Responsive Banner design

Telekomunikasi, Media dan Teknologi, Group Bakrie Alokasikan Rp 5 Triliun



Jakarta, 31 Maret 2010 - Anindya Novyan Bakrie, Presiden Direktur PT Bakrie Telecom Tbk (BTEL), hari ini mengumumkan visi Bakrie Telecom, Media and Technology (BakrieTMT2015) yang akan mensinergikan lini bisnis telekomunikasi (BTEL), media (VIVA Group) dan teknologi (BConn dan BNET) sampai dengan tahun 2015. Total investasi yang disiapkan mulai tahun ini sampai dengan 2015 adalah Rp5 triliun.



Dari alokasi tersebut, Rp 100 miliar akan dialokasikan mulai tahun ini untuk pemberdayaan pengusaha baru telematika di seluruh Indonesia. "Konsumen telematika di Indonesia merupakan salah satu yang paling tumbuh dan paling dinamis di dunia. Buktinya Indonesia selalu menjadi salah satu pasar terbesar untuk hampir setiap perusahaan teknologi dan internet terkemuka dunia. Ini perlu dimanfaatkan supaya konsumen telematika Indonesia bisa mulai beralih menjadi technopreneur seperti layaknya Google, Facebook dan sebagainya dalam tiga sampai lima tahun ke depan," kata Anindya Bakrie.





Menurut Anindya, visi BakrieTMT2015 sangat relevan karena tren industri telematika nasional cukup jelas yaitu koneksivitas berbasis internet khususnya untuk keperluan berkomunikasi, memperoleh hiburan yang berkualitas dan meningkatkan produktivitas. Lebih lanjut Anindya memaparkan syarat utama tercapainya visi BakrieTMT2015 adalah mobilitas penuh dan konvergensi penuh. Program BTEL 2.0 yang diluncurkan hari ini merupakan langkah konkrit awal menuju konvergensi penuh antara telekomunikasi, media dan teknologi sampai dengan tahun 2015.



Dibandingkan dengan lima tahun sebelumnya BTEL hanya menyediakan layanan suara dan SMS melalui Esia dengan 13 juta pelanggan. Sedangkan dengan peluncuran Affordable Hyperspeed Access (AHA) tahun lalu, saat ini BTEL sudah memiliki layanan telekomunikasi berbasis internet dengan peningkatan 150 ribu pelanggan baru sejak diluncurkan sejak 9 bulan lalu.



Selain memberikan layanan telekomunikasi suara, SMS, koneksi internet, BTEL juga telah meluncurkan gaming phone pertama di dunia yang memiliki 30 macam game. BTEL juga akan meluncurkan beragam perangkat telematika modern dengan harga yang paling terjangkau yang juga merupakan produk BTEL sendiri.



Bakrie Telecom adalah satu-satunya operator telekomunikasi di Indonesia yang juga mengembangkan perangkat (devices) miliknya sendiri.



"Ada lima alasan kami meluncurkan visi Bakrie TMT2015. Pertama, kami adalah satu-satunya kelompok usaha yang mengelola telekomunikasi, media dan teknologi secara bersamaan. Kedua, BTEL memiliki keunikan sebagai layanan telekomunikasi dan internet terbaik dan paling terjangkau di Indonesia. Ketiga, aplikasi lisensi selular mudah mudahan akan segera disetujui oleh Pemerintah, sehingga BTEL resmi menjadi perusahaan telekomunikasi selular terlengkap di Indonesia dengan mobilitas penuh. Keempat, BTEL telah berinvestasi sebesar US$400 juta dalam dua tahun terakhir untuk persiapan peluncuran program BTEL 2.0 ini, dan kelima karena kami sudah menjadi rekan dari dua raksasa teknologi dunia yaitu Google dan Electronic Arts," tambah Anindya.



Di tahun 2009 - 2010, Bakrie Telecom menginvestasikan US$400 juta untuk ekspansi kapasitas dan pengembangan teknologi broadband yang akan meningkatkan pendapatan dua kali lipat pada tahun 2015.



Laporan keuangan BTEL 2010 mencatat peningkatan pendapatan dari Rp 3.435,6 miliar menjadi Rp 3.447,1 miliar, dan laba Rp 10,0 miliar dari Rp 98,4 miliar tahun 2009 akibat pembayaran beban bunga dan depresiasi yang melonjak berbarengan dengan investasi untuk persiapan BTEL 2.0. Namun BTEL juga mencatat pembayaran utang sindikasi sebesar US$ 145 juta yang seharusnya jatuh tempo pada 2012 untuk memperbaiki struktur permodalan.



Hasilnya adalah kinerja operasional yang lebih baik dengan peningkatan pangsa pasar pendapatan BTEL di kategori fixed wireless access (FWA) menjadi 55 persen di tahun 2010, dan kinerja saham BTEL yang meningkat 573 persen selama Januari 2009 - Maret 2011, lebih dari dua kali lipat peningkatan IHSG. Bila ditambah dengan lisensi selular, maka BTEL akan memasuki pangsa pasar seluler yang jauh lebih besar yaitu mencapai Rp 83 triliun, terutama dibanding FWA yang hanya Rp 6.6 triliun.



"Ketika BTEL telah menjadi operator selular, BTEL akan menjadi satu-satunya perusahaan telekomunikasi dengan sinergi menyeluruh antara koneksi telepon dan internet, infrastruktur, konten, dan devices dalam satu atap. Hal ini penting karena kami yakin tidak lama lagi, sebagian besar dari aktivitas konsumen di Indonesia akan dilakukan melalui telepon genggamnya," tegas Anin



Menurutnya dengan investasi yang cukup besar pada tahun 2009 dan 2010, 40 persen pendapatan BTEL ke depannya akan didominasi oleh data. Transisi dari suara ke data sangat sesuai dengan tren konsumen di Indonesia yang semakin menggunakan telepon genggam tidak hanya untuk berkomunikasi tapi juga untuk bekerja, belajar, mencari hiburan bahkan untuk berbelanja.



"Untuk itulah Grup kami mengalokasikan dana inkubasi Rp100 miliar yang mulai diluncurkan tahun ini agar semakin banyak aplikasi buatan technopreneur lokal yang bisa dipasarkan melalui jaringan BTEL," tegas Anin.



Program inkubasi untuk pengusaha baru telematika diharapkan menjadi salah satu pilar utama dalam menunjang visi BakrieTMT2015. Khususnya dalam menambah jumlah ragam dan kualitas konten, sambil memberdayakan potensi industri telematika nasional.









Nissan



Nissan berdiri tahun 1914 dengan nama Datsun. Nissan adalah produsen mobil internasional yang bermarkas di Tokyo, Jepang. Nissan merupakan pabrikan tiga besar di Jepang, sebagaimana pesaing istilah big three di Amerika saat itu yakni GM, Chrysler, & Ford. Tahun 1999 Nissan membentuk aliansi dengan Renault SA, Prancis yang memiliki 44.4% saham Nissan pada tahun selanjutnya yakni 2008. Nissan juga mengeluarkan merek mewahnya yakni Infiniti. Mesin Nissan VQ dengan configurasi V6 merupakan satu dari 10 mesin terbaik selama 14 tahun. Untuk truk dan bus diesel merupakan perusahaan yang terpisah dari Nissan Motor.



Nama Nissan pertama kali digunakan pada tahun 1930 yang merupakan singkatan yang digunakan pada pasar saham Tokyo bagi Nippon Sangyo. Nippon Sangyo didirikan oleh Yoshisuke Aikawa pada 1928. Perusahaan ini merupakan gabungan Nissan yang terkenal termasuk Tobata Casting dan Hitachi. Saat itu Nissan mengendalikan bisnis komponen kendaraan, namun Aikawa tidak masuk produksi mobil sampai tahun 1933.



Tahun 1934 Aikawa memisahkan divisi mobil Tobata Casting sebagai Nissan Motor. Pada saat itu Nissan Motor dimiliki oleh Nippon Sangyo dan Hitachi. Nissan membuat truk, pesawat terbang dan mesin untuk militer Jepang. Pabrik utamanya sempat dipindahkan ke China ketika Jepang masuk China. Pabrik Nissan membuat mesin untuk perang Jepang sampai dikalahkan oleh Amerikan dan Rusia. Selama 2 tahun perusahaan juga dikenal dengan nama Nissan Heavy Industries Corp.



Kepemimpinan dari Nissan bisa disebutkan berikut ;

• 1933-1939 Yoshisuke Aikawa

• 1939-1942 Masasuke Murakami

• 1942-1944 Genshichi Asahara

• 1944-1945 Haruto Kudo

• 1945 Takeshi Murayama

• 1945-1947 Souji Yamamoto

• 1947-1951 Taichi Minoura

• 1951-1957 Genshichi Asahara

• 1957-1973 Katsuji Kawamata

• 1973-1977 Tadahiro Iwakoshi

• 1977-1985 Takashi Ishihara

• 1985-1992 Yutaka Kume

• 1992-1996 Yoshifume Tsuji

• 1996-2000 Yoshikazu Hanawa

• 2000-present Carlos Ghosn

Sampai saat ini Nissan sudah merambah secara global di 13 pabriknya hanya di Jepang, ditambah Brazil, Indonesia, Iran, Malaysia, Mexico, Phillipine, Afsel, Spanyol, Thailand, Taiwan, Inggris, dan Amerika.



Adapun keseluruhan produk dari Nissan adalah ;

• Nissan 350Z

• Nissan 370Z

• Nissan Actic Concept

• Nissan alpha T

• Nissan Altima

• Nissan Altima Hybrid

• Nissan Amenio Concept

• Nissan Armada

• Nissan Azeal

• Nissan Bevel Concept

• Nissan Crossbow Concept

• Nissan Cube

• Nissan Dunehawk Concept

• Nissan EA2 Concept

• Nissan Evalia

• Nissan Foria Concept

• Nissan Forum Concept

• Nissan Frontier

• Nissan Fuga

• Nissan GT-R

• Nissan Ideo

• Nissan Intima Concept

• Nissan Jikoo Concept

• Nissan Juke

• Nissan Kix

• Nissan Land Glider Concept

• Nissan Leaf Future!

• Nissan Livina C-Gear

• Nissan Los

• Nissan March

• Nissan Maxima

• Nissan Micra Color Concept

• Nissan Mixim Concept

• Nissan mm Concept

• Nissan Murano

• Nissan Nails Concept

• Nissan Navara Aventura

• Nissan NISMO 370Z

• Nissan Note

• Nissan Nuvu Concept

• Nissan NV

• Nissan NV200 Concept

• Nissan NV2500 Concept

• Nissan Pathfinder

• Nissan Patrol

• Nissan Pivo Concept

• Nissan Pixo

• Nissan Qashqai

• Nissan Qazana Concept

• Nissan Quest

• Nissan Redigo Concept

• Nissan Rogue

• Nissan Roox

• Nissan Sentra

• Nissan Serenity Crossover Concept

• Nissan Silvia

• Nissan Sport Concept

• Nissan Teana

• Nissan Titan

• Nissan Truck

• Nissan Urge Concept

• Nissan Van

• Nissan Versa

• Nissan X-Trail

• Nissan Xterra

• Nissan XVL

• Nissan Yanya Concept

• Nissan Z Highboy

Sekedar menyebut produknya Nissan membuat GTR Skyline yang merupakan mobil tercepat di Jepang, bahkan lebih cepat dari sebagian supercar buatan Eropa dan Amerika. GTR juga dibuat dengan harga yang relative murah ketimbang pesaingnya dari benua Eropa, namun dengan performance yang tidak kalah hebat. Nissan Infiniti juga merupakan produk Nissan di segment mobil mewah yang sering mendapat penghargaan dari JD Power karena kualitasnya yang handal.



Di tanah air, banyak yang mengakui kehebatan dari Datsun, baik yang model pick up maupun sedan. Untuk model terkini di tanah air Nissan Livina menyabet sebagai best car versi Autobild tahun 2008. sementara produk lainnya Nissan Xtrail merupakan best SUV di Jepang, dan pesaing tangguh Honda CRV. Sementara dari kelas medium SUV tampil Nissan Terrano yang sangat handal dan mampu melibas jalanan jelek serta banjir. Tidak heran era Jakarta diterjang banjir tahun 2004 Terrano habis dan ludes diborong guna menghadapi jalanan yang banjir. Dengan ground clearance 250 mm, memang menunjukkna Terran sebagai kendaraan tangguh segala medan. Hanya disayangkan Nissan Terrano hanya masuk dalam versi 4 x 2, dan tidak memasukkan yang 4 x4 maupun versi Dieselnya.



500 HP Esia Gratis untuk Pemberdayaan Masyarakat


Usaha Bersama ESIA - Jakarta, 25 Maret 2010. Bakrie Telecom semakin giat mengembangkan Uber Esia (Usaha Bersama Esia) untuk menciptakan kemandirian di masyarakat. Upaya ini ditandai dengan diberikannya 500 Hape Esia gratis sebagai donasi kepada masyarakat yang terpilih menjadi VPO (Village Phone Operator) di wilayah Tangerang, Banten. (kiri ke kanan) Deputi Presdir Huawei Indonesia, Li Wen Zhi, dan Sean deWitt dari Grameen Foundation, mendampingi Presiden Direktur Bakrie Telecom, Anindya N. Bakrie saat kegiatan donasi hape dan pencanangan Rumah Isi Ulang ESIA di Desa Rancamalang, Banten, hari ini. [photo by Ullil/BTELPR]

Jakarta, 25 Maret 2010 – Bakrie Telecom semakin giat dalam mengembangkan Uber Esia (Usaha Bersama Esia) untuk menciptakan kemandirian di masyarakat pinggiran kota. Upaya ini ditandai dengan diberikannya 500 Hape Esia gratis sebagai donasi PT Huawei Tech Investment kepada masyarakat yang terpilih menjadi VPO (Village Phone Operator) melalui PT RUMA (Rekan Usaha Mikro Anda) di wilayah Tanggerang, Banten. Lembaga ini merupakan social entreprise Indonesia yang ditunjuk oleh Grameen Foundation.

Uber Esia sendiri merupakan program kolaborasi Bakrie Telecom, Grameen Foundation dan Qualcomm Inc yang bertujuan untuk dapat memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakat pinggiran dengan menyediakan sarana telekomunikasi sebagai modal usaha kecil mereka di bidang telekomunikasi. Jenis usaha yang dilakukan adalah wartel dan isi ulang elektronik, dimana masyarakat yang menjalankan usaha tersebut mendapatkan dukungan dan bimbingan dari PT RUMA.

Meskipun Uber Esia memiliki dimensi sosial, namun Bakrie Telecom dan Grameen Foundation tetap membangun suatu model bisnis yang memperhitungkan kelanjutan usaha. Sebuah perubahan paradigma CSR (Corporate Social Responsibility) dengan membangun upaya kemandirian masyarakat melalui upaya peningkatan standar hidup yang berkelanjutan. Diharapkan model bisnis ini menjadi terobosan untuk menciptakan kesempatan usaha bagi masyarakat berpendapatan terbatas namun sekaligus memberikan ruang pertumbuhan bagi perusahaan berupa perluasan segmen pelanggan.

Keberadaan program Uber Esia ini menepis anggapan bahwa berbisnis di kalangan masyarakat dengan pendapatan terbatas tidak memiliki kelayakan usaha. “Sejak kami memulai upaya ini dari tahap perobaan hingga perkenalannya secara resmi di bulan Oktober 2009, perkembangan jumlah peminatnya luar biasa. Jumlahnya tumbuh dari 130 hingga 1600 VPO dan melayani lebih dari 100 ribu pelanggan dalam waktu hanya 6 bulan dan tersebar di wilayah Bekasi, Tanggerang dan Serang“, ujar Anindya N Bakrie, Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk saat penyerahan 500 Hape Esia di Desa Rancamalang, Kelurahan Pegedangan, Tanggerang kemarin.

Dengan tambahan pendapatan rata-rata sebesar Rp 100 – 300 ribu per bulan, Anindya berkeyakinan bahwa model bisnis ini mampu menunjukkan kontribusi positif bagi penciptaan kemandirian usaha dan peningkatan pendapatan masyarakat di wilayah pinggiran kota.

Keseluruhan produk yang ditawarkan oleh VPO menggunakan hape murah Esia. Hape Esia ini didapatkannya melalui skema pembiayaan mikro yang menguntungkan. “Skema ini membuka kesempatan mereka mendapatkan hape Esia dengan harga yang sangat terjangkau dan menjadikannya sebagai sarana untuk memperoleh tambahan penghasilan“, jelasnya.

Karena itu dirinya berpendapat bahwa pola kerjasama ini patut untuk dikembangkan lebih lanjut mengingat kondisi masyarakat Indonesia yang masih membutuhkan dukungan dari berbagai pihak, baik pemerintah maupun swasta. Dengan alasan itu pulalah Bakrie Telecom kemudian mengundang Huawei untuk berpartisipasi dalam program ini. “Alhamdullilah undangan kami tak bertepuk sebelah tangan. Mereka langsung mendonasikan 500 Hape untuk dibagikan pada masyarakat dengan penghasilan terbatas“, ucap Anindya sambil tersenyum.

Menurut data yang dimiliki PT RUMA, 75% dari masyarakat Indonesia atau 180 juta orang masih hidup di bawah garis kemiskinan menurut Bank Dunia, yaitu US$ 2,5 per hari. 63% diantaranya hidup dengan menggantungkan diri pada sektor informal. Mereka hanya memiliki sedikit daya tawar dan akses ke mata rantai ekonomi. Data ini menunjukkan bahwa meskipun secara umum situasi makro ekonomi Indonesia mengalami perkembangan positif namun kemiskinan masih menjadi persoalan serius.


Tentang Bakrie Telecom

Bakrie Telecom merupakan salah satu pionir dalam industri telekomunikasi Indonesia dan operator tanpa kabel yang berkembang pesat. Ditargetkan pada tahun 2009, jumlah pelanggan Bakrie Telecom mencapai 10,5 juta pelanggan.

Dengan menerapkan teknologi CDMA (Code Division Multiple Access), Bakrie Telecom saat ini telah memperluas jangkauan layanan dan menjadi operator nasional. Sampai dengan akhir September 2009 sudah ada 76 kota nasional yang dilayani oleh Esia, Wifone dan Wimode yang merupakan nama merek produknya. Kota-kota tersebut tersebar di Sumatera, Jawa, Bali, Nusa Tenggara Barat, Kalimantan dan Sulawesi.

Bersamaan dengan itu sejak April 2009, Bakrie Telecom juga secara komersial melayani jasa sambungan langsung internasional dengan nama merek SLI Hemat 009. Bakrie Telecom juga dipercaya oleh pemerintah untuk menyelenggarakan jasa layanan sambungan langsung jarak jauh (SLJJ).

Berkat aktivitas yang agresif dan impresif, Bakrie Teleocom mendapatkan banyak penghargaan antara lain sebagai Best CDMA Operator 2007, 2008 dan 2009; Top Brand 2008 dan 2009, Market Challanger of The Year dari Mark & Sullivan serta perusahaan terbaik ke 3 dalam kategori Penanaman Modal Dalam Negeri.


Untuk mendapatkan info lebih rinci silahkan kunjungi http://www.bakrietelecom.com/.


Tentang Grameen Foundation:
Grameen Foundation telah dikenal memiliki reputasi intenasional sebagai organisasi sosial yang bertujuan untuk memerangi kemiskinan global. Grameen Foundation telah mengembangkan dan mempelopori program inovatif yang bertujuan untuk meningkatkan kapabilitas dan efektivitas dari lembaga keuangan mikro serta mitra-mitranya sehingga dapat meningkatkan kehidupan dan taraf kehidupan dari masyarakat miskin.
Grameen Foundation juga mengembangan teknologi yang berbasis bisnis komunikasi mikro. Bisnis seperti ini dapat memberikan pemasukan bagi pengusaha mikro, dimana pengusaha tersebut dapat mengembangkan bisnis berbasis telekomunikasi yang akhirnya membuat lingkungan atau kampung mereka dapat berkembang karena terbukanya akses komunikasi.

Tentang Huawei Technologies
Huawei Technologies adalah pemimpin dalam menyediakan solusi jaringan telekomunikasi generasi penerus, dan kini melayani 45 dari 50 operator terkemuka di dunia, serta satu miliar pengguna di seluruh dunia. Perusahaan berkomitmen dalam menyediakan produk-produk inovatif dan sesuai kebutuhan, layanan dan solusi yang menciptakan nilai jangka panjang dan pertumbuhan potensial untuk para konsumennya. .
Untuk informasi lebih lanjut, silahkan kunjungi www.huawei.com.

Tentang PT RUMA (Rekan Usaha Mikro Anda)

Pada bulan Agustus 2009 Grameen Foundation memberikan bantuan kepada sebuah lembaga di Indonesia bernama PT Rekan Usaha Mikro Anda (RUMA). RUMA adalah sebuah social enterprise, organisasi yang mempunyai dua misi, kemampuan keuangan yang berkelanjutan dan misi sosial dengan memberdayakan masyarakat miskin dan termiskin dengan solusi bisnis mikro waralaba yang menguntungkan.

RUMA memberdayakan masyarakat miskin dan termiskin di Indonesia dengan memberikan peluang bisnis yang diberikan dalam bentuk berupa paket (business in the box) di dalamnya terdapat perlengkapan penjualan, pelatihan, petunjuk penjualan dan juga monitoring.

RUMA menawarkan sebuah produk andalan dalam bisnis mikro yang dinamakan “RUMAH PULSA“ yakni sebuah warung telekomunikasi dimana didalamnya terdapat wartel (warung telepon), penjualan pulsa dan penjualan handphone.

Selama lima bulan pertama sejak berdirinya perusahaan ini, PT RUMA telah mempunyai lebih dari 1.500 wirausaha mikro. 69% dari pemilik usaha mikro dimiliki dan dijalankan oleh wirausaha dengan taraf hidup dibawah Rp 750 ribu per bulan. 90% dijalani oleh wanita. Semua wirausaha yang menjalankan mikro bisnis ini mendapatkan keuntungan.

Esia Ganas


Esia, layanan telekomunikasi hemat dari PT. Bakrie Telecom, Tbk (BTEL), hari meluncurkan layanan ESIA GANAS. Pelanggan Esia dapat menikmati telepon gratis lebih dari 10 juta pengguna Esia di seluruh Indonesia, hanya dengan melakukan isi ulang TalkTime senilai Rp. 50 ribu atau Rp. 25 ribu. ESIA GANAS hari ini diluncurkan secara serentak di seluruh wilayah layanan Esia. Di Jakarta, Erik Meijer, Wakil Direktur Utama BTEL secara simbolis melakukan branding di gerai-gerai Mall & ITC Ambassador, didampingi EVP Sales, Irfandi Firmansyah, dan EVP Marketing, Product & CRM, Ridzki Kramadibrata.

Guna meraih target 14 juta pelanggan di tahun 2010 dan memperkuat posisi pasar sebagai produk telekomunikasi termurah, Esia menghadirkan “Esia GANAS (Gratis Nelpon Nasional)” ke sesama pelanggan Esia lokal maupun interlokal ke seluruh Indonesia.

Dengan hanya melakukan isi ulang, pelanggan Esia bisa bebas tanpa batas menelpon ke semua pelanggan Esia di Indonesia selama sebulan dengan menggunakan kode akses 01010. Untuk pelanggan Esia di Jakarta dan Bandung hanya perlu isi ulang minimal Rp 50 ribu maka ia dapat melakukan telepon gratis selama 30 hari ke depan, 24 jam non stop, tanpa registrasi atau syarat-syarat lainnya. Bahkan untuk beberapa kota berlaku program khusus dimana gratis nelpon nasional sudah didapatkan dengan hanya mengisi ulang Rp 25 ribu.

“Sekarang pelanggan Esia bisa telepon gratis ke 10 juta lebih pelanggan Esia lainnya se Indonesia tanpa batas jarak dan waktu. Ini adalah bentuk penghargaan kami terhadap pelanggan Esia atas kepercayaan mereka untuk terus menggunakan layanan kami. Saatnya pun tepat karena bersamaan dengan hari ultah Bakrie ke 68”, papar Erik Meijer, Wakil Direktur Utama PT Bakrie Telecom Tbk ketika memberikan penjelasan Esia GANAS dihadapan media kemarin di Jakarta.

Jumlah pelanggan Esia memang diakui Erik terus menunjukkan grafik pertumbuhan yang positif. Merujuk pada hasil penelitian lembaga independent Roy Morgan, Market Share Esia selama tahun 2009 di Jakarta dan Bandung telah berada pada posisi yang begitu kuat diantara seluruh operator telekomunikasi Indonesia. Di Jakarta, Market Share Esia berada pada posisi puncak, sedangkan di Bandung menempati posisi kedua setelah sebuah operator GSM dan hanya terpaut 1% saja.

“Market share ini menunjukkan penggunaan layanan Esia sudah sangat meluas di masyarakat dan kami, melalui Esia GANAS, ingin semakin memperkuat hal tersebut”, kata Erik.

Disamping gratis nelpon, pelanggan Esia GANAS juga bisa menggunakan sisa talktime lebih untuk mengakses berbagai layanan layanan nilai tambah (value added services) dan fitur produknya seperti nada sambung (RBT), layanan SMS content, black list, white list, SMS non-stop dan fitur-fitur lainnya.

Khusus Jakarta dan Bandung, cukup dengan melakukan isi ulang Rp 50 ribu, pelanggan Esia memiliki masa aktif Esia GANAS selama 30 hari. Bahkan untuk kota-kota di luar kedua kota tersebut dimana Esia relatif baru hadir, pelanggan cukup isi ulang minimal senilai Rp 25 ribu saja untuk bisa menikmati telepon gratis nasional ini.

”Sekali lagi melalui Esia GANAS ini, kami buktikan pada masyarakat bahwa tarif Esia tetap termurah. Lengkap sudah tawaran Esia karena tidak ada lagi yang lebih murah kecuali gratis”, tandas Erik.

Melalui berbagai gebrakan komersial, Erik pun ingin meyakinkan masyarakat, utamanya pelanggan Esia bahwa menggunakan Esia masih tetap paling menguntungkan. “Tarifnya termurah, bukan tariff sementara dan berlaku secara transparan. Silahkan anda buktikan sendiri”.

Auto 2009 Sales



Industri otomotif bagaimanapun tetap menarik disimak. Meski dihadang berbagai hambatan dan kendala, tetap industri ini posisinya strategis. Kendaraan tidak hanya moda transportasi namun juga media investasi masyarakat. Sejak awal di negeri ini investasi mencakup tidak hanya yang wah seperti saham/obligasi/deposito namun juga tanah, rumah dan juga kendaraan. Manakala tempo hari banyak tabungan tidak aman di bank, karena rentannya dunia perbankan, maka banyak masyarakat menginvestasikan dananya ke obyek ini. Memang harga tanah/rumah selalu naik, dan harga kendaraan cenderung turun namun kendaraan lebih liquid ketimbang tanah/rumah.



Karena sifat kepemilikan kendaraan yang kental kepentingan investasi tadi maka hal ini sangat berpengaruh terhadap jenis kendaraan yang dibeli. Masyarakat cenderung memilih kendaraan yang depresiasinya bagus dimana saat menjual kembali harganya masih tinggi. Masyarakat tidak melihat dan mempertimbangkan kendaraan harus nyaman, safe atau mewah, namun lebih melihat sisi ekonomisnya. Ternyata hal ini sangat berpengaruh dengan jenis/tipe kendaraan yang mereka beli.



Dari beragam kendaraan penumpang yang tersedia di tanah air, jenis terlaris ternyata adalah MPV dan SUV. Sudah jamak masyarakat suka bepergian dengan keluarga atau kerabat. Mayoritas memilih dan membutuhkan kendaraan dengan daya angkut yang besar sekaligus ekonomis dengan depresiasi yang baik tadi.



Avanza ternyata tampil sebagai kendaraan penumpang terlaris 2009 dengan penjualan sebanyak 100.065 unit. Rupanya jenis avanza ini berhasil mengakomodir mayoritas kepentingan konsumen tanah air. Jenis kendaraan yang menawarkan fungsional, ekonomis, kapasitas, jelajah dan depresiasi. Kendaraan in sudah terbukti handal, berdaya angkut besar serta harga jual kembali sangat bagus. Konsumen tidak terlalu memperdulikan modelnya yang sederhana dan kelas atau prestige-nya yang sangat biasa. Tidak jarang banyak olok-olok dilontarkan kepada kendaraan produksi TAM ini, sebagai mobil setengah jadilah, platnya empreng-lah, limbung-lah, ngelayang-lah, kurang mantap-lah, terbukti produk ini sukses meraup ratusan ribu unit setahun. Luar biasa.



Posisi kedua ditempati kembaran dari Avanza, yakni Xenia. Medium MPV rakitan Daihatsu ini berhasil meraup penjualan 43.409 unit. Uniknya meski sama plek, penjualan Xenia tidak sampai setengah Avanza. Rupanya brand Toyota-lah yang melambungkan larisnya Avanza, sehingga Daihatsu harus mengakui kehebatan saudara tua-nya ini.



Posisi ketiga ditempati oleh mobil paling fenomenal, yakni Kijang Innova. Meski model MPV Innova adalah hasil evolusi dan revolusi dari model sebelumnya, namun ternyata Kijang ini tetap sukses dan menjadi rebutan konsumen. Konsep kehandalan produk, fungsional, depresiasi ditambah style dan model menjadikan Innova sebagai MPV terlaris, jauh meninggalkan seterunya seperti Panther, Serena, Stream dan belakangan ditambah Freed. Innova mencatatakan diri dengan penjualan sebanyak 35.989 unit.



Posisi keempat, agak beda model, ditempati king of mini MPV yakni Honda Jazz. Memang sejak tahun 2004, Jazz menjadi market leader untuk kelas mini MPV dan unggul atas pesaingnya seperti Yaris, Swift, Sirion dan Livina. Jazz dengan penuh percaya diri mencatatkan penjualan sebesar 15.713 unit. Konsep mobil yang irit, lincah dan fun menjadi andalan Jazz.



Yang kelima ditempati oleh medium SUV yakni Terios. Hmm kali ini Daihatsu bisa mengungguli saudara tuanya yang juga membuat jenis SUV sama yakni Toyota Rush. Produk kembaran ini memang sejak awal membagi segment-nya dimana Terios mengisi ceruk SUV berkapasitas 7 seat sementara Rush memposisikan sebagai SUV Sport dengan 5 seat. Meski atas demand yang ada Rush akhirnya juga menyediakan kapasitas 7 seat namun tidak urung Terios berhasil unggul. Keduanya memang terpaut tipis dengan penjualan Terios sebanyak 13.149 unit dan Rush sebanyak 12.965 unit. Terkadang pemerhati otomotif terhenyak, apa saja produk yang diluncurkan oleh terutama Toyota, lebih sering sukses di pasaran, ketimbang gagal. Meski jenis SUV ini ada puluhan model dari berbagai merk, namun tidak semuanya dirakit. Duet Terios/Rush yang kelasnya dibawah CRV/Xtrail, serta hadir belakangan namun sanggup mengungguli dalam jumlah penjualan.



Produk yang agak tanggung dari Suzuki yakni APV berhasil menduduki posisi ketujuh dengan penjualan 12.555 unit, jumlah yang terpaut jauh dengan pesaingnya duet Avanza/Xenia. Meski harganya berimbang, malah dengan mesin lebih besar yakni 1500 cc ketimbang 1300 cc pada Avanza/Xenia, namun APV kalah telak. Barangkali salah satu sebabnya adalah penempatan mesin di bawah jok depan, mirip Suzuki Carry, yang hanya ditambah hidung/bonet. Penempatan mesin ini mengakibatkan dek mobil tinggi dan bodinya jadi terlihat menjulang. Inilah hal yang sulit dipahami, kenapa Suzuki tidak mendesain mesin di bonetnya. Bila demikian, maka dek bakal lebih rendah dan bodinya menjadi proporsional. Mesin di bonet juga menjamin safety dari pengendaranya, karena bila terjadi kecelakaan hidung mesin bisa menjadi bumper. Berbeda mesin di bawah jok, yang mengumpankan kaki pengendara sebagai bumper mesin bila terjadi crash.



Baiklah, CRV, sang the best SUV, berhasil menempati posisi kedelapan dengan penjualan 10.110 unit. Tidak ada komentar tentang SUV cantik dari Honda ini karena semuanya ada disini mulai dari model, style, comfort, ekonomis dan depresiasi. Dan bahkan prestige juga terkandung dalam produk ini. Wajar karena kelas harganya jauh diatas MPV atau SUV lainnya. Honda adalah ahlinya mendesain kendaraan jenis Sedan dan SUV secara gagah.



Kubu Nissan kali ini harus puas menempatkan andalan produknya di posisi sembilan dengan penjualan 10.028 unit. Tentu jumlah sebesar ini patut mendapat acungan jempol manakala produk ini diluncurkan belakangan setelah pesaingnya. Produk Nissan yang kesohor dengan kehandalan-nya berhasil masuk sepuluh besar. Livina diposisikan sebagai kendaraan MPV dan mini MPV karena menawarkan sekaligus 7 dan 5 seat. Meski Livina dirancang berpenggerak roda depan, namun kehandalannya sudah teruji dan bisa menyaingi penggerak belakang yang diterapkan pada Avanza/Xenia dan Innova.



Lagi-lagi Honda mengeluarkan model fenomenal dengan produk modern MPV-nya yakni Freed. Baru setahun keluar Freed bisa menyabet tempat terhormat, posisi kesepuluh dengan meraup penjualan 8.900 unit. Sungguh jumlah yang luar biasa untuk produk dengan model yang cukup berani dan harga yang cukup mahal. Freed ini langsung berhadapan frontal dengan Innova. Karena Innova mengandalkan fungsional, model dan reliabilitasnya maka Freed mencoba melawan dengan Inovasi produknya. Innovasi ini terpancar dari model, lay out seat, elektrik door maupun berbagai fiture khas Honda.



Selamat untuk brand Toyota, Daihatsu, Honda, Suzuki dan Nissan atas prestsinya mencatatkan penjualan otomotif terbesar. Beberapa brand besar lainnya masih belum berhasil meraih prestasinya seperti Mitsubishi, Mazda, Hyundai, Isuzu dan lainnya. Barangkali Mitsubishi memang unggul pada segmen mobil pengangkut barang seperti truk. Atau beberapa brand Eropa yang unggul pada produk sedan mewah.

Prahara Toyota



Di Amerika dan Eropa, 2 market terbesar industri otomotif saat ini sedang timbul satu prahara. Prahara tersebut menimpa pabrikan terbesar dunia, Toyota, dimana terindikasi pedal gas dari beberepa model-nya berpotensi nyangkut di karpet dan membahayakan keselamatan penumpang kendaraan. Pedal gas juga dikhawatirkan terhubung dengan sensor kelistrikan, yang berpotensi eror saat terjadi short atau kegagalan listrik. Ditengarahi pula bahwa terdapat pedal buatan CTS yang menyebabkan kendaraan harus di recall, sementara pedal yang sama buatan Denso, tidak mengalami recall. Sementara kendaraan tersebut dirakit di Amerika Utara.



Tidak tanggung-tanggung, Toyota melakukan recall 2 juta lebih unit kendaraan seperti Corolla, Matrix, Camry, Rav4, Avalon, beberapa model lain dan bahkan model Lexus- brand premium dari Toyota. Management Toyota juga geger dan berusaha memberikan klarifikasi sebijak mungkin. President Toyota – Akio Toyoda konon dipanggil congress Amerika untuk memberikan klarifikasi. Kasus recall ini menyusul terjadinya beberapa kecelakan akibat nyangkutnya pedal gas ke karpet. Sebuah Lexus yang memuat sebuah keluarga konon juga mengalami tabrakan akibat tidak terkontrolnya pedal gas, dan memakan korban jiwa.



Ibarat raksasa dan perintis kualitas dan mutu dalam industri otomotif, Toyota sedang dilanda prahara hebat. Meski dengan proses produksi yang canggih dan segala hal bisa ditelusuri ke belakang, tidak urung incident pedal gas membuat dunia otomotif terhenyak. Meski tentu saja recall adalah lazim dilakukan oleh hampoir semua merek karena adanya kekurang sempurnaan komponen dari produk kendaraan-nya. Sebut merk besar macam Ford, GM, Chevy, Hyundai, Honda, Mitsubishi, BMW - hampir semuanya dengan skala berbeda pernah merecall sebagian produknya dari pasar. Recall justru menunjukan tanggung jawab pabrikan atas produksinya, dan bayangkan tanpa recall maka potensi kecelakaan akan semakin besar.



Belum lupa sebuah brand Eropa langsung mengganti produk ban-nya saat ditemukan sliding ketika test jalan. Sebuah SUV lain dari Eropa juga, pernah mengalami sliding saat test jalan di pantai. Brand lainnya dari Jepang juga mengalami recall karena desain selang bensin dan setrusnya.



Terlihat disini, eksodus recall di dua pasar terbesar Amerika dan Eropa akan cukup mempengaruhi pasar di sana melihat kritis dan tuntutan safety yang tinggi dari konsumen. Di Indonesia, tindakan recall belum begitu mempengaruhi pasar karena masih rendahnya concern konsumen atas unsur safety. Pasar lokal masih melihat produk otomotif sebagai asset, media investasi, elemen produksi maupun penopang prestige belaka.



Akankah Toyota mampu mengklarifikasi kasus recall ini dan mengembalikan kepercayaan pasar, tentu bisa diketahui dalam waktu yang tidak terlalu lama. Bagaimanapun pasar sudah terpancang kuat produk dari pabrikan berologo tiga elips ini merupakan produk yang handal dan tangguh.



Sementara kejadian recall yang nampak sepele ini, dari komponen pedal gas, yang untuk kendaraan tahun tua-pun malah jarang masalah, bisa menjadikan pelajaran berharga bagi Toyota maupun brand lainnya.

News

BERITA EKONOMI NASIONAL

• Harga Properti Naik 20%

• Produk China Mulai 'Kuasai' Lampung

• PLN Optimis Peroleh Utang Rp21 Triliun

• IHSG Dibuka Naik Tipis 0,07%

• Perum Bulog Siap Lakukan Operasi Pasar Beras



BERITA EKONOMI INTERNASIONAL

• Minyak Tembus US$83

• Harga Minyak Stabil di Perdagangan Asia

• Di AS, Penjualan Ford Alami Kenaikan

• Dapat Insentif, Penjualan Mobil di Jepang Meroket



Bila anda buka sub menu ekonomi di kapanlagi.com hari ini maka akan muncul headlines tersebut. Property naik 20%, apakah pernah harga rumah turun selama ini. Naiknya harga rumah praktis akan memberatkan beban masyarakat. Kenaikan wajar namun dengan rates 20% akan cukup memukul pendapatan masyarakat. Beberapa kebutuhan pokok seperti rumah, pakaian dan makanan merupakan prioritas masyarakat dalam belanja mereka. Andaikan kenaikan di bawah 10% maka dapat mendongkrak belanja tersebut. Kenaikan property akan menguntungkan siapa ? pengusaha dan barangkali perbankan.



Lagi-lagi produk China merajalela. Bukan salah mereka bila produknya booming. Effort mereka jauh lebih besar untuuk bersaing di sini. Sebagai tuan rumah, justru kita patut bertanya kenapa kalah bersaing dengan produk impor. Untuk memasarkan produknya ke sini saja mereka harus memikirkan dan menanggung biaya transportasi, distribusi dan pergudangan. Fenomenanya sudah lama terjadi, berbagai produk seperti buah, elektronik dan tekstil membanjir di pasar local. Apakah kita hanya ingin menjadi pengguna dan penonton saja. Apakah perlu dilakukan proteksi atas barang import disaat pasar bebas semakin digalakkan. Yang fair tentu harus bersaing secara sehat. Tingkatkan mutu produk agar bisa bersaing di pasar. Sederhana namun perlu effort yang konsisten dan serius. Bila hanya begini-begini saja produk kita bakal kelibas.



Hmm PLN mendapat utang baru. Barangkali memang dibutuhkan untuk investasi dan memperbesar volume layanan. Namun hutang tetaplah hutang. Bagaimana bila operasional tidak kunjung efisien sementara cicilan hutang harus dibayar. Akankah harga listrik juga akan dinaikkan. Ibarat BBM, listrik adalah komponen utama barang dan jasa. Setiap sen kenaikan listrik tentu akan berdampak atas harga barang dan jasa. Kembali kepada PLN apakah memang mereka perlu hutang baru sebesar itu, atau jumlah yang terkontrol sambil meningkatkan efisiensi operasionalnya.



IHSG naik tipis, berarti pasar modal jalan. Umumnya kenaikan pasar modal lebih dipilih ketimbang penurunan. Artinya investor aktif dan sibuk di dalamnya, manakala IHSG mengalami kenaikan. Mestinya ini merupakan sinyal yang baik bagi dunia usaha dan perekonomian.



Sementara Bulog bersiap melakukan operasi pasar. Harga beras dikhawatirkan naik sehingga perlu campur tangan Bulog. Saat ini lagi-lagi produk beras mulai didominasi beras import. Beras local harus bersaing ketat melawan beras dari Thailand. Mestinya kenaikan beras akan menguntungkan petani. Namun nyatanya petani tetap miskin. Jadi ada pihak yang mendapat keuntungan atas kenaikan beras ini. Apakah itu agen, penyalur atau distributor. Yang jelas kenaikan harga beras selama ini belum menguntungkan petani. Jadi bagaimana sebaiknya harga beras relative tetap atau naik. Sebaiknya kesejahteraan petani-lah yang semakin meningkat. Tugas pemerintah semakin berat atas misi mensejahterakan petani dan bersaing atas serbuan beras import.



Sementara dari ekonomi internasional harga minyak dan penjualan otomotif mengalami peningkatan. Apakah ini sinyal yang bagus, mungkin relative. Kenaikan minyak yang terlalu besar akan merugikan Negara pengimpor minyak dan menguntungkan Negara penghasil minyak. Celakanya Negara kita saat ini menjadi pengimpor minyak. Bagaimana bila harga BBM naik, puih, ini momok bagi masyarakat luas. Kembali setiap rupiah kenaikan harga BBM akan membebani masyarakat. Mudah-mudahan kenaikan harga minyak dunia hanyalah fenomena harga minyak yang normal. Naiknya penjualan otomtoif juga pertanda berjalannya ekonomi di Amerika dan Jepang tersebut. Beberapa waktu belakangan kedua Negara, penopang Utama ekonomi dunia itu sempat dilanda krisis yang mendera.



Jadi bagaimana gambaran ekonomi di tahun baru ini. Lagi-lagi akan lebih bijak bila melihat kekuatan dan kelemahan serta focus. Bila kita kuat di pertanian, perikanan dan UKM misalnya maka seyogyanya bidang ini yang mendapat perhatian. Juga mesti lebih bijak dalam berhutang. Jangan asal mendapat tawaran hutang lantas terus menumpuk hutang. Yang tidak kalau penting adalah integritas dan tekad pemerintah menghapus atau mengurangi kebocoran uang Negara karena korupsi. Penyakit akut yang satu ini harus diberantas ke akar-akarnya. Selamat bekerja.



Value Chain

Untuk menganalisis aktivitas spesifik melalui mana perusahaan dapat menciptakan keunggulan kompetitif, itu sangat berguna untuk membentuk perusahaan sebagai rangkaian kegiatan penciptaan nilai. Michael Porter mengidentifikasi serangkaian kegiatan generic yang saling berkaitan untuk berbagai perusahaan. Model yang dihasilkan dikenal sebagai rantai nilai.



Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk menciptakan nilai yang melebihi biaya penyediaan produk atau jasa, sehingga menghasilkan marjin keuntungan.



Inbound logistik termasuk penerimaan, pergudangan, dan pengendalian persediaan bahan masukan.



Operasi adalah kegiatan penciptakan nilai yang mengubah input menjadi produk akhir.



Outbound logistik adalah aktifitas yang dibutuhkan untuk mendapatkan produk jadi ke konsumen, termasuk pergudangan, pemenuhan pesanan, dll



Pemasaran & Penjualan adalah aktivitas yang terkait dengan mendapatkan pembeli untuk membeli produk, termasuk pilihan saluran, iklan, harga, dll



Kegiatan pelayanan adalah mereka yang mempertahankan dan meningkatkan nilai produk termasuk dukungan pelanggan, layanan perbaikan, dll



Salah satu atau semua aktivitas utama ini dapat menjadi vital dalam mengembangkan keunggulan kompetitif. Sebagai contoh, kegiatan logistik sangat penting untuk sebuah penyedia layanan distribusi, dan kegiatan pelayanan dapat menjadi fokus utama untuk perusahaan yang menawarkan kontrak pemeliharaan peralatan kantor.



Lima kategori umum dan digambarkan di sini secara umum. Setiap kegiatan generik mencakup kegiatan khusus yang berbeda di setiap industri.



Penunjang



Kegiatan rantai nilai utama yang diuraikan di atas difasilitasi oleh kegiatan penunjang. Porter mengidentifikasi empat kategori generik mendukung kegiatan, rincian industri yang spesifik.



Procurement - fungsi pembelian bahan baku dan input lain yang digunakan dalam kegiatan penciptaan nilai.



Technology Development - termasuk riset dan pengembangan, otomatisasi proses, dan pengembangan teknologi lainnya digunakan untuk mendukung kegiatan rantai nilai.



Human Resource Management - kegiatan yang berhubungan dengan perekrutan, pengembangan, dan kompensasi karyawan.



Firm Infrastructure - termasuk kegiatan seperti keuangan, hukum, kualitas manajemen, dll



Kegiatan penunjang sering kali dipandang sebagai "overhead", tapi beberapa perusahaan sukses telah menggunakannya untuk mengembangkan keunggulan kompetitif, misalnya, untuk mengembangkan keunggulan biaya melalui pengelolaan inovatif sistem informasi.



Analisis Rantai Nilai



Dalam rangka untuk lebih memahami kegiatan-kegiatan yang mengarah pada keunggulan kompetitif, kita dapat mulai dengan rantai nilai generik dan kemudian mengidentifikasi kegiatan spesifik perusahaan yang relevan. Aliran proses dapat dipetakan, dan aliran ini digunakan untuk mengisolasi kegiatan penciptaan nilai individu.



Setelah kegiatan diskrit didefinisikan, hubungan antara aktivitas harus diidentifikasi. Kaitan ini ada jika performa atau biaya dari satu kegiatan dapat mempengaruhi orang lain. Keunggulan kompetitif dapat diperoleh dengan mengoptimalkan dan mengkoordinasikan kegiatan-kegiatan terkait.



Rantai nilai juga sangat berguna dalam keputusan outsourcing. Memahami keterkaitan antara aktivitas dapat menyebabkan lebih optimal keputusan untuk membuat-atau-membeli yang dapat menghasilkan keuntungan baik biaya atau keunggulan diferensiasi.



Sistem Nilai



Kaitan rantai nilai perusahaan ke rantai nilai pemasok hulu dan hilir pembeli. Hasilnya adalah arus yang lebih besar kegiatan yang dikenal sebagai sistem nilai. Pengembangan keunggulan kompetitif tidak hanya tergantung pada rantai nilai spesifik perusahaan, tetapi juga pada sistem nilai yang merupakan bagian perusahaan.

Matrix Growth-Share & Ansoff


Perusahaan cukup besar yang diatur dalam unit bisnis strategis menghadapi tantangan untuk mengalokasikan sumber daya di antara unit-unit. Pada awal 1970-an Boston Consulting Group mengembangkan sebuah model untuk mengelola portofolio unit bisnis yang berbeda (atau lini produk utama). BCG matriks pertumbuhan-pangsa pasar menampilkan berbagai unit bisnis pada grafik tingkat pertumbuhan pasar vs pangsa pasar relatif terhadap pesaing:

Sumber daya yang dialokasikan ke unit-unit bisnis sesuai dengan di mana mereka berada di urutan sebagai berikut:

Cash Cow - sebuah unit bisnis yang memiliki pangsa pasar besar dalam industri yang matang dan berkembang lambat. Cash Cow ini memerlukan sedikit investasi dan menghasilkan kas yang dapat digunakan untuk berinvestasi dalam unit bisnis lainnya.

Star - sebuah unit bisnis yang memiliki pangsa pasar besar dalam industri yang berkembang pesat. Bintang dapat menghasilkan uang, tetapi karena pasar ini berkembang pesat, mereka membutuhkan investasi untuk mempertahankan pasar mereka. Jika berhasil, seorang Star akan menjadi Cash Cow ketika industri menjadi matang.

Question Mark (or Problem Child) - sebuah unit bisnis yang memiliki pangsa pasar kecil di pasar dengan pertumbuhan tinggi. Unit bisnis ini membutuhkan sumber daya untuk mengembangkan pangsa pasar, tapi apakah mereka akan berhasil dan menjadi Star tidak diketahui.

Dog - sebuah unit bisnis yang memiliki pangsa pasar kecil dalam industri yang sudah matang. Dog mungkin tidak memerlukan uang tunai, namun ikatan modal yang bisa lebih baik dikerahkan di tempat lain. Jika Dog tidak memiliki tujuan strategis lainnya, maka harus dilikuidasi jika ada prospek untuk memperoleh pangsa pasar.

Matriks BCG menyediakan kerangka kerja untuk mengalokasikan sumber daya di antara unit-unit bisnis yang berbeda dan memungkinkan mereka untuk membandingkan berbagai unit bisnis secara singkat. Namun, pendekatan ini telah menerima beberapa kritik negatif untuk alasan berikut:

Hubungan antara pangsa pasar dan profitabilitas dipertanyakan karena meningkatkan pangsa pasar dapat sangat mahal.

Pendekatan yang mungkin terlalu menekankan pertumbuhan yang tinggi, karena mengabaikan potensi pasar yang menurun.

Model ini mempertimbangkan tingkat pertumbuhan pasar menjadi given. Dalam prakteknya perusahaan dapat tumbuh pasar.

Isu-isu ini ditangani oleh GE / McKinsey Matrix, yang mempertimbangkan tingkat pertumbuhan pasar menjadi hanya salah satu dari banyak faktor yang membuat suatu industri yang menarik, dan yang mempertimbangkan pangsa pasar relatif menjadi hanya salah satu dari banyak faktor yang menggambarkan kekuatan kompetitif unit bisnis .

Matrik Ansoff

Alternatif untuk menggambarkan strategi pertumbuhan perusahaan, Igor Ansoff mempresentasikan sebuah matriks yang berfokus pada perusahaan saat ini dan produk dan pasar potensial (pelanggan). Dengan mempertimbangkan cara untuk tumbuh melalui produk yang ada dan produk baru, dan di pasar-pasar yang ada dan pasar baru, ada empat kemungkinan kombinasi produk-pasar. Ansoff's matriks menyediakan empat strategi pertumbuhan yang berbeda:

Penetrasi pasar - perusahaan berusaha untuk mencapai pertumbuhan dengan produk yang ada dalam segmen pasar saat ini, yang bertujuan untuk meningkatkan pangsa pasar.

Pengembangan pasar - perusahaan berupaya dengan menargetkan pertumbuhan produk-produk yang sudah ada ke segmen pasar baru.

Pengembangan Produk - perusahaan mengembangkan produk baru yang ditargetkan ke segmen pasar yang ada.

Diversifikasi - perusahaan tumbuh dengan diversifikasi ke bisnis-bisnis baru dengan mengembangkan produk baru untuk pasar baru.

Memilih Strategi Pertumbuhan Pasar - Produk

Strategi penetrasi pasar adalah yang paling berisiko karena memanfaatkan banyak sumber daya dan kemampuan perusahaan. Dalam pasar yang berkembang, hanya mempertahankan pangsa pasar akan menghasilkan pertumbuhan, dan mungkin ada peluang untuk meningkatkan pangsa pasar jika pesaing mencapai batas kapasitas. Namun, penetrasi pasar ada batasnya, dan sekali pendekatan pasar jenuh strategi lain harus dikejar jika perusahaan ingin terus tumbuh.

Pilihan pengembangan pasar termasuk mengejar segmen pasar tambahan atau wilayah geografis. Pengembangan pasar baru untuk produk tersebut mungkin merupakan strategi yang baik jika kompetensi dasar – core competence perusahaan lebih terkait dengan produk tertentu daripada pengalamannya dengan segmen pasar tertentu. Karena perusahaan melakukan ekspansi ke pasar baru, strategi pengembangan pasar biasanya memiliki resiko lebih besar daripada strategi penetrasi pasar.

Sebuah strategi pengembangan produk mungkin sesuai jika kekuatan perusahaan yang terkait dengan pelanggan tertentu daripada produk tertentu itu sendiri. Dalam situasi ini, mereka dapat memanfaatkan kekuatan dengan mengembangkan produk baru yang ditargetkan untuk para pelanggan yang sudah ada. Serupa dengan kasus pembangunan pasar baru, pengembangan produk baru membawa resiko lebih besar daripada sekadar berusaha untuk meningkatkan pangsa pasar.

Diversifikasi adalah yang paling berisiko dari empat strategi pertumbuhan karena memerlukan kedua produk dan pengembangan pasar dan mungkin di luar kompetensi dasar perusahaan. Bahkan, ini kuadran dari matriks telah diacu oleh mereka sebagai "sel bunuh diri". Namun, diversifikasi mungkin pilihan yang masuk akal jika risiko tinggi dikompensasi oleh kemungkinan tingkat return yang tinggi. Keuntungan lain dari diversifikasi termasuk potensi untuk mendapatkan pijakan pada industri yang menarik dan pengurangan risiko portofolio bisnis keseluruhan.

Kompetensi Dasar

Dalam artikelnya tahun 1990 berjudul “Kompetensi Dasar Perusahaan” CK Prahalad dan Gary Hamel membentuk istilah kompetensi dasar, atau sekumpulan pembelajaran dan ketrampilan koordinasi dibalik garis produk perusahaan. Mereka membuat kasus bahwa kompetensi dasar merupakan sumber dari keunggulan kompetitif dan memungkinkan perusahaan mengenalkan sederet produk dan layanan baru.



Menurut Prahalad dan Hamel, kompetensi dasar menuntun pengembangan dari produk dasar. Produk dasar tidak dijual langsung kepada pengguna akhir, ketimbang, mereka digunakan membangun sejumlah besar produk dari pengguna akhir/end user. Misalnya, motor (bukan sepeda motor) merupakan produk dasar yang dapat digunakan sederet luas produk akhir. Unit bisnis perusahaan masing-masing mengalirkan produk dasar relative untuk mengembangkan jumlah lebih besar produk dasar pengguna akhir pada teknologi produk dasar. Alur dari kompetensi dasar menuju produk akhir bisa dilihat pada gambar.



Titik temu peluang pasar dengan kompetensi dasar membentuk landasan peluncuran bisnis baru. Dengan menggabungkan sekumpulan kompetensi dasar dengan cara yang berbeda dan mencocokannya dengan peluang pasar sebuah perusahaan dapat mengeluarkan deretan bisnis yang luas. Tanpa komptenesi dasar, sebuah perusahaan besar hanya merupakan sekumpulan bisnis yang berbeda. Kompetensi dasar bertindak sebagai perekat yang mengikat unit bisnis menjadi portfolio yang sesuai.



Mengembangkan Kompetensi Dasar



Menurut Prahalad dan Hamel, kompetensi dasar timbul dari integrasi berbagai teknologi dan gabungan dari ketrampilan produk yang beragam. Beberapa contoh termasuk keahlian Phillip dalam media optic dan kemampuan Sony dalam elektronik mini.



Terdapat tiga test yang berguna untuk mengetahui kompetensi dasar. Suatu kompetensi dasar seharusnya ;



1. Menyediakan asset atas beragam pasar, dan

2. Menyumbang secara siginifikan manfaat dari end produk, dan

3. Sulit bagi pesaing meniru



Kompetensi dasar cenderung berakar pada kemampuan berintegrasi dan berkoordinasi dengan berbagai kelompok dalam organisasi. Sementara perusahaan dapat membentuk sebuah tim yang brilliant dalam suatu teknologi tertentu, dalam melakukan ini tidak secara otomatis memperoleh kompetensi dasar pada teknologi. Ini merupakan koordinasi yang efektif diantara semua kelompok yang terlibat memasarkan produk ke pasar yang menghasilkan kompetensi dasar.



Tidak perlu mahal mengembangkan kompetensi dasar ini. Potongan yang hilang dari kompetensi dasar sering dapat diperoleh dengan biaya rendah meskipun merupakan kesepakatan lisensi maupun aliansi. Pada banyak kasus desain organisasi yang memfasilitasi sharing kompetensi dapat menghasilkan pemanfaatan yang lebih efektif dari kompetensi dengan sedikit atau tanpa biaya.



Guna pemahaman yang lebih baik bagaimana mengembangkan kompetensi dasar, tidak sia-sia memahami apa yang mereka tidak perlukan. Menurut Prahalad dan Hamel, kompetensi dasar tidak membutuhkan :



1. Outspending pesaing pada riset dan pengembangan

2. Sharing biaya diantara unit bisnis

3. Integrasi vertical



Sementara itu membangun kompetensi dasar bisa difasilitasi oleh beberapa action, oleh mereka saja tidaklah cukup.



Kekurangan Kompetensi Dasar



Gerakan pemangkasan biaya kadang merusakkan kemampuan membangun kompetensi dasar. Semisal desentralisasi menyebabkan lebih sulit membangun kompetensi inti karena kelompok mengandalkan outsourcing dari tugas yang kritikal, dan outsourcing ini menghindarkan perusahaan dari pengembangan kompetensi inti pada tugas-tugas itu karena tidak lagi terkonsolidasi know-how yang tersebar di seluruh perusahaan.



Kegagalan mengenali kompetensi dasar dapat mengarahkan keputusan yang mengakibatkan kerugian. Misalnya tahun 1970 banyak perusahaan Amerika menarik investasi dari bisnis pembuatan TV dengan alas an industri sudah jenuh sementara produk kualitas tinggi dengan harga murah tersedia dari pabrikan timur jauh (Asia- Jepang). Dalam proses ini mereka kehilangan kompetensi dasar dalam video, dan kerugian ini menyebabkan hambatan dalam industri TV digital yang lebih baru.



Mirip, Motorola menarik investasi dari bisnis semiconductor bisnis DRAM 256Kb, dan hal ini bagi Motorola berakibat tidak dapat memasuki pasar 1Mb. Dengan mengenali kompetensi dasar dan menguasai waktu yang dibutuhkan membangunnya atau mendapatkan kembali, sebuah perusahaan bias menjadi lebih baik dengan keputusan divestment.



Produk Dasar



Kompetensi dasar membuktikan mereka sendiri dalam produk dasar yang bertindak sebagai penghubung antara kompetensi dan produk akhir- end products. Produk dasar memungkinkan penciptaan nilai dalam produk akhir. Misalnya perusahaan dan produk dasar mereka termasuk :



• 3M- substrates, pelapisan dan perekat

• Black & Decker – motor listrik kecil

• Canon – subsystems laser printer

• Matsushita – subsystems VCR, kompresor

• NEC – semikonduktor

• Honda – mesin bensin



Produk dasar digunakan meluncurkan beragam produk akhir. Misalnya Honda menggunakan mesinnya untuk mobil, motor dan generator portable.



Karena perusahaan bias menjual produk dasar kepada perusahaan lainnya yang menggunakan mereka sebagai basis produk akhirnya, pengukuran tradisional dari brand market share- pangsa pasar tidaklah cukup untuk meng-evaluasi keberhasilan kompetensi dasar. Prahalad dan Hamel menyarankan share produk dasar dalam metric yang sesuai. Sementara sebuah perusahaan mungkin memiliki low brand share, ini barangkali memiliki share produk dasar tinggi dan share ini penting bagi titik tolak kompetensi dasar.



Sekali perusahaan berhasil produk dasarnya, dapat diperluas ke sejumlah order guna mendapatkan keuntungan biaya melalui skala ekonomi dan skope ekonomi.



Implikasi Bagi Corporate Management



Prahalad dan Hamel menyarankan agar perusahaan seharusnya mengorganisir kedalam portfolio dari kompetensi dasar ketimbang portfolio unit bisnis mandiri. Manager unit bisnis cenderung memfokuskan pada perolehan produk akhir dan dipasarkan secara cepat dan umumnya tidak bertanggung jawab atas pengembangan perusahaan – komptensi dasar yang luas. Akibatnya, tanpa insentif dan arahan dari corporate management, strategi unit bisnis cenderung dibawah investasi guna membangun kompetensi dasar tersebut.



Jika sebuah unit bisnis mengelola pengembangan kompetensi dasarnya sendiri sepanjang waktu, disebabkan wewenang maka akan tidak ter-share dengan unit bisnis lainnya. Solusi dari masalah ini disarankan agar manager corporate memiliki kemampuan mengalokasikan tidak hanya cash tapi juga kompetensi inti diantara unit bisnis. Unit bisnis yang kehilangan karyawan kunci bagi kepentingan kompetensi dasar perusahaan seharusnya dikenali guna distribusi ini.

Bispak Esia


Belum lama ini salah satu operator telekomunikasi CDMA meluncurkan product tariff barunya yang dinamakan Bispak, kepanjangan dari Bisa Pakai Tarif Manapun. Pagi-pagi berbagai reaksi dan tanggapan-pun diarahkan ke operator yang mengusung produk Esia, Wifone dan Wimode. Reaksi datang dari berbagai sumber seperti media, pengamat maupun individu. Bentuk reaksi ini ternyata ada yang kurang sependapat karena konotasi Bispak selama ini, namun ada juga pengamat yang tidak merasa keberatan dan melihat ini sebagai strategi bisnis belaka..

Secara umum reaksi yang tidak setuju dan keberatan karena mengangap Bispak berkonotasi negative dan kurang mendidik masyarakat luas. Ada juga yang berpendapat slogan atau tag lines ini kurang pas diluncurkan saat masyarakat sedang melaksanakan ibadah puasa. Para pengamat juga mengkhawatirkan strategi slogan Bispak ini akan mendapat counter dan balasan dari operator lainnya, dan dikhawatirkan hal ini semakin memicu persaingan bisnis seluler semakin sengit..

Istilah/slogan Bispak dikhawatirkan akan memicu reaksi dan persepsi pasar yang kurang baik. Barangkali timbul juga wacana apakah slogan ini melanggar etika bisnis atau kesantunan bisnis. Apakah slogan ini merupakan bentuk puncak persaingan bisnis seluler yang sangat ketat. Dengan jumlah 10 operator secara nasional maka disadari atau tidak persaingan mulai mengarah kepada peperangan tarif / price war dan perang layanan. Beragam strategi disusun dan digelar oleh operator untuk merengkuh konsumen yang barangkali sudah semakin jenuh. Sehingga Esia – operator CDMA yang secara cukup mengejutkan melempar produk berlabel Bispak praktis menjadi pusat perhatian dan sasaran tembak. Barangkali banyak pertanyaan yang muncul, apakah Esia sudah kehabisan strategi sehingga memunculkan slogan yang aneh-aneh. Tentunya semua pihak sah dan bebas menyampaikan opininya, namun barangkali kurang bijak bila menjustifikasi/menghakimi hanya karena istilah atau dampak dari persaingan.

Kita bisa coba mencermati, Bispak atau Bisa Pakai Tarif Manapun yang telah dikeluarkan operator ESIA dapat mencuri perhatian dan menguntungkan pasar. Operator ini merupakan salah satu perusahaan telekomunikasi yang tergolong inovatif dan kreatif sejak awalnya. Tentunya kita belum lupa saat Esia mencanangkan konsep talktime sebagai pengganti pulsa. Talktime dimaksudkan memudahkan konsumen mnghitung waktu bicaranya, ketimbang istilah abstrak, pulsa. Esia juga sebagai operator pelopor tariff murah, yakni sejak dilaunching tahun 2003, menerapkan tariff fenomenal, Rp. 50 per menit, atau Rp. 1000,- per satu, artinya terdapat diskon Rp. 2000,-.

Esia juga pionir dan kreatif menciptakan tariff sms yakni sebesar Rp. 1,- setiap karakter ke semua operator. Tariff ini merupakan tariff unik tidak saja secara nasional bahkan secara global. Berikutnya adalah startegi bundling Esia yang kesohor dengan penawaran berbagai handset yang harganya terjangkau dengan fitur berbagai pilihan. Ada Esia Hidayah, Esia Merah Putih, Esia Kasih, Esia Kilau, Esia Ngoceh, Esia Slank, Esia Bali, Esia Merdeka, Esia Fu, dan yang terakhir adalah Hidayah Syiar dan Hidayah Plus.

Yang masih hangat adalah Esia meluncurkan Bispak – Bisa Pakai Tarif Manapun – belum lama ini- yang dimaksudkan untuk memberikan persaingan tariff terhadap operator lainnya. Esia justru ingin memihak kepada pasar dan memberikan keuntungan konsumen menikmati tariff yang paling murah diantara semua operator. Sehingga berbagai inovasi yang sudah diluncurkan dan mendapat antusisme pasar terbukti menguntungkan. Slogan Untung Pakai Esia, justru secara konsisten dipertahankan dengan merilis berbagai produk yang pro konsumen. Tarif voice, sms, bundling dan tariff tandingan Bispak dapat dilihat secara cermat sebagai tariff yang membela kepentingan konsumen. Barangkali belum lupa bagaimana awalnya tariff seluler yang mahal dimana konsumen harus membayar ratusan ribu sampai jutaan rupiah setiap bulannya. Dengan gebrakan Esia tidak dipungkiri merupakan breakthrough – terobosan konsumen mendapatkan tariff yang wajar dan murah.

Perspektif Ekonomi & Tren Konvergensi Telekomunikasi


Telekomunikasi adalah industri yang mengalami pertumbuhan diatas rata-rata yakni mencapai 48% selama periode 2002 – 2008. Sementara dua operator terbesar GSM menguasai market share hingga 70%. Saat ini di Indonesia terdapat 12 operator seluler baik GSM maupun CDMA dan merupakan yang terbanyak di dunia. Sementara di Negara lain seperti China ada 2 operator, Malaysia 3 operator, Australia 4 operator dan Eropa 5 operator. Bisnis industri telekomunikasi telah mengalami konvergensi, sehingga jumlah pengguna jasa telekomunikasi akhir 2008 mencapai 172 juta. Pasar ke depan masih akan tumbuh dengan perkiraan 28% hingga tahun 2012.

Produk Domestik Bruto Q1 2009 secara berurutan disumbang oleh Industri Pengolahan (27.3%), Pertanian, Peternakan, Kehutanan dan Perikanan (15.8%), Perdagangan, Hotel dan Restoran (13,4%), Jasa (10%), Konstruksi (9,6%), Pertambangan dan penggalian (8,8%), Keuangan, Persewaan & Jasa perusahaan (7,6%), Pengangkutan dan Komunikasi (6,6%) serta Listrik, Gas dan Air (0,9%). Terlihat disini meski pertumbuhan diatas rata-rata namun kontribusi ke PDB Industri Telekomunikasi dan Transportasi (Penerbangan) masih relative kecil yakni 6,6%.

Pertumbuhan telekomunikasi nasional tumbuh luar biasa dari 19,4 juta pelanggan tahun 2002 menjadi 172,78 juta pelanggan tahun 2008. Sementara pertumbuhan lainnya adalah 28,2 juta pelanggan (2003), 41,3 juta pelanggan (2004), 64,39 juta pelanggan (2005), 77,38 juta pelanggan (2006) dan 118,58 juta pelanggan (2007). Meski dengan catatan angka yang fantastis ini namun tersirat misleading manakala banyak diantara nomor yang terjual ke pelanggan tersebut merupakan nomor seluler tidur (tidak aktif). Menurut sebuah riset Mobile phone yang aktif secara nasional adalah 80 juta (2006), 90 juta (2007) dan 116 juta (2007).

Dari gambaran pelanggan seluler dunia Indonesia secara meyakinkan menduduki peringkat 6 dunia. Lebih rinci sebaran pelanggan tersebut China (748,8 juta), India (372,48 juta), USA (331,52 juta), Rusia (220,52 juta), Brasil (184,92 juta), Indonesia (172,8 juta), Jepang (133,9 juta), Jerman (133 juta), Italia (104,3 juta) dan Pakistan (92,1 juta). Sementara dari ke sepuluh Negara tersebut jumlah pelanggan yang aktif secara berurutan adalah, 585 juta, 291 juta, 259 juta, 172 juta, 134 juta, 116 juta (Indonesia), 103 juta, 103 juta, 90 juta dan 86 juta.

Dari perspektif tahapan industri telekomunikasi kelompok Negara yang berada pada tahap mulai industri / nascent adalah Afrika, Vietnam dan Bangladesh. Tahap bertumbuh (growth) ditempat China, Indonesia, India dan Thailand. Kelompok Negara Phillipines, Eropa, Australia/New Zealand dan USA berada pada tahap perkembangan pesat (develop) serta kelompok Negara UK/France/Germany dan Jepang menutup tahap perkembangan di yang sudah jenuh (mature).

Sementara kepemilikan asing dalam industri telekomunikasi cukup dominant yakni oleh Hutchinson Telecom dan Charoen Pokphand di HCPT (100%), Telecom Malaysia, Khazanah Nasional dan Etisalat UEA di Excelcomindo (99,8%), Saudi Telecom dan Maxis di Axis (95%), Texas Pacific Invesment di Smart (75%), Qatar Telecom di Indosat (40,8%), Singtel di Telkomsel (35%).

Tren Konvergensi ke depan akan mencakup sekaligus industri Telekomunikasi, Komputer, Broadcasting dan Banking yang mana outputnya akan beragam. Output tersebut diantaranya berupa service convergence seperti mobile services, interactive TV, IP-TV, internet, VOD, satellite TV yang tergambar pada layanan mobility, personalization dan interactivity.

Dari salah satu sumber bisa disebutkan market share dari industri telekomunikasi nasional adalah Telkomsel (48%), Indosat GSM (25%), XL (14%), Telkom Flexi (6%), BTEL (3%), M-8 (1%), Starone (1%) dan lainnya (2%). Tentu angka ini bisa berubah seiring persaingan dan perolehan pelanggan dari masing-masing operator.

Dari gambaran tersebut bahwa industri telekomunikasi berkembang amat cepat, menuju konvergensi. Pelayanan bisa dilakukan dengan multitasking yang tak terbatas. Penetrasi telepon belum sampai 70% sehingga peluang masih terbuka. Sementara penetrasi internet hanya 3% sehingga peluangnya masih terbuka lebar. Kondisi perekonomian (PDB) yang terus membaik, kini Rp. 5.400 triliun) dan jumlah penduduk yang besar (230 juta) merupakan peluang yang nyata.

Pertumbuhan ekonomi per Juni 2009 Indonesia mencapa 4,0%, Malaysia -3,1%, Singapore -7,5%, Thailand -3,5%, Phillipines 0,7%, China 6,8%, India 5,0%.

Pointers tersebut disarikan dari Temu Wicara, Trend Konvergensi dan Implikasinya terhadap Regulasi di bidang komunikasi dan informatika, the phoenix hotel, Yogyakarta 13-Agustus-09.

Sebuah Case : AVID

----------------Terjemahan---------------



Semua perusahaan yang sukses dapat menjadi korban atas kesuksesannya tersebut. David Krall mengatakan hal ini musim gugur tahun 2000 saat mengamati kinerja Avid Teknologi. Ia merupakan CEO ketiga yang memiliki masa kerja cukup lama. Kinerja keuangan yang buruk memaksa Board mengganti Founder pada tahun 1996 dengan seorang eksekutif sukses dari perusahaan besar teknologi tinggi untuk memimpin Avid. Belum membuahkan hasil memuaskan, membuat Board kembali mengganti sang eksekutif 3 tahun kemudian dengan David Krall, salah seorang dari Divisi Chief Operation Officer perusahaan.



Upaya kedua perubahan tersebut diserahkan pada pundak Krall yang berumur 39 tahun. Meski anak muda dengan hanya 4 tahun pengalaman di satu divisi perusahaan, Krall tercatat sebagai innovator. Ia memenangkan award wirausaha Harvard School atas temuan yg dipatenkan (back up battery untuk laptop komputer). Serta ditunjuk pada digidesign, divisi Avid yang ia pimpin menuju kinerja yang bagus meski perusahaan sedang merugi. Board Avid memperhitungkan kewirausahaan Krall untuk mengatur strategi baru yang dibutuhkan perusahaan.



Avid Teknologi adalah cerita sukses teknologi tinggi. Penjualan tumbuh pesat menyusul pengapalan produksi pertama tahun 1989. Avid mencapai tingkat pertumbuhan tinggi dan menawarkan customer dan analis bisnis dengan penerapan teknologi digital untuk manipulasi gambar, grafik dan suara dalam pembuatan movie, program TV serta siaran baru. Akibatnya Avid membangun suatu “mouse trap” yang lebih baik dalam gambar bergerak, grafik dan suara yang ditangkap, diedit dan kemudian dihasilkan kembali bagi penikmat dan pendengar.



Tetapi tahun 1995 pertumbuhan penjualan mulai menurun. Dengan manajemen baru tahun 1996 Avid berharap mengubah keberuntungan dan menempatkan perusahaan sekali lagi dalam jalur pertumbuhan dengan profit. Upaya perubahan cukup menantang. Manajemen baru membuat beberapa keputusan strategic namun gagal mencapai hasil jangka panjang dan segera kehilangan keyakinan. Titik tolak Tim adalah kegagalan mendapat cara strategic mengatasi masalah yang mencengkeram perusahan.



Dengan keputusan mengganti manajemen kedua kalinya, Board mengirim tanda kuat ke tim manajemen baru bahwa tidak diharapkan perubahan singkat. Pemahaman apa yang terjadi atas Avid beberapa tahun terakhir adalah tugas mendesak yg dihadapi Krall. CEO baru harus menentukan prioritas yang kedua Ceo telah lakukan atau tidak lakukan yang mengarahkan perusahaan menurun cepat. Dan lebih penting Krall harus memutuskan arah baru dan strategi pertumbuhan perusahaan serta profit.



Sejarah dan Pandangan Perusahaan



Teknologi tradisional membutuhkan berbagai orang untuk menangkap gambar bergerak, grafik dan suara pada magnet tape; memotong dan memisahkan tape untuk mengedit susunan gambar; kemudian menggandakan tape untuk distribusi. Digital teknologi menangkap gambar bergerak, grafik dan suara dalam bentuk kode binary yang dikenal oleh komputer. Meng-edit gambar digital, grafik dan susunan suara sama dengan mengedit file proses kata (terdiri text digital)- editor menggunakan mouse untuk memotong dan memindah gambar, grafik dan suara kedalam susunan yg diinginkan pada komputer. Movie yang dihasilkan, misalnya, adalah file komputer dari gambar digital, grafik dan suara. Edit digital tidak hanya lebih cepat dan murah dari analog tradisional tapi juga membantu editor dengan kemampuan lebih besar untuk membuat efek khusus. Lagipula sementara film analog berciri pakai dan buang setelah 15 – 25 pertunjukan, film digital tidak kehilangan mutu.



Terletak di daerah metropolis teknologi tinggi Boston, Massechuset, Avid Tek adalah pelopor teknologi di beberapa pasar teknologi. Avid mengembangkan sistem komputer untuk editing digital dalam ruang berita yang membantu membuat materi bagi program baru TV. Tambahan, perusahaan mengembangkan sistem audio digital bagi professional. Produk Avid digunakan di seluruh dunia pada studio film, jaringan, cabang, mandiri dan stasiun tv kabel; studio rekaman;agen iklan;lembaga pemerintah dan pendidikan;serta departemen video perusahaan. Efek khusus dalam film Star Wars dibuat dan diedit oleh produk Avid. Persamaannya, produser memperkerjakan system, Avid membuat aktor gary sinise (letnan dan taylor) nampak menjadi dua dalam film forest gump. Penggunaan perusahaan termasuk pemakaian video oleh perusahaan real estate yang mendisplay daftar bangunan dan tim olahraga profesional, seperti green bay packer, untuk menganalisa permainan.



Avid didirikan tahun 1987 oleh William Warner yang meninggalkan posisinya dari perusahaan komputer Apolo, sebuah pabrik system komputer., mengejar gagasan revolusioner akan gambar bergerak digital dan suara sehingga mereka dapat diedit computer .Bergabung th 1988 adalah Curt Rawlry, Presiden dari Racal Design, sebuah disainer PCB dan Eric Peter, engineer apolo komputer dan perusahaan peralatan digital (sekarang Compaq computer).



Ketiga wirausaha mengembangkan media composer, produk yg diluncurkan perusahaan baru. Pengapalan mulai tahun 1989, penjualan tumbuh pesat menigkat dari 1$ juta tahun 1989 menjadi berturut-turut $7 juta, $20 juta dan $52 jt tahun 1990, 1991 dan 1992.



Untuk membiayai pertumbuhan perusahaan Avid go publik tahun 1993 (NASDAQ) yang menghasilkan tambahan kapital $53jt. Tahun yang sama penjualan berlipat, menjadi $113 jt. Perusahaan melesat ke posisi #5 versi majalah pada daftar 100 perusahaan kecil Amerika yang go publik dengan pertumbuhan terpesat dan ranking #9 Fortune 100 perusahaan Amerika tumbuh terpesat. Pertumbuhan pesat berlanjut dengan mencatat revenue $204jt th 1994 dan $407jt th 1995 dengan pertumbuhan 81% dan 100 % berturutan. Th 1995 Avid mencapai perolehan pangsa pasar dan mengembangkan posisi terdepan di market. Tetapi, pertumbuhan penjualan setelah 1995 menurun, dengan revenue meningkat hanya 5% menjadi $429jt th 1996: 10% dengan $471jt th 1997 dan 2% th 1998. Th 1999 revenue menurun untuk pertama kali dalam sejarah perusahaan, jatuh 6% ke $453jt. Avid mempunyai sekitar 1700 karyawan pada akhir tahun 1999.



Faktor kunci pertumbuhan pesat Avid adalah kemampuan melaksanakan saluran penjualan internasional selama tahun-tahun awal. Avid melakukan penjualan di 7 negara berbeda th 1993 dan th 1999 mempunya kantor di 20 negara berbeda. Penjualan diluar Amerika Utara tumbuh cepat dari 11% revenue 1990 menjadi 42% th 1992 dan 51% th 1999 dangan penjualan Avid di lebih 75 pasar asing. Penjualan Eropa paling menjanjikan, sekitar 87% total penjualan internasional. Penjualan dari Asia mengecewakan tapi diharapkan secara umum meningkat sebagai ekonomi area, khususnya jepang, setelah resesi.



Market Avid



Avid melayani 3 pasar. Sumber revenue utama Avid adalah film, TV dan industri terkait. Film dan industri TV sampai pada teknologi digital sebagai seni dan Avid sebagai pelopor teknologi ini.



Sekitar $1 milyard industri film adalah adaptasi cepat teknologi baru yang cepat pindah dari analog ke produk digital, memberi Avid lebih dari 80% share market segment dalam industri. Tetapi, $2 milyard industri tv masih tape based dominant sebagamana $900jt industri audio. Industri ini menggambarkan peluang tumbuh penting perusahaan. $985jt industri video lembaga dan perusahaan masih dominant pada tape based dengan Avid menguasai posisi kunci di segment digital (total Avid industri adalah 13% dibanding semua pesaing digital based lainnya yg secara bersama menguasai 27%). Perusahaan melihat peluang tumbuh pesat dalam industri ini.



Revenue kedua Avid yang penting adalah $350jt industri penyiaran berita. Meski perusahaan fokus di pasar ini sejak 1993, upayanya mendapat pijakan kuat kurang berhasil dibanding upaya pada film dan tv. Kuncinya adalah biaya yang besar dari sistem terintegrasi yang dibutuhkan customer, yang mencapai jutaan dollar. Tambahan, Avid tidak menawarkan produk yg menunjukan fungsi yang dibutuhkan dalam proses komplek tinggi dari pembuatan penyiaran berita. Untuk memuaskan kebutuhan dari pelanggan penyiaran berita, produk perusahaan membutuhkan bundle dengan digital atau analog yang dibuat vendor lain.



Lebih jauh, industri penyiaran berita dominasi analog based. Perpindahanya dari analog ke format digital secara signifikan terhambat oleh biaya perpindahan tinggi yang melibatkan kapital dan pelatihan orang, sebagaimana resiko yang diterima dihubungkan dengan system yang dapat mencampur kedua analog dan peralatan digital.Tetapi, perusahaan penyiaran berita diharapkan membuat perubahan ke teknologi digital yang lebih siap ketimbang umur penggantian peralatan analog yg mahal.



Faktor lain yang membatasi kinerja Avid dalam industri adalah ukuran perusahaan dan pengalaman dibanding pesaing seperti Sony. Ketika investasi $1jt atau lebih pada area yang sangat kritis dari operasinya, perusahaan penyiaran berita bersandar sepenuhnya pada pemasok jangka panjang dengan stabilitas keuangan dan catatan kinerja mapan. Avid, perusahaan kecil teknologi tinggi (kurang dari penjualan $500jt) dan pendatang baru, menyadari bahwa kehadiran kuat dalam pasar akan perlu waktu.



Sumber ketiga revenue Avid adalah marketing konsumer eceran. Perusahaan masuk pasar ini tahun 1994. Pembeli produk Avid termasuk individu yang misalnya mengedit video home atau foto pada PC mereka. Beberap perusahaan menghasilkan produk yang melayani market home, namun masih belum ada perusahaan sebagai pemimpin pasar. Avid bersaing dalam pasar ini dengan produk cinema avid. Avid cinema dibuat oleh perusahaan sebagai media memakai paket software video bagi konsumen eceran. Individu dengan videotape permainan sekolah, event olahraga, perkawinan, ultah dan temu keluarga, misalnya, dpt menggunakan avid cinema untuk menambah efek spesial, lagu dari CD favorit dan judul professional untuk memutar tape kedalam movies. Avid cinema menerima riview industri yang positif. Mendapat finalis 1999 untuk produk video digital terbaik oleh editor majalah popular photografi dan digital focus, pelopor penerbit berita digital. Tahun sebelumnya ini dinamakan produk baru terbaik pada retail exchange dan nominasi dalam daftar show terbaik di Comdex (keduanya event perdagangan dan industri ).



Karena pasar consumer retail adalah masih masa bayi, penjualan diharapkan tetap bagus sampai beberapa tahun kedepan. Tetapi, avid menyadari bahwa market memegang potensi penjualan yang besar dimana individu mendapatkan edukasi dari penghargaan teknologi digital edit sebagai aplikasi komputer home standard. Keberhasilan yang dihasilkan dalam pasar ini sebagai biaya dari kamera digital kualitas tinggi (produk yang mengantarkan utilitas cinema avid) jatuh di bawah $500 dan sebagai pengecer komputer seperti best buy dan computer USA mulai dilaporkan bahwa kamera digital adalah satu dari perlengkapan komputer/ elektronik bergerak tercepat yang ada.



Pengembangan produk



Produk pertama avid media composer dirancang khusus untuk film dan industri tv. Memang, pertumbuhan cepat perusahaan adalah sumbangan dari penerimaan pasar produk awal ini. Meski avid menawarkan produk lain ke film dan industri tv, media computer menyumbang paling banyak kedua revenue dan profit perusahaan.



Avid menyumbangkan pengembangan produk baru. Perusahaan menjaga tingkat konsistensi RD sekitar 17% dari penjualan yang dicerminkan oleh rata-rata industri. Tambahan, avid terikat beberapa akuisi untuk mendapat teknologi pelopor dimana perusahaan percaya melengkapi keberadaan teknologi in house. Sebagai hasil akuisi, avid dapat mengembangkan kehadiran industri penyiaran berita (dengan instalasi system pada CBS, NBC, CNN, CNBC dan BBC misalnya) sebagaimana audio dan pasar efek khusus. Avid juga membentuk aliansi dengan perusahaan lain yang membantu mengembangkan teknologi baru.



Produk avid dapat dikelompokan menjadi 6 kategori umum : video dan produk edit film, produk audio, system pengumpulan berita digital, system komputer ruang berita, grafik dan produk efek spesial dan system penyimpanan. Perusahaan menawarkan banyak produk dengan range luas dalm biaya dan market target. Misalnya, avid symponi, system edit film canggih, seharga $150rb dan dirancang untuk editor profesional. Sebaliknya avid cinema seharga $139 dan dipasarkan konsumen pengecer menggunakan pc.



Pelaksanaan Standard Industri



Sebagai pelopor teknologi digital, avid memimpin pengembangan dan promosi standard industri terbuka. Perusahaan mengeluarkan domain umum platform teknologi digital basic yang dikembangkan dan diterapkan dalam pembuatan produk khusus. Platform atau standard dasar ini diamati dalam pembuatan produk media digital yang dikenal dengan open media framework (omf). OMF tumbuh ke dalam upaya kerjasama yang melibatkan lebih dari 150 pabrikan pelopor produk digital. Produk berdasarkan standard omf sesuai dengan produk media berdasar OMF lainnya (apakah grafik, video, audio, animasi atau teks), memungkinkan produk berbeda dari vendor yang berbeda digunakan terus menerus selama proses produksi.



Avid menyadari keuntungan mengeluarkan teknologi digital basic ke perusahaan menyediakan persaingan sebagaimana produk pelengkap. Standard terbuka menghasilkan peningkatan pengembangan teknologi media digital inovatif dan produk dengan lebih banyak perusahaan menghasilkan perlengkapan sebagaimana persaingan produk. Ini mempercepat industri mana yang pindah dari analog ke teknologi digital. Tambahan, dengan standard industri mapan, avid memastikan produk nya akan sesuai dengan produk pelengkap dari perusahaan lain- seperti kemampuan meningkatkan utilitas produk avid. Tetapi dengan membuat teknologi digital basic siap pakai ke perusahaan lain, avid kehilangan kemampuan membedakan dirinya dengan pesaing.



Aliansi strategis



Untuk memunculkan daya saing avid terikat dalam beberapa aliansi horizontal dan vertical dengan perusahaan teknologi lainya. Produk avid awalnya dirancang untuk mengoperasikan apple komputer; tetapi selama tahun 1990 pabrik PC mulai muncul perbedaan kinerja produk antara apple dan ibm-compatible computer. Akibatnya pangsa pasar apple menurun dan menyebabkan ahli industri bertanya kelangsungan perusahaan. Avid menyadari resiko menjadi yang bergantung teknologi apple untuk menjalankan software maka masuk kedalam aliansi vertical dengan intel untuk mengembangkan teknologi yang diperlukan memindahkan software perusahaan ke microsoft windows/intel based pc (umumnya dikenal dengan wintel). Termasuk mengambil alih intel 6.75% kepemilikan avid th 1997, menyediakan perusahaan dengan 14.7% jt cash untuk membantu mendanai proses. Tahun 1994 avid mulai mengapalkan produk yang bisa dibandingkan keduanya apple dan wintel platform dan melanjutkan memindahkan dan mengembangkan produk tambahan ke dan untuk system wintel. Akibatnya, avid mengurangi ketidakpastian yang berhubungan dengan ketergantungan terhadap pc apple sementara pada saat sama membuat produk siap untuk pasar yang lebih luas keduanya apple dan pc wintel user.



Kerjasama lain yang dibentuk avid adalah pada tahun 1993 aliansi vertical dengan pembuat film george I dan lucas film dan grup digital lucas. Perjanjian ini membolehkan kerjasama pengembangan perpanjangan dari produk spesial efek untuk industri film. Avid menyediakan software dan hardware dan lucas menyediakan spesifikasi design. Avid juga masuk kerjasama dengan ikegami tsusinki ltd tahun 1994 mengembangkan kamera digital gerak penuh pertama kali.



Strategi belum lama ini termasuk avid akuisi tahun 1998 atas softimage, perusahaan Canada yang berlokasi di Montreal. Meski dikritik beberapa analis industri atas pengembangan produk yang tidak deadline dan tidak menjaga mutu, softimage dikenal pelopor 3D software yang dirancang menghasilkan efek khusus di movie dan iklan menggunakan system operating. Softimage awalnya divisi Microsoft dan dianggap pesaing avid. Bagian dari $248jt akuisi termasuk $128jt dalam goodwill, Microsoft mengambil 9.1% kepemilikan avid. Microsoft membuat perubahan status dari pesaing menjadi pemilik yang searah avid dengan satu dari perusahaan kuat dalam industri teknologi.



Pada tahun 1998 avid juga masuk aliansi strategi horizontal dangan tektronik. Perjanjian ini menghasilkan gabungan perusahaan antara 2 pesaing. Avid dan tektronik dapat mencari kebutuhan masing-masing sehubungan persaingan pasar penyiaran berita. Diversifikasi organisasi Tektronik dengan revenue $2 milyard keuntungan pada area teknologi penyimpanan digital sebagaimana jejaring pelanggan dalam industri penyiaran berita. Meski avid menghasilkan peralatan penyimpanan digital diakui yang diproduksi oleh lebih luas serta diterima industri. Tambahan, menjadi baru dalam industri penyiaran, avid masih mengembangkan jejaring customer. Lebih jauh market menerima avid dangan stabilitas keuangan yang lebih besar jika partner beroperasi dengan perusahaan yang lebih besar. Pada waktu yang sama tektronik mengakui produk edit digital avid lebih unggul.



Gabungan tersebut dinamakan avstar. Masing-masing partner mengambil 50% posisi kepemilikan dan tahun 1999 masing-masing menyumbang $2jt cash dan asset. Melalui avstar, avid dan tektronik rencana menggabungkan kemampuan mereka dalam edit digital dan teknologi storage, sementara lebih lanjut membuat inovasi dan pengembangan produk dalam market penyiaran. Bersama, mereka mengharapkan pertumbuhan pangsa pasar dalam industry yang lebih pesat sementara mengurangi resiko masing-masing menghadapi perkembangan pasar.



Manajemen Avid



Sejak berdiri tahun 1989 sampai tahun 1995 pendiri avid memposisikan sebagai CEO. William Warner adalah yang pertama dan terus menjabat sampai tahun 1991, ketika ia pergi mulai kejadian, perusahaan yang tidak bersaing. Berikutnya, Curt Rawley menjabat sampai tahun 1995. Keduanya menjawab BOD dengan partner greylock management corporasi perusahaan modal ventura yang bermain peran pada dana ekuitas initial company.



Sementara pendiri mengarahkan avid ke masa pertumbuhan dan sukses, avid bertujuan meluaskan pangsa pasar dan mengembangkan posisi pelopor industri menuju perusahaan dengan profit. Kekurangan kontrol dan monitoring pertumbuhan mengakibatkan banyak catatan tahun 1996 mengenai berbagai asset, termasuk persediaan dan hutang yang tidak tertagih. Saat yang sama pertumbuhan penjualan menurun hingga berakibat tidak cukup kontrol pada garis bawah perusahaan.



Penjualan melambat dan profit menurun selama masa ini mengarahkan BOD Avid membutuhan tim management baru yang bisa menjalankan kemampuan fungsionil guna mencairkan kinerja perusahaan yang buruk. Akibatnya avid bergeser tekanannya dari pangsa pasar menuju pertumbuhan seimbang dengan meningkatkan profit. Board memutuskan melalui praktek beberapa kali, yang dibutuhkan perusahaan adalah individu luar dengan pengalaman nyata menjalankan perusahaan teknologi besar dalam lingkungan persaingan tinggi.



Tahun 1996 Bill Miller - 53 executive di industri teknologi diangkat untuk mengubah keberuntungan avid. CEO yang sebelumnya dari quantum komputer, Miller membuktikan kemampuan kepemimpinan di industri hard drive komputer. Di bawah Miller quantum tumbuh $1.1 milyard revenue menjadi $3.4 milyard hanya dalam 5 tahun.



Tanggung jawab Miller sebagai CEO avid adalah melaksanakan kontrol yang diperlukan guna mengurangi struktur biaya perusahaan dan kemapanan kembali avid sebagai perusahaan yang tumbuh dengan profit. Pemahaman kebutuhan akan perubahan cepat avid, Board membantu Miller dengan wewenang tingkat tinggi. Ia diangkat pada posisi keduanya -CEO dan Kepala BOD Avid. Sisa 8 Board adalah Director non eksekutif.



Upaya Avid Berubah



Miller senang dengan prospek Avid dan kekuatan kompetitif yang ada, mengatakan bahwa di dunia dimana media dapat digunakan untuk sembarang pesan dan pengiriman melintas udara, kabel atau jejaring komputer, mereka bermaksud melanjutkan menyediakan alat yang orang-orang gunakan. Bagi Miller perubahan saluran tv menunjukan potensi avid: Rata-rata cabel perumahan akan segera mempunyai 90 saluran dan dengan perkembangan cepat dari sinyal digital jumlah bisa bertambah secara cepat. Makin banyak saluran berarti makin banyak programing untuk edit dengan software seperti yang dimiliki avid.



Bagaimanapun, Miller juga mengenali bahwa avid telah tumbuh kemampuan manajemenya dan bahwa pemimpin market harus diimbangi profit yang besar. Hasilnya ia mulai dengan membangun tim management baru. Termasuk mengangkat Chief Keuangan baru (CFO) untuk melaksanakan system control keuangan menekan biaya. Persediaan dan piutang berkurang signifikan dari $63.4jt dan $107.9jt berturut tahun 1995 menjadi $9.8jt dan $79.8jt berturut-turut tahun 1997. Upaya ini meningkatkan arus kas perusahaan sementara mengurangi resiko yang berhubungan dengan persediaan dan penarikan piutang. Perubahan mencakup perampingan orang mengurangi sekitar 70 staff dan menghentikan pengembangan dan penjualan produk tertentu. Jumlah biaya perusahaan adalah $15.8jt.



Dalam upaya mendorong pertumbuhan perusahaan dan profitnya, Miller mulai membuat perubahan mendasar dalam operasinya. Satu perubahan diantaranya melibatkan saluran distribusi produk perusahaan. Selama masa Miller, Avid berkembang lebih kuat dalam hubungan dengan perusahaan yang dapat mendistribusikan produk-nya menjadi komersial luas dan pelanggan eceran. Seiring saluran tumbuh Avid dapat mengurangi penjualan langsung (in house) kepada hanya account kunci yang membutuhkan jumlah besar selama dan sesudah proses penjualan. Avid jadinya dapat mengambil keuntungan dari jejaring yang berkembang baik dari anggota saluran tidak langsung (distributor mandiri, pengecer nilai tambah, dan dealer) sementara mengurangi biaya keseluruhan berhubungan dengan penjualan in house dan kegiatan marketing. Penjualan melalui anggota saluran tidak langsung (lawan langsung, fungsi penjualan in house) tumbuh dari 50% dari penjualan tahunan total tahun 1996 menjadi 85% tahun 1999.



Perusahaan juga focus ke fungsi dukungan pelanggan, dengan meluaskan sumber daya dan re-struktur fungsi untuk meningkatkan kepuasan pelanggan. Misalnya menurut artikel forbes tahun 1998 setelah Miller meningkatkan pelatihan bagi staff pendukung, kemampuan Avid untuk menyelesaikan masalah pada pelayanan yang pertama meningkat dari dibawah 50% menjadi 90% dan tenggang waktu pelanggan harus menunggu untuk bantuan teknis menurun sekitar 2 menit.



Di bawah kepemimpinan Miller Avid bekerja menuju pencapaian misinya menjadi pemimpin penyedia alat pembuatan digital yang kuat digunakan untuk hiburan dan informasi dunia. Perusahaan tidak hanya mencari untuk memperluas keberadaanya dalam marketing media digital tapi juga menargetkan marketing baru dan melanjutkan untuk menuju dan mendukung standard industri terbuka.



Bagaimanapun, manfaat dari restruktur Miller hanya sebentar bertahan. Softimage akuisisi-tindakan strategic besarnya Miller sementara mengendalikan Avid, dan barangkali transaksi tunggal paling penting dalam sejarah perusahaan- lebih sulit bagi perusahaan menggali daripada diharapkan pada awalnya. Tambahan, 3 tahun masa Miller sebagai Chief Eksekutif, pertumbuhan penjualan dan profit tetap turun. Tahun 1999 Avid mencatat revenue $452.6jt (6% turun dari 1998) dan rugi $137.5jt- kinerja terburuk sejarah perusahaan dalam 10 tahun. Lebih jauh dari 1998 sampai 1999 kas dan securities marketabel menurun dari $111.8jt menjadi $72.8j$: current ratio menurun dari 2:1 menjadi 1.7:1 dan hutang jangka pajang sebagai persentase dari ekuitas meningkat dari 4.6% menjadi 8.5%.



Ini mengakibatkan BOD sekali lagi bertindak dengan mengganti top managament. Akhir 1999 Miller - CEO, Kepala Board dan Clifford Jenk - Presiden - keduanya mundur. Beberapa bulan berikutnya awal 2000 William Flaherty - CFO tidak dapat memberi perubahan cepat di marketing. Sebagai akibat Board menentukan bahwa yang lain seluruhnya di-restruktur perlu memposisikan perusahaan untuk pertumbuhan mendatang dan kemampuan mencetak profit.



Krall sebagai Chif Operating Officer dari Avid Digidesign Division ditunjuk sebagai posisi CEO April 2000. Digidesign Division menjadi tumpuan cerah bagi Avid; telah mencapai record penjualan dan pendapatan operasi sementara perusahaan sebagai keseluruhan yang berkinerja di bawah harapan. Dalam membuat perubahan management puncak terakhir, Board memutuskan tidak mengangkat Krall sebagai Chairman. Posisi Kepala Board (juga dipegang Miller selama masanya) diisi oleh Robert Halperin, anggota board non eksekutif. Krall adalah satu-satu nya eksekutif didalam sekarang 6 anggota board. Restruktur juga membawa 11% pengurangan staff. Sekitar 200 pekerjaan ditutup dan berbiaya $10jt bagi perusahaan. Avid mengharapkan restruktur untuk mengurangi biaya $20jt tiap tahunnya. Perusahaan juga mengumumkan bahwa akan menghentikan pengembangan dan penjualan dari sejumlah produk yang ada. Yang Softimage minta sekarang adalah untuk bagian terpenting menyisakan restruktur dan mengijinkan melanjutkan beroperasi sebagai divisi autonomous relative dari persahaan.



Pandangan Kompetitif



Avid mengambil manfaat dari perkenalan tekno digital ke film dan industri tv. Keberhasilan perusahaan dicapai dengan menyediakan produk digital superior sebagai pengganti produk analog tradisional. Teknologi digital baru adalah awalnya dikembangkan dan dipasarkan oleh perusahaan inovatif kecil, banyak diantaranya bahkan gagal atau dibeli oleh Avid atau perusahaan lain dalam upaya melakukan kepemimpinan industri.



Bagaimanapun, persaingan cukup mendalam. Sebagai teknologi digital yang menjadi lebih mapan secara perusahaan, persaingan diharapkan dari beberapa yang besar, perusahaan analog baik yang mulai (atau diharapkan mulai) menghasilkan produk digital sendiri. Perusahaan ini, seperti Sony dan Panasonic jauh lebih besar dari Avid dan secara financial jauh lebih besar, sumberdaya teknis, distribusi, dukungan dan marketing. Avid juga mengharapkan menghadapi persaingan dalam satu atau lebih pasar dari pabrik computer seperti IBM, Compaq dan HP dan vendor software seperti Oracle dan Sybase. Semua perusahaan ini telah mengumumkan keinginanya masuk beberapa atau seluruh market target perusahaan, khususnya penyiaran berita dan market efek khusus.



Dilemma Krall



Kita rubah industri konten digital, kata Krall. Kita membangun alat pembuatan konten terbaik dalam video, film 3D dan audio; 85% film dibuat USA sebenarnya menggunakan alat Avid. Tambahan, peralatan Avid digunakan mengedit 95% program tv prime time. Perusahaan telah meletakan kepemimpinan dalam beberapa market dengan mengajukan teknologi baru pada strategi yang tepat untuk memenuhi kebutuhan pelanggan yang muncul. Bagaimanapun bagi Avid tetap menjadi pelopor, tetap menjaga pemahaman tepat dari kebutuhan pelanggan, teknologi yang maju dan dinamika persaingan dalam market yang dilayani.



Krall dan tim management baru yang ia butuhkan untuk membangun menghadapi banyak tantangan. Menyangkut tingkat pertumbuhan lambat dalam pendapatan perusahaan dan kerugian. Beberapa analis industri melihat pembelian softimage sebagai tanda investor menunggu, apakah akuisi Avid terlalu banyak bagi perusahaan untuk memanage. Krall berkeyakinan bahwa mudah untuk membiayai dan mendapat pendapatan dan menunjukan bahwa tujuan pertama perusahaan adalah membawa biaya kembali (dengan pendapatan perusahaan). Ia juga memperhatikan bahwa tujuan kedua perusahaan adalah meletakan dasar pertumbuhan masa depan. Sementara itu Avid beresiko bersaing dengan perusahaan internasional besar, seperti Sony dan Panasonic, bahwa menarik sebagai peluang yang ditawarkan perusahaan teknologi digital yang telah mempelopori. Kemampuan Avid bersaing efektif terhadap perusahaan mapan ini akan diuji sungguh-sungguh.



4 tahun pengalaman Krall di Avid termasuk sebagai direktur digidesign dari program management, wakil presiden engineering dan COO. Latar belakang teknis yang kuat dengan gelar BS dan MS degree dari MIT dan sebuah MBA dari Harvard, sebagaimana perusahaan dan pengetahuan industri akan bertahan pada keputusan strategi yang ia akan harus buat mengubah Avid. Selama tahun pertamannya sebagai CEO Krall yang proaktif mengumumkan focus baru di produk editing terkait internet dan sekali lagi menempatkan Avid pada track akuisisi. Tahun 2000 Avid membeli Pluto teknologi internasional dan the motion factory jumlah total $2.3jt. Pluto yang spesialisasi teknologi storage dan produk networking untuk industri penyiaran berita, dan akuisi sejak 1998 oleh Softimage. Krall juga melihat aliansi dengan Intel dan Microsoft mengembangkan produk pembuatan tv digital interaktif.



Krall menyelesaikan tahun pertamanya bersama Avid dengan keberhasilan. Pendapatan Avid tahun 2000 naik 5% dari 1999 dan meskipun perusahaan mengalami kerugian netto $56jt namun cukup drastic dari kerugian $137jt tahun 1999.



Ketika masuk Avid tahun 2001, Krall harus menilai ulang keputusan tahun pertamanya dan menentukan tindakan strategi baru, jika ada ia harus memastikan perubahan keberhasilan Avid. Dengan persaingan tajam Krall tahu ia harus bertindak cepat. Keputusan strateginya lebih jauh diversifikasi perusahaan kedalam internet, game dan pasar tv digital sebagaimana lebih jauh commitmen market penyiaran berita akan harus ditimbang terhadap kinerja perusahaan tahun 2000. Krall harus menilai ap-akah ia mengirimkan sebab masalah kinerja lampau perusahaan. Penurunan Kinerja keuangan Avid yang lainnya tidak akan hanya menghasilkan hal yang lebih jauh dalam perusahaan dan komunitas investasi tapi juga memperhatikan kemampuan perusahaan untuk bertahan sebagai entitas yang mandiri. Dengan kecerdasannya dan sense of humor, Krall menyatakan jika kamu melihat sejarah Avid, hampir mempunyai CEO baru tiap 3 tahun. Dapat ditebak barangkali ia telah meninggalkan 2 tahun dari waktu-nya .

Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog