa menerima apapun layanan yang diberikan sang monopolis.

Sudah begitu ketersediaan SPBU belumlah merata di berbagai tempat. Di pulau jawa, sebagai sentral kegiatan ekonomi nasional nampaknya paling banyak SPBU di sepanjang jalan propinsinya. Menyusul di Sumetera, Kalimantan, Sulawesi dan Papua tidak cukup banyaklah ketersediaan statisun pengisian bahan bakar ini. Bahkan bila kita harus bepergian entah itu di pulau Sumatera atau Kalimantan kita harus mengatur di SPBU mana mengisi bensin-nya, atau saat bensin habis kita tidak menemukan SPBU.

Masih segar dalam ingatan kita pada awal tahun 2006 terjadi kenaikan harga BBM yang membuat masyarakat terhenyak. Pemerintah menaikkan harga BBM setara dengan harga internasional sekaligus mencabut subsidi-nya. Lagi-lagi yang bisa dilakukan masyarakat hanyalah menerima dan pasrah. Hebohlah kehidupan social ekonomi masyarakat menyusul kenaikan BBM ratusan persen tersebut.

Berbagai analisis dilontarkan sehubungan kenaikan BBM ini. Ada yang bilang Pemerintah kesulitan anggaran dan terbebani subsidi BBM puluhan triliun, sehingga penghentian subsidi BBM tidak terhindarkan. Ada yang membandingkan bahwa seliter air mineral saja harganya sama atau lebih mahal dari seliter bensin, ini kan tidak lucu. Lontaran lainnya bahwa minyak merupakan sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui sehingga penggunaannya haruslah hemat dan ekonomis, menaikkan harga merupakan salah satu instrument mengatur pemakaian ekonomis.

Salah satu komentar datang dari Jogya, seorang ekonom UGM ~ Revrisond Baswir, yang menganalis bahwa liberalisasi harga minyak terkait dengan rencana masuknya investor minyak sector hilir. Konon bakal banyak investor masuk bila harga minyak sesuai harga global. Tidak lama, menyusul kenaikan BBM mulai bermunculan SPBU asing asal Belanda yakni Shell. Shell membangun beberapa SPBU di lokasi strategis. Berikutnya investor raksasa negeri jiran, Petronas juga masuk dan terjun dalam bisnis eceran BBM ini.

Entah ini dalam prediksi Pertamina atau kejutan, yang jelas segera terjadi perang saling berlomba membangun lebih banyak stasiun pengisian bahan bakar. Memang pemain asing tersebut hanya menjual minyak dengan oktan tinggi atau akrab disebut pertamax plus. Sementara Pertamina masih menguasai produk premium dan solar. Hal ini karena Pertamina unggul dalam distribusi dan logistic ketimbang pesaing yang harus membangun jalur distribusinya sendiri.

Puncaknya adalah ketika Pertamina segera membabat habis sepanjang jalur tol utama yakni Cikampek dengan membangun tidak kurang dari tujuh SPBU besar. Logis sekali mengingat debit kendaraan terbanyak adalah jalur tol ini. Singkatnya fenomena ini setidaknya memberikan masyarakat lebih banyak pilihan pengisian bahan bakar sekaligus peningkatan pelayanan SPBU oleh Pertamina.

Obrolan E-Radio

Kali ini Rafiq dan rekannya membahas masalah ketidakpuasan belanja di supermarket. Banyak supermarket mengobral promo namun sering tidak sesuai dengan praktek. Produk A discount 30% atau produk B beli dua gratis satu dan seterusnya. Rafiq memang tidak persis seperti ini, namun saya tambahkan pengalaman kanan kiri mengenai tingkah polah supermarket. Ternyata produk yang dipromo umumnya barangnya sudah habis. Atau strategi kuno, naikin dulu harga baru didiscount.

Ada juga penyulut kekecewaan konsumen, seperti barang di rak harganya 100 ketika bayar di kasir ternyata 110. Ternyata kenaikan barang tidak dibarengi inventory di lapangan. Konyolnya konsumen harus bayar yang sesuai kasir, nah dongkol kan. Meski dibuka waktu keluhan selama 2 minggu untuk verifikasi harga mana yang benar, tetap hal ini menunjukkan kerja amatiran super market. Masih kata Rafiq, Wall Mart di Amerika memberi contoh hebat. Bila ditemuakn beda harga antara di rak dan di kasir maka konsumen boleh memiliki barang tersebut for free ! Hmm ini baru supermarket.

Berikutnya banyolan menyinggung masalah kecelakaan Adam Air. Rafiq mencontohkan bila ia seorang keluarga korban. Yang dilakukan adalah 2 hari pertama membantu tim lapangan mencari lokasi korban. Naumn, hari berikutnya Rafiq bakal nongkrong di kantor Adam dan akan menuntut untuk mencari lokasi kecelakan sampai ketemu dan membayar ganti rugi dan seterusnya.

Topik-pun mengalir ke topic lain yakni dengan datangnya musin hujan yang telat terutama di Jawa. Dari telepon seorang nara sumber/staf BMG dijelaskan bahwa permukaan laut dingin dan penguapan kurang sehingga tidak cukup uap air untuk menjadi hujan. Hal ini merupakan penyimpangan cuaca dan seterusnya. Namun konon dalam minggu ini hujan bakal segera mulai turun.

Itulah obrolan E-Radio yang nampak tidak terlampau pusing dengan materi yang berat, serius dan sebagainya. Tidak terlampau pusing dengan masalah politis dan sejenisnya. Mereka cukup mebahas secara ringan dan santai berbagai masalah riil di lapangan. Dipandu dengan wawasan penyiar yang luas jadilah channel ini favorit baru per-radio-an.

E-Radio juga bahkan memiliki cabang di berbagai kota. Bisa dikatakan mereka melakukan terobosan baik metode penyiaran maupun materi siaran. Masih belum lupa berbagai Radio berlomba menyiarkan talk show dan sejenisnya. Inipun dilakukan E-Radio namun dengan kemasan yang lebih luwes. Dan tentunya dilibatkan masukan maupun opini dari seluruh pendengar yang akrab disebut E-listeners.

Media memang semestinya menjadi mediator antara masyarakat dengan stakeholdernya. Jadi sebenarnya stakeholder masyarakat itu pan banyak. Hampir seluruh intitusi, bisnis, pemerintah dan bahkan pihak luar negeri merasa berkepentingan dengan yang namanya masyarakat ini. Media yang baik adalah yang menyuarakan kebenaran dan tentunya tetap memegang etika media. Dengan adanya media maka diharapkan segala pernik aspirasi dan hak masyarakat dapat disuarakan dan ditegakkan. Selamat bekerja !!
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog