Responsive Banner design

Video Praktek TOI SMK N 3 Tanjungpinang - 2014

Membalik Arah  Putar Motor Listrik 3 Fhasa Tanpa Henti Secara Otomatis.

Artikel ini merupakan artikel wajib untuk mendapatkan nila dari tugas KKPI. Artikel ini akan membahas tentang praktek dari jurusan Teknik Otomasi Industri yaitu Membalik Arah  Putar Motor Listrik 3 Fhasa Tanpa Henti Secara Otomatis Menggunakan PLC merk Zelio.

Langsung saja mari kita simak Praktek ini :

  • Adapun Komponen atau Bahan yang digunakan dalam Praktek ini adalah :
    • 1 buah Motor Listrik 3 Fasa
    • 1 Buah PLC Merek Zelio
    • 2 Buah Kontaktor
    • MCB 1 Fasa dan 3 Fasa
    • Power Supplay 24V
    • 1 buah Tombol NC dan NO
    • 2 Buah Lampu Sebagai Indikator

    • Dibawah Ini Adalah Gambar Rangkaian PLC, Rangkaian Utama, dan Rangkaian Kontrol :
    Gambar Rangkaian Ladder Diagram PLC

    Gambar Rangkaiaan Kontrol Komponen

    Gambar Rangkaian Utama Membalik Arah Putar Motor

    • Cara kerja dari rangkaiaan ini adalah sebagai berikut :
      • Apabila Tombol ON ditekan
      • Motor Putar kanan sesuai lama timmer settingan PLC
      • Setelah itu, jika timmer PLC habis
      • Motor akan putar kiri secara otomatis sesuai lama timmer settingan PLC
      • Setelah itu motor berulang putar kiri putar kanan secara otomatis sesuai lama timmer
      • Motor tidak akan berhenti berputar sebelum ditekan tombol OFF


    Untuk lebih jelasnya silahkan lihat dari video dibawah ini:



    Jenis, Cara Kerja Dan Kegunaan Relay

    Relay adalah komponen listrik yang bekerja berdasarkan prinsipinduksi medan elektromagnetis. Jika sebuah penghantar dialiri oleh arus listrik, maka di sekitar penghantar  tersebut timbul medan magnet. Medan magnet yang dihasilkan oleh arus listrik tersebut selanjutnya diinduksikan ke logam ferromagnetis.


    Logam ferromagnetis adalah logam yang mudah terinduksi medan elektromagnetis. Ketika ada induksi magnet dari lilitan yang membelit logam, logam tersebut menjadi "magnet buatan" yang sifatnya sementara. Cara ini kerap digunakan untuk membuat magnet non permanen. Sifat kemagnetan pada logam ferromagnetis akan tetap ada selama pada kumparan yang melilitinya teraliri arus listrik. Sebaliknya, sifat kemagnetannya akan hilang jika supply arus listrik ke lilitan diputuskan.





    Penjelasan Gambar:

    1. Amarture, merupakan tuas logam yang bisa naik turun. Tuas akan turun jika tertarik oleh magnet ferromagnetik (elektromagnetik) dan akan kembali naik jika sifat kemagnetan ferromagnetik sudah hilang.
    2. Spring berfungsi sebagai penarik tuas. Ketika sifat kemagnetan ferromagnetik hilang, maka spring berfungsi untuk menarik tuas ke atas.
    3. Shading Coil, ini untuk pengaman arus AC dari listrik PLN yang tersambung dari C (Contact).
    4. NC Contact, NC (Normally Close). Kontak yang secara default terhubung dengan kontak sumber (kontak inti, C) ketika posisi OFF.
    5. NO Contact, NO (Normally Open). Kontak yang akan terhubung dengan kontak sumber (kontak inti, C) ketika posisi ON.
    6. Electromagnet, kabel lilitan yang membelit logam ferromagnetik. Berfungsi sebagai magnet buatan yang sifatya sementara. Menjadi logam magnet ketika lilitan dialiri arus listrik, dan menjadi logam biasa ketika arus listrik diputus.
    7. Aplikasi Rangkaian Pemicu Relay ini adalah rangkaian yang akan memicu relay untuk menjadi ON pada kondisi tertentu. Rangkaian pemicu ini biasanya memiliki sensor atau rangkaian timer (memanfaatkan 'time delay'). Rangkaian yang menggunakan sensor misalnya sensor suhu, sensor air, sensor cahaya, sensorarus, dll. Sedangkan rangkain timer misalnya timer pada mesin cuci,  dll.
    Sebenarnya aplikasi relay banyak sekali. Dari mobil-mobilan, kulkas, lampu sein motor dan mobil, pompa air otomatis, hingga peralatan pada pesat terbang. Dari relay yang jenisnya kecil hingga yang mempunyai daya besar. Dari relai DC 5 volt, 12 volt hingga yang bervoltase tinggi. Keuntungan dari penggunaan relay sendiri adalah:

    • Kita bisa membuat rangkaian switch  otomatis tegangan  AC dan DC
    • Relay bisa digunakan pada tegangan tinggi
    • Relay juga menjadi solusi pada switch dengan arus yang besar
    • Bisa melakukan swith pada banyak kontak dalam waktu yang bersamaan
    Jenis – jenis Relay
    Seperti saklar, relay juga dibedakan berdasar pole dan throw yang dimilikinya.
    • Pole : banyaknya contact yang dimiliki oleh relay 
    • Throw : banyaknya kondisi (state) yang mungkin dimiliki contact 
    Berikut ini penggolongan relay berdasar jumlah pole dan throw :
    • DPST (Double Pole Single Throw)
    • SPST (Single Pole Single Throw)
    • SPDT (Single Pole Double Throw)
    • DPDT (Double Pole Double Throw)
    • 3PDT (Three Pole Double Throw)
    • 4PDT (Four Pole Double Throw)
    Jenis Relay : 
    • Timing relay adalah jenis relay yang khusus. Cara kerjanya ialah sebagai berikut : jka coil dari timing relay ON, maka beberapa detik kemudian, baru contact relay akan ON atau OFF (sesuai jenis NO/NC  contact). 
    • Latching relay ialah jenis relay digunakan untuk latching atau mempertahankan kondisi aktif input   sekalipun input sebenarnya sudah mati. Cara kerjanya ialah sebagai berikut : jika latch coil diaktifkan, ia tidak akan bisa dimatikan kecuali unlatch coil diaktifkan. Simbol dari latching relay 
    Rangkaian dan Simbol Relay 
    Relay dengan contact lebih dari satu
    Relay jenis Single Pole Double Throw (SPDT

    Pengertian Dan Prinsip Kerja SCADA

    SCADA (kependekan dari Supervisory Control And Data Acquisition) adalah sistem kendali industri berbasis komputer yang dipakai untuk pengontrolan suatu proses, seperti:
    • proses industri: manufaktur, pabrik, produksi, generator tenaga listrik.
    • proses infrastruktur: penjernihan air minum dan distribusinya, pengolahan limbah, pipa gas dan minyak, distribusi tenaga listrik, sistem komunikasi yang kompleks, sistem peringatan dini dan sirine
    • proses fasilitas: gedung, bandara, pelabuhan, stasiun ruang angkasa.
    Beberapa contoh lain dari sistem SCADA ini banyak dijumpai di lapangan produksi minyak dan gas (Upstream), Jaringan Listrik Tegangan Tinggi dan Tegangan Menengah (Power Transmission and Distribution) dan beberapa aplikasi yang dipakai untuk memonitor dan mengontrol areal produksi yang cukup luas.
    Suatu sistem SCADA biasanya terdiri dari:
    • antarmuka manusia mesin (Human-Machine Interface)
    • unit terminal jarak jauh yang menghubungkan beberapa sensor pengukuran dalam proses-proses di atas
    • sistem pengawasan berbasis komputer untuk pengumpul data
    • infrastruktur komunikasi yang menghuhungkan unit terminal jarak jauh dengan sistem pengawasan, dan
    • PLC atau Programmable Logic Controller
    Yang dimaksud dengan Supervisory Control atau Master Terminal Unit (MTU) adalah kendali yang dilakukan di atas kendali lokal atau Remote Terminal Unit (RTU), sebagai ilustrasi, pada suatu ladang minyak dan gas (Oil and Gas Field) ada beberapa sumur minyak (Oil Well) yang berproduksi. Hasil minyak mentah (Crude Oil) dari masing-masing sumur produksi tersebut dikumpulkan di stasium pengumpul atau Gathering Station (GS) di mana proses lanjutan terhadap minyak mentah yang terkumpul tersebut dilakukan. Biasanya pada masing-masing sumur minyak produksi terpasang suatu sistem (RTU) yang memonitor dan mengontrol beberapa kondisi dari sumur minyak produksi tersebut. Kendali lokal dilakukan pada masing-masing production well dan supervisory control yang berada di stasiun pengumpul, melakukan control dan monitoring kepada semua production well yang ada di bawah supervisi. Jika salah satu production well mengalami gangguan, dan stasiun pengumpul tetap harus memberikan dengan production rate tertentu, maka supervisory control akan melakukan koordinasi pada production well lainnya agar jumlah produksi bisa tetap dipertahankan.
    Pada umumnya jarak antara RTU dengan MTU cukup jauh sehingga diperlukan media komunikasi antara keduanya. Cara yang paling umum dipakai adalah Komunikasi Radio (Radio Communication) dan Komunikasi Serat Optik (Optical Fiber Communication).
    Pada sistem tenaga listrik, media komunikasi yang dipergunakan adalah Power Line Communication, Radio Data, Serat optik dan kabel pilot. Pemilihan media komunikasi sangat bergantung kepada jarak antar site, media yang telah ada dan penting tidaknya suatu titik ( gardu ).
    Pengaturan sistem tenaga listrik yang komplek, sangat bergantung kepada SCADA. Tanpa adanya sistem SCADA, sistem tenaga listrik dapat diibaratkan seperti seorang pilot membawa kendaraan tanpa adanya alat instrumen dihadapannya. Pengaturan sistem tenaga listrik dapat dilakukan secara manual ataupun otomatis. Pada pengaturan secara manual, operator mengatur pembebanan pembangkit dengan melihat status peralalatan listrik yang mungkin dioperasikan misalnya Circuit Breaker ( CB ), beban suatu pembangkit, beban trafo, beban suatu transmisi atau kabel dan mengubah pembebanan sesuai dengan frekuensi sitem tenaga listrik. Pengaturan secara otomatis dilakukan dengan aplikasi Automatic Generating Control ( AGC ) atau Load Frequency Control ( LFC ) yang mengatur pembebanan pembangkit berdasar setting yang dihitung terhadap simpangan frekuensi.
    Salah satu hal yang penting pada sistem SCADA adalah komunikasi data antara sistem remote ( remote station / RTU ) dengan pusat kendali. Komunikasi pada sistem SCADA mempergunakan protokol khusus, walaupun ada juga protokol umum yang dipergunakan. Protokol yang dipergunakan pada sistem SCADA untuk sistem tenaga listrik diantaranya :
    1. IEC Standar meliputi IEC 60870-5-101 yang berbasis serial komunikasi dan IEC 60870-5-104 yang berbasis komunikasi ethernet.
    2. DNP 3.0
    3. Modbus
    4. Proprietary solution, misalnya KIM LIPI, HNZ, INDACTIC, PROFIBUS dan lain-lain


    Prinsip Kerja SCADA
    Alat otomatis pemulih gangguan serta dapat dilakukan seketika atau menangani gangguan secara langsung (real time) dari jarak jauh, itulah prinsip kerja SCADA. SCADA mengumpulkan data yang diperoleh dari RTU (remote terminal unit) pada MTU (master terminal unit) dan mengeksekusi perintah terhadap sistem yang sedang berjalan tersebut. sesuai dengan prinsip kerja tersebut, maka terdapat dua elemen penting yang berperan dalam SCADA, yaitu:
    • Terdapat proses sistem atau mesin yang dipantau.
    • Adanya jaringan peralatan HMI (human machine interface) ke sistem melalui sensor ataupun luaran kontrol.
    Dilihat dari karakteristik sistem kontrolnya, sistem SCADA terbagi menjadi dua, yaitu open loop(komunikasi jarak jauh) dan closed loop (komunikasi jarak dekat). Perbedaan diantara keduanya hanyalah alat komunikasi yang digunakan, dimana pada sistem kontrol open loop, sistem SCADA menggunakan jaringan WAN (wireless area network) dengan dilengkapi sistem radio (pengirim dan penerima sinyal) untuk ribuan I/O dan pengontrolan bisa dilakukan dengan jarak ribuan kilometer.

    Untuk closed loop, sistemnya mirip dengan DCS (distributed control system), dimana sistem ini merupakan sistem atau unit pengumpul dan kontrol data yang biasanya ditempatkan pada area terbatas dan sistem komunikasi yang digunakan oleh DCS berupa LAN (local area network).

    Sistem SCADA sangat bergantung dari jumlah RTU dalam hal mengumpulkan data dan mengirimkan data tersebut kembali ke pusat menggunakan sistem komunikasi pada pusat utama. Ketepatan dan efisiensi waktu dapat memungkinkan proses dan pengoperasian di industri menjadi optimal. hal lainnya yang dapat diperoleh adalah efisiensi pekerjaan data yang realible dan yang paling penting adalah pengoperasiannya dapat dilakukan dengan aman.

    RTU menyediakan informasi secara otomatis dengan menggunakan sensor analog atau digital pada setiap jaringan pengontrolan. Sistem komuniksi menyediakan jalur data untuk komunikasi antara pegumpul utama dengan jaringan pengontrolan. Sistem komunikasi ini dapat berupa kabel, fiber optik, radio, saluran telepon, microwave, dan bahkan sampai satellite. Unit pegumpul data mengumpulkan data dari berbagai macam RTU dan selanjutnya menghasilkan hubungan secara otomasi dengan operator. Proses pengolahan data yang terjadi pada sistem SCADA dilihat dari 3 hal, yaitu komunikasi, penyajian, dan pengontrolan data.

    Komunikasi Data
    Pada awalnya SCADA melakukan komunikasi data melalui radio modem atau jalur kebel serial khusus (saat ini data-data SCADA dapat disalurkan melalui jaringan ethernet atau TCP / IP). Untuk alasan keamanan, jaringan komputer untuk SCADA adalah jaringan komputer lokal (LAN) tanpa harus mengekspose data-data penting di internet.
    Komunikasi data diatur melalui suatu protokol, dan karena kebanyakan sensor dan kontrol hanyalah peralatan listrik yang sederhana (alat-alat tersebut tidak dapat menghasilkan / menerjemahkan protokol komunikasi) dengan demikian dibutuhkan RTU yang menjebatani antara sensor dan jaringan SCADA. RTU mengubah masukan-masukan sensor ke format protokol yang bersangkutan dan mengirimkan ke master SCADA. Selain itu RTU juga menerima perintah dalam format protokol dan memberikan sinyal listrik yang sesuai ke relay kontrol yang bersangkutan.

    Penyajian Data
    Sistem SCADA melakukan pelaporan status berbagai macam sensor (baik analog maupun digital) melalui sebuah komputer khusus yang sudah di buatkan HMI-nya atau HCI-nya (human computer interface). Akses ke kontrol ini bisa dilakukan secara lokal maupun melalui website bahkan saat ini sudah tersedia panel-panel kontrol yang touch screen.

    Kontrol Data
    Pada pengontrolan data dilakukan pada satu tempat utama. semua pengontrolan yang terjadi pada sebuah perusahaan dapat ditambahkan pada satu sistem SCADA terpusat. Artinya kita dapat melakukan semuapengontrolan pada perusaahn dengan sistem HMI yang ada pada sebuah sistem komputer secara penuh. Bahkan dengan sistem SCADA yang canggih (hampir semua produk perangkat lunak / software SCADA saat ini sudah canggih) bisa dilakukan otomasi proses tanpa harus melibatkan campur tangan manusia, tapi tentu saja kita masih bisa secara manual mengontrolnya dari master stasiun. Tentunya dengan bantuan sistem SCADA, proses yang terjadi pada sebuah perusahaan  industri bisa lebih efektif, efisien, dan meningkatkan profit perusahaan.

    Komponen Instalasi Listrik Rumah Tinggal

    Kebanyakan kita belum mengetahui komponen pada jaringan instalasi listrik yang terpasang di rumah kita apa saja dan fungsinya, hanya sebagian saja kita mengetahuinya seperti kWhmeter, Stop Kontak, colokan listrik, dll. Untuk itu mari kita berkenalan dengan komponen/alat-alat itu. Cekidot !!!
     
    1. BARGAINSER
    Bargainser merupakan alat yang berfungsi sebagai pembatas daya listrik yang masuk ke rumah tinggal, sekaligus juga berfungsi sebagai pengukur jumlah daya listrik yang digunakan rumah tinggal tersebut (dalam satuan kWh). Ada berbagai batasan daya yang dikeluarkan oleh PLN untuk konsumsi rumah tinggal, yaitu 220 VA, 450 VA, 900 VA, 1.300 VA, dan 2.200 VA.

    Pada bargainser terdapat tiga bagian utama, yaitu:
    • MCB atau Miniature Circuit Breaker, berfungsi untuk memutuskan aliran daya listrik secara otomatis jika daya yang dihantarkan melebihi nilai batasannya. MCB ini bersifat on/off dan dapat juga berfungsi sebagai sakelar utama dalam rumah. Jika MCB bargainser ini dalam kondisi off, maka seluruh aliran listrik dalam rumah pun terhenti. Sakelar ini biasanya dimatikan pada saat akan dilakukan perbaikan instalasi listrik dirumah.
    • Meter listrik atau kWh meter, alat ini berfungsi untuk mengukur besaran daya yang digunakan oleh rumah tinggal tersebut dalam satuan kWh (kilowatt hour). Pada bargainser, meter listrik berwujud deretan angka secara analog ataupun digital yang akan berubah sesuai penggunaan daya listrik.
    • Spin Control, merupakan alat kontrol penggunaan daya dalam rumah tinggal dan akan selalu berputar selama ada daya listrik yang digunakan. Perputaran spin control ini akan semakain cepat jika daya listrik yang digunakan semakin besar, dan akan melambat jika daya listrik yang digunakan berkurang/sedikit.
    Pada kanal output Bargainser biasanya terdapat 3 kabel, yaitu kabel fasa, kabel netral dan kabel ground yang dihubungkan ketanah. Listrik dari PLN harus dihubungkan dengan bargainser terlebih dahulu sebelum masuk ke instalasi listrik rumah tinggal.

    2. PENGAMAN LISTRIK
    Instalasi listrik rumah tinggal pun membutuhkan pengaman yang berfungsi untuk memutuskan rangkaian listrik apabila terjadi gangguan pada instalasi listrik rumah tinggal tersebut, seperti gangguan hubung singkat atau short circuit atau korsleting.

    Terdapat dua jenis pengaman listrik pada instalasi listrik rumah tinggal, yaitu:
    • Pengaman lebur biasa atau biasa disebut sekering, alat pengaman ini bekerja memutuskan rangkaian listrik dengan cara meleburkan kawat yang ditempatkan pada suatu tabung apabila kawat tersebut dialairi arus listrik dengan ukuran tertentu.
    • Pengaman listrik thermis, biasa disebut MCB dan merupakan alat pengaman yang akan memutuskan rangkaian listrik berdasarkan panas .

    3. SAKELAR
    Sakelar atau switch merupakan komponen instalasi listrik yang berfungsi untuk menyambung atau memutus aliran listrik pada suatu pemghantar.


    Berdasarkan besarnya tegangan, sakelar dapat dibedakan menjadi:
    • Sakelar bertegangan rendah.
    • Sakelar tegangan menengah.
    • Sakelar tegangan tinggi serta sangat tinggi.

    Sedangkan berdasarkan tempat dan pemasangannya, sakelar dapat dibedakan menjadi :
    • Sakelar in-bow, sakelar yang ditanam didalam tembok.
    • Sakelar out-bow, sakelar yang dipasang pada permukaan tembok.

    Jenis sakelar berikutnya dapat dibedakan berdasarkan fungsinya, yaitu:
    • Sakelar on-off, merupakan sakelar yang bekerja menghubungkan arus listrik jika tombolnya ditekan pada posisi on. Untuk memutuskan hubungan arus listrik, tombol sakelar harus ditekan pada posisi off. Sakelar jenis ini biasanya digunakan untuk sakelar lampu.
    • Sakelar push-on, merupakan sakelar yang menghubungkan arus listrik jika tombolnya ditekan pada posisi on dan akan secara otomatis memutus arus listrik, ketika tombolnya dilepas dan kembali ke posisi off dengan sendirinya. Biasanya sakelar jenis ini digunakan untuk sakelar bel rumah.

    Berdasarkan jenis per-unitnya, sakelar dapat dibedakan menjadi dua jenis, yaitu:
    • Sakelar tunggal, merupakan sakelar yang hanya mempunyai satu buah kanal input yang terhubung dengan sumber listrik, serta kanal output yang terhubung dengan beban listrik/alat listrik yang digunakan.
    •  Sakelar majemuk, merupakan sakelar yang memiliki satu buah kanal input yang terhubung dengan sumber listrik, namun memiliki banyak kanal output yang terhubung dengan beberapa beban/alat listrik yang digunakan. Jumlah kanal output tergantung dari jumlah tombol pada sakelar tersebut.

    4. STOP KONTAK
    Stop kontak, sebagian mengatakan outlet, merupakan komponen listrik yang berfungsi sebagi muara hubungan antara alat listrik dengan aliran listrik. Agar alat listrik terhubung dengan stop kontak, maka diperlukan kabel dan steker atau colokan yang nantinya akan ditancapkan pada stop kontak.

    Berdasarkan bentuk serta fungsinya, stop kontak dibedakan menjadi dua macam, yaitu:
    •  Stop kontak kecil, merupakan stop kontak dengan dua lubang (kanal) yang berfungsi untuk menyalurkan listrik pada daya rendah ke alat-alat listrik melalui steker yang juga berjenis kecil.
    • Stop kontak besar, juga nerupakan stop kontak dengan dua kanal AC yang dilengkapi dengan lempeng logam pada sisi atas dan bawah kanal AC yang berfungsi sebagai ground.sakelar jenis ini biasanya digunakan untuk daya yang lebih besar.

    Sedangkan berdasarkan tempat pemasangannya. Dikenal dua jenis stop kontak, yaitu:
    • Stop kontak in bow, merupakan stop kontak yang dipasang didalam tembok.
    • Stop kontak out bow, yang dipasang diluar tembok atau hanya diletakkan dipermukaan tembok pada saat berfungsi sebagai stop kontak portable.

    5. STEKER
    Steker atau Staker atau yang kadang sering disebut colokan listrik, karena memang berupa dua buah colokan berbahan logam dan merupakan alat listrik yang yang berfungsi untuk menghubungkan alat listrik dengan aliran listrik, ditancapkan pada kanal stop kontak sehingga alat listrik tersebut dapat digunakan.

    Berdasarkan fungsi dan bentuknya, steker juga memliki dua jenis, yaitu:
    v Steker kecil, merupakan steker yang digunakan untuk menyambung alat-alat listrik berdaya rendah, misalnya lampu atau radio kecil, dengan sumber listrik atau stop kontak.
    v Steker besar, merupakan steker yang digunakan untuk alat-alat listrik yang berdaya besar, misalnya lemari es, microwave, mesin cuci dan lainnya, dengan sumber listrik atau stop kontak. Steker jenis ini dilengkapi dengan lempeng logam untuk kanal ground yang berfungsi sebagai pengaman.

    6. KABEL
    Kabel listrik merupakan komponen listrik yang berfungsi untuk menghantarkan energi listrik ke sumber-sumber beban listrik atau alat-alat listrik.

    Untuk instalasi listrik rumah tinggal, kabel yang digunakan biasanya berjenis sebagai berikut:
    • NYA, kabel jenis ini merupakan kabel listrik yang berisolasi PVC dan berintikan/berisi satu kawat. Jenisnya adalah kabel udara atau tidak ditanam dalam tanah. Kabel listrik ini biasanya berwarna merah, hitam, kuning atau biru. Isolasi kawat penghantarnya hanya satu lapis, sehingga tidak cukup kuat terhadap gesekan, gencetan/tekanan atau gigitan binatang seperti tikus. Karena kelemahan pada isolasinya tersebut maka dalam pemasangannya diperlukan pelapis luar dengan menggunakan pipa conduit dari PVC atau besi.
    • NYM, merupakan kabel listrik yang berisolasi PVC dan berintikan kawat lebih dari satu, ada yang 2, 3 atau 4. Jenis kabel udara dengan warna isolasi luar biasanya putih dan warna isolasi bagian dalam beragam, karena isolasi yang rangkap inilah maka kabel listrik NYM ini relative lebih kuat terhadap gesekan atau gencetan/tekanan.
    • NYY, kabel listrik jenis ini merupakan kabel berisolasi PVC, berintikan 2, 3 atau 4 dengan warna isolasi luarnya hitam. Jenis kabel tanah, sehingga tahan terhadap air dan gencetan atau tekanan.
    • NYMHYO, kabel jenis ini merupakan kabel serabut dengan dua buah inti yang terdiri dari dua warna. Kabel jenis ini biasa digunakan pada loudspeaker, sound sistem, lampu-lampu berdaya kecil sampai sedang.

    Demikianlah sedikit penjelasan dari komponen-komponen instalasi listrik di rumah tinggal. Perkembangan teknologi yang semakin canggih dan modern menjadikan berkembangnya bentuk-bentuk yang lebih bervariasi dari komponen-komponen saat ini dengan tingkat kwalitas bahan, safety dan efisiensi menjadi lebih mutakhir.

    Macam-macam Contoh Sederhana Ladder Diagram PLC

    1. Program Ladder Diagram Menjalankan Motor Listrik Secara Langsung (DOL)


    2. Program Ladder Diagram Menjalaan Motor Listrik Dari Dua Tempat


    3. Program Ladder Diagram Menjalankan Motor 3 Fasa Putar Kanan Putar Kiri (Maju Mundur) Secara Otomatis


    4. Program Ladder Diagram Menjalankan Motor 3 Fasa Hubungan Bintang-Sigitiga (Star-Delta) Secara Otomatis


    5. Program Ladder Diagram Menjalankan 3 Buah Motor Listrik yang Bekerja Berurutan Secara Otomatis


    6. Program Ladder Diagram Menjalankan 3 Buah Motor Listrik yang Bekerja Bergantian Secara Otomatis

    Pemrograman PLC

    Pemrograman PLC yaitu cara untuk memprogram PLC agar plc mengerti logika yang diinginkan oleh penyusun/pembuat logika tersebut. Dari awal mula pembuatan plc, masing-masing produsen memiliki cara sendiri dalam pemrograman PLC tapi secara garis besar hanya ada dua jenis pemrograman PLC.

    1. Bahasa Tekstual
    Menggunakan teks dalam pemrograman PLC, dibagi menjadi dua metode yaitu :
    1. Daftar instruksi.
    2. Teks terstruktur.
    2. Bahasa Grafis
    Menggunakan gambar grafis dalam pemrograman PLC. Bahasa ini lebih umum digunakan terutama oleh saya sebagai pemula J. Bahasa ini dibagi menjadi dua metode yaitu
    1. Diagram Tangga/ladder diagram.
    2. Diagram Blok.
    Scan Time dan Operasi Pembacaan
    Waktu yang diperlukan untuk membaca input, mengeksekusi programa, update output dinamakan dengan scan time. Scan time mengindikasikan seberapa cepat controller bisa bereaksi terhadap input dan menyelesaika kontrol logika. Scan time sangat dipengaruhi oleh oleh kecepatan prosesor (CPU) dan panjang program user misalnya ladder. Panjang program user mempengaruhi scan time karena hal ini berkaitan dengan operasi pembacaan.
    Selama masukan dibaca, terminal- teminal masukan dibaca dan dimasukkan dalam tabel status masukan yang di update secara bertahap menurut urutan pembacaan masukan. Selama proses pembacaan program, data yang dibaca dan masukan dalam tabel status masukan kemudian diterjemahkan pada pengguna program. Saat program dieksekusi, tabel status keluaran di update secara cepat sesuai dengan perubahan.
    Ketika terjadi proses pembacaan, data yang terkumpul dalam tabel status keluaran dipindahkan ke terminal-terminal keluaran. Proses pembacaan suatu program ada dua macam, yaitu dari kiri ke kanan pada tiap rung (network) dan dari rung paling atas sampai rung paling bawah.
    Ilustrasi Proses Beberapa Eksekusi Relay pada Diagram Tangga.

    Metode Pengukuran

    Untuk mengetahui jalur yang putus dari suatu rangkaian diperlukan suatu alat ukur yang disebut AVOMeter, dengan menggunakan AVOMeter kita dapat mengetahui baik tidaknya suatu jalur menggunakan fasilitas pengukuran Ohm “?”. 
     
    Dalam penganalisaan jalur diperlukan sumber arus listrik yang akan diberikan kepada jalur tersebut. Perlu anda ketahui bahwa didalam AVOMeter sudah terdapat sumber arus yang berasal dari sebuah battery yang telah dipasang didalam AVOMeter, sehingga pada waktu pengukuran tegangan battrey ini akan mengalir pada rangkaian yang diukur, walaupun hanya dapat memberikan arus yang sangat rendah. 
     
    Untuk menganalisa kerusakan jalur pada suatu rangkaian dapat dilakukan dengan dua cara, pertama pengukuran secara pararel dan pengukuran secara seri. Pada prinsipnya pengukuran tersebut sama saja, akan tetapi akan lebih akurat bila dilakukan dengan dua cara tersebut. Agar dapat lebih dipahami lagi ikuti keterangan dibawah ini:
     
    Teknik Pengukuran Pararel
     
    Pada prinsipnya pengukuran resistansi atau tahanan adalah mengukur besaran arus yang akan mengalir pada suatu rangkaian, maka bila disaat pengukuran terdapat suatu jalur yang tidak mempunyai nilai resistansi (Jarum AVO Meter tidak bergerak sedikitpun) atau short (Jarum AVO Meter bergerak penuh ke arah kanan / 0 ohm), besar kemungkinan tidak akan ada arus listrik yang dapat mengalir dari jalur tersebut. Akan tetapi bila terdapat nilai resistansi yang kecil (Jarum AVO Meter akan bergerak lebih jauh ke arah kanan) maka arus yang akan mengalir pada jalur tersebut sangat besar. Bila nilai resistansinya besar (Jarum AVO Meter hanya bergerak sedikit saja ke arah kanan) maka makin kecil arus yang akan mengalir pada rangkaian tersebut. Akan tetapi bila AVO-Meter tidak menunjukan nilai Resistansi (Jarum tidak bergerak sedikitpun) maka tidak terdapat arus yang mengalir pada jalur tersebut. 
     
    Belum tentu bila dalam pengukuran tersebut tidak menujukan nilai resistansi maka dapat dipastikan jalurnya yang putus, bisa saja tidak terdapat arus yang disebabkan karena terdapat komponen yang bermasalah, mungkin rusak atau hubungannya tidak baik. Oleh karena itu cara pengukuran pararel dapat dilakukan juga untuk menganalisa kerusakan pada suatu komponen atau rangkaian.
     
    Teknik Pengukuran Seri
     
    Bila hasil pengukuran pararel menunjukan bahwa jalur tersebut tidak mempunyai arus, sebaiknya anda jangan dulu mengambil kepastian bahwa jalur tersebut putus, anda dapat meyakinkannya dengan cara pengukuran secara seri, cara ini membutuhkan skema diagram untuk mengetahui komponen yang akan dilalui oleh setiap jalurnya, pada prakteknya anda akan mengukur satu persatu disetiap komponen yang akan dilalui oleh jalur tersebut.
     
    Berbeda dengan metoda pengukuran pararel, dimana AVO-Meter akan menunjukan nilai resistansinya. Sedangkan metoda pengukuran seri dilakukan untuk mengetahui terhubung atau tidaknya suatu jalur. Bila hasil pengukuran menunjukan suatu nilai resistansi (tahanan) maka jalur tersebut tidak terhubung dengan baik, apalagi bila hasil pengukuran AVO-Meter tidak bergerak sedikitpun dipastikan jalur tersebut telah putus. Jalur tersebut normal bila jarum avometer menunjukan “0 Ohm” ( Jarum AVO-Meter bergerak penuh ke arah kanan).

    Diberdayakan oleh Blogger.

    Arsip Blog