Responsive Banner design

Magic World

Seorang trainer property mengatakan bahwa magic world akan membantu pemasar maraih target pelanggan yang diinginkan. Sebagai ganti menyebut produk property baik rumah, apartemen maupun property lainnya bisa digunakan magic wolrd semisal “program”. Jadi seorang pemasar bisa mengatakan kepada calon pembeli misalnya, kami memiliki program hunian yang aman, nyaman dan terlengkap fasilitasnya. Dengan uraian program hunian maka calon pembeli digiring mengubah mindset bahwa apa yang dibicarakan tidak sekedar rumah namun juga lingkungan dan fasilitasnya. Magic wolrd program juga dapat terus dikembangkan sesuai minat dan ketertarikan dari pembeli. Bila pembeli adalah seorang pemeluk agama taat, maka bisa ditambahkan bahwa program hunian juga bernuansa religi dan memberikan seluasnya fasilitas yang nyaman dalam beribadah.

Berikutnya mengenai bahasan harga atau seputar uang yang akan dibayarkan pembeli pada saat setuju membeli. Sebaiknya tidak digunakan istilah uang atau pembayaran namun bisa digunakan kalimat “investasi yang bapak/ibu tanamkan kami jamin akan aman dan terus berkembang”. Di sini calon pembeli diarahkan tidak sekedar mengeluarkan sejumlah uang guna membeli rumah dan that’s it, namun lebih sebagai langkah investasi dimana terkandung pengertian nilai dari property yang dibeli tidak akan hilang.

Banyak pembeli property yang akhirnya kecewa manakala proses transaksi selesai dan mulai menempati rumah/apartemen/ruko-nya namun keluhannya jarang ditanggapi secara memuaskan. Di sini selain memang dibutuhkan bukti dan komitmen yang kuat, magic world dapat juga digunakan misalnya, “kami selalu menjamin bahwa investasi dari bapak/ibu akan kita jaga komitmen-nya secara berkelanjutan”. “Meskipun nantinya bapak/ibu sudah selesai transaksi namun komitmen kami akan tetap serta menjamin kepuasan seluruh pelanggan kami”.

Magic world sangat sering digunakan tidak hanya dalam proses pemasaran rutin sehari-hari namun juga dalam slogan suatu produk. Pada produk otomotif sering kita dengar misalnya kijang memang tiada duanya, atau belakangan menjadi kijang adalah kesempurnaan setiap keluarga. Dalam perbankan akrab kita dengar slogan, kami memahami kebutuhan anda, atau produk kami adalah media kenyamanan anda dan seterusnya.

Pada dasarnya sebagi orang timur factor empati dan ingin dihargai begitu kental terpatri dalam benak setiap orang, sehingga dengan menggali-nya tidak mustahil akan dapat meyakinkan calon pembeli yang kita targetkan. Kata-kata, pujian tulus dan kemahiran menyusun kalimat akan dapat membantu seorang penjual/pemasar menuju momen traksaksi. Karena pada dasarnya menjual tidak sekedar produk kita laku, namun lebih merupakan pemenuhan kebutuhan pelanggan termasuk dinamikanya. Jadi focusnya bukan sekedar kita menjual namun bagaimana memenuhi kebutuhan pembeli, sehingga berbagai kegiatan yang dilakukan harus dimulai dan prioritas dari sisi dan kepentingan pembeli.

MRT

Atas kebaikan perusahaan, saya dan beberapa rekan lainnya berkesempatan mengunjungi sebuah pabrik di Singapura. Factory visit ini dilakukan menyusul kerjasama instalasi suatu produk safety di perusahaan. Setelah memperpanjang passport dan menyiapkan segala sesuatunya kami segera terbang dari Cengkareng ke Changi. Kunjungan yang singkat yakni 3 hari tentunya tidaklah cukup menyerap dan melihat negara kota tersebut.

Meskipun sebuah negara kecil yang bahkan akrab disebut dengan negara kota, terlampau banyak yang bisa dipelajari dan dicontoh dari sana. Pertama kita akan terkesima begitu meninggalkan bandara Cengkareng kita yang terkesan bangunannya kelam, proses boarding lama, kenyamanan hmm biasa saja sontak akan langsung berubah manakala menginjakkan kaki ke Changi. Bandara Spore tersebut, meski ini kali kedua saya datang, begitu nyaman, canggih dengan proses check ini dan boarding yang cepat serta begitu luas. Bersih dimana-mana, staf bandara nan professional serta kita akan nyaman berkeliling ke sudut manapun. Brosur pariwisata melimpah dan gratis, bisa minum gratis dengan air minum di berbagai sudut. Itulah bandara yang konon termasuk salah satu yang terbaik di dunia, termasuk jajaran penerbangan mereka -- Spore Airlines yang beberapa kali kabarnya menyabet gelar penerbangan terbaik dunia.

Hal yang menyita perhatian lainnya adalah mass rapid transport terpadu nan canggih. MRT ini umumnya berupa kereta bawah tanah yang menjangkau hampir semua bagian Negara dari ujung- ke ujung. Dari obrolan dengan warga setempat diketahui bahwa MRT ini sudah beroperasi hampir sepuluh tahun terakhir. Kita begitu dimanjakan dengan adanya MRT ini yang berbiaya murah nan cepat. Keberangkatan kereta hanya dalam hitungan 2 atau 3 menit dimana kita juga dapat berpindah jalur lainnya. Stasiun bawah tanah ini lagi-lagi begitu nyaman, luas dan bersih.

Yang muncul dalam benak kita barangkali siapakah yang merancang MRT terpadu nan canngih ini, kapan dan biayanya berapa besar. Konon saya dengar mantan PM Lee Kuan Yew adalah tokoh dibalik keberhasilan Spore menjadi kota dengan infrastruktur terbaik. PM Lee adalah tokoh pemerintahan, legenda hidup juga seorang alumni dari Harvard University yang disebut sebagai arsitek pembangunan Spore.

MRT bukan satu-satunya urat transportasi, di atas tanah terbentang jalan mulus nan luas dan tersedia berjibun sarana yakni busway maupun private taxi Mercy atau Toyota yang kesemuanya beroperasi dengan lancer, cepat dan jarang mengalami kemacetan jalan. Konon lagi, masayarakat tidak perlu membeli mobil yang pajaknya mahal karena transportasi sudah sedemikian nyaman, cepat dan murah. Dari obrolan dengan seorang sopir private taxi saya dengar bahwa dari ujung barat ke timur jaraknya sekitar 50 km sementara dari utara ke selatan sekitar 40 km-an dan dapat ditempuh rata-rata 40 menit. Ini jarak tempuh di atas jalan, sementara jarak tempuh MRT bawah tanahnya bisa lebih cepat lagi.

Hmm kebersihan baik, ketertiban pejalan kaki bagus ditunjang trotoar nan luas dan juga camera surveillance dimana-mana cukup menjamin keamanan warga setempat. Jarang ditemukan adanya polisi berkeliaran karena berbagai kegiatan warga berjalan tertib dan rapi. Konon bila diketahui kamera atau petugas baik meludah sembarangan, membuang sampah atau menyalakan korek gas akan didenda sekitar 500 sampai 1000 dollar. Hmm memang hukum harus ditegakkan bila menghendaki masyarakat tertib.

Kita setidaknya bisa bercermin dan melihat beginilah potret keteraturan dan keharmonisan masyarakat sebagai warga yang harus dilayani kebutuhan fasilitas umumnya. Sementara di pihak lain pemerintah mengatur sungguh-sungguh, mengelola pajak dengan benar—mengembalikan manfaatnya kepada wajib pajak serta mengutamakan kepentingan kesejahteraan rakyatnya.

Mengelola

Minggu siang jam 13.00 WIB ditayangkan di TV 7 siaran langsung motoGP di Circuit Sepang , Malaysia. Melihat gelaran-nya yang begitu akbar dan berkelas internasional, serta nuansa Circuit yang megah, bersih dan canggih, dimana tidak kalah dengan Circuit serupa di berbagai negara menggambarkan betapa Malaysia telah mencapai ambisinya menjadi tuan rumah salah satu olah raga palig bergengsi sejagat. Kita tidak hendak membahasnya namun kita hanya ingin mengambil satu prestasi bahwa negara sekelas Malaysia mampu membangun Circuit yang tentunya membutuhkan biaya triliunan rupiah - dengan mata uang kita. Sekaligus kita juga belum lupa bahwa kita pernah memiliki mimpi yang sama yakni membangun Circuit Sentul dan menjadi tuan rumah lomba otomotif global. Konon biaya untuk membangun Sentul jauh lebih mahal ketimbang Sepang.

Ternyata kita masih terus nakal dan kurang bisa mengelola dana yang notabene uang rakyat. Ibaratnya kita dan Malaysia mendapat mandat dan tugas yang sama, ini ada dana silakan digunakan membangun Circuit olahraga dan targetnya adalah menjadi tuan rumah rutin ajang lomba olahraga dunia. Kita mendapat dana besar dan betul membangun Circuit namun nyatanya sekarang Circuitnya nganggur dan hanya digunakan untuk lomba lokal belaka. Sementara Malaysia berhasil dan sukses membawa berbagai event dunia diadakan di Sepang dan tentunya arus wisata-pun dengan sendirinya ikut terdongkrak.

Sedah terlampau lama kita selalu berargumen untuk membangun ini itu selalu bilang tidak punya cukup uang. Membangun jalan tol katanya tidak punya cukup uang, membangun Irigasi juga sami mawon tidak punya cukup uang. Lha uangnya memang kemana selama ini, apa lenyap ditelan bumi toh. Coba kita lihat, pemungutan pajak jalan terus, penggalian sumber daya alam seperti minyak, batu bara, tambang, hutan dan masih ditambah masuknya hutang luar negeri yang katanya buat ngedongkrak anggaran belanja kita. Dari kesemuanya tadi kira-kira apa hasilnya yang bisa kita realisasikan? Apakah jalan tol kita sudah menjangkau berbagai kota di jawa, sumatera, sulawesi, Kalimantan, papua dan seterusnya, rasanya belum. Apakah kita memiliki banyak Irigasi yang menjangkau sawah-sawah rakyat, ini juga belum. Punyakah kita pabrik-pabrik yang menghasilkan berbagai produk kebutuhan rakyat, pabrik pupuk, pabrik semen, pabrik tekstil, pabrik gula, pabrik padi dan seterusnya, iya memang ada namun lebih banyak yang mulai tutup nampaknya.

Kita mencoba melompat, kenapa negara lain mampu membangun gedung bertingkat yang tingginya 500 meter, stadion olah raga nan megah, jembatan yang hebat, sarana transportasi terpadu canggih nan nyaman dan seterusnya. Tentunya mereka tidak bilang tiudak punya cukup dana, karena ini klise dan membohongi. Yang jelas mereka bisa mengelola sumber daya yang ada dan mengubahnya menjadi produktif demi meningkatkan kesejahteraan rakyatnya. Bagaimana dengan kita, sudahkah kita mengelola sumber daya yang kita miliki dengan baik. Itu stadion bola di Jakarta konon dibangun era Soekarno. Itu monas juga oleh Soekarno. Lha dari merdeka tahun 1945 sampai hari ini nampaknya apakah yang sudah bisa kita wujudkan? Kecuali dengan memiliki katakanlah 60 juta rakyat miskin, hutang yang milyaran dollar, kerusakaan hutan, air dan sumber daya alam lainnya serta prasarana yang jauh dari memadai, kiranya apakah yang sudah kita bangun sebenarnya.

Seharusnya kita sebagai negara dengan modal kekayaan alam besar dapat mengelola dan menjadikan Negara kita makmur dan kaya. Apakah ada yang bilang sumber daya alam kita lebih sedikit dari Jepang? Dari Korea? Dari Australia sekalipun tidak, justru kita lebih banyak kan, namun bagaimana hasil fisik yang kita capai dibandingkan Negara tadi.

Mengelola dan moral yang tulus adalah nampaknya benang merah yang kita perlu berkaca. Kemanakah larinya hutan-hutan yang sekarang gundul, berbagai pulau cantik yang pasirnya digerus, berbagai tambang yang dikeruk negara lain. Kemana larinya pajak triliunan yang dikutip dari jutaan rakyat. Marilah kita semuanya membuka mata bathin kita, ikhlas-kah kita membangun negeri ini. Retorika, lips service dan berbagai keformalan kita selama ini nampaknya tidak membuktikan apapun, kecuali makin menangisnya ibu pertiwi dan makin nelangsanya rakyat kita.

Doktor

Seorang dosen yang bergelar doctor konon di negeri ini hanya digaji 2 juta-an, atau setara dengan gaji lulusan STM yang bekerja di industri. Padahal untuk mendapat gelar doctor investasi yang dikeluarkan sangat luar biasa. Waktu, tenaga, biaya dan juga otak. Waktu-nya adalah selepas S1 masih ditambah S2 selama 2 tahun lalu doctor itu sendiri bisa 4 atau 5 tahun lagi atau keseluruhan dapat mencapai 23 atau 24 tahun !! Dan ini hanya sekolah doang. Coba waktu selama itu digunakan untuk mengumpulkan pasir misalnya atau untuk membuat batu bata, maka akan terkumpul berapa ribu atau juta kubik pasir atau jutaan batu bata. Tenaga yang dikeluarkan apalagi, bayangkan 24 tahun sekolah, berapa energi yang dihabiskan. Besarnya biaya apalagi --tidak terkira besarnya mengingat biaya S1 saja sudah mahal. Dan juga otak, karena tanpa otak encer kita tidak bakal bisa lolos S2 dan selanjutnya menyelesaikan S3 tersebut. Namun penghargaan yang diterima? Benar-benar tidak sepadan dan bahkan tidak cukup pantas untuk disebut penghargaan.

Itulah fenomena doctor di Negara republic bbm ini. Sungguh antara usaha, prestasi dan kerja keras sangat tidak seimbang. Kenapa kenyataan ini makin memberatkan orang untuk memiliki niat sekolah sampai jenjang dokor. Bukan semata alasan biaya atau otak encer, namun lebih karena realita bahwa buat apa sekolah tinggi kalau investasi yang dikeluarkan tidak sepadan. Dengan skema apresiasi seperti itu hal ini cukup berdampak pada warna maupun nilai profesi di masyarakat kita. Jarang ada nasehat bijak, bila ingin pintar sekolahlah yang tinggi sampai doctor. Nanti bila sudah pintar bisa bekerja yang menghasilkan uang. Atau bila sudah pintar bisa membuat perusahaan sendiri. Meski kondisi sekarang untuk memulai usaha butuh modal, koneksi dan jaringan juga. Bahkan sering ada anekdot, buat apa sih sekolah sampai jenjang doctor kalau bakal tidak jelas mau bekerja dimana. Perusahaan mana sudi merekrut doctor. Paling banter menjadi dosen tadi yang dijelaskan gajinya kecil atau setara dengan lulusan STM kerja di pabrik.

51 tahun sudah kita merdeka dan berapa orang doctor yang sudah lulus di negeri ini. Adakah 10 ribu saja, rasanya tidak kan. Dari sekitar 250 juta penduduk, atau jauh di bawah seper-ribu persen, coba seper-ribu persen. Ditambah sekarang sekolah sudah bergeser menjadi ajang bisnis yang berbiaya mahal, tentunya makin memustahilkan lagi semangat atau cita-cita orang untuk menyelesaikan jenjang doctor ini. Kuliah negeri saja perlu puluhan juta rupiah untuk sampai lulus. Apapalgi swasta yang umumnya lebih mahal. Jelasnya biaya yang dikeluarkan minimal adalah ratusan juta agar ada tambahan embel-embel doktor. Uang segitu darimana dapetnya, berapa banyak yang mampu dan setelahnya tidak jelas kapan balik modalnya. Memang tidak ada yang nyuruh mengapa hitungannya mesti balik modal. Toh ilmu tidak bisa dinilai dengan uang. Namun kondisi dan realita sekarang ya begitu. Berapa besar investasi, berapa lama balik modalnya serta bagaimana hitungan untungnya.

Ada barangkali perttanyaan menggelitik , kalau ingin mencari ilmu setingginya pan tidak harus menggapai doctor toh, bisa autodidak, bisa membaca, bisa merantau, bisa bertanya , bla bla. Pada konteks ini kita hanya menggaris bawahi bahwa pendidikan adalah proses pemikiran yang lama. Adanya eksistensi sekolah juga merupakan suatu kesepakatan panjang bahwa mencari ilmu yang resmi ya di sekolah. Sekolah akan melahirkan lulusan tertentu, sehingga jenjang akademis merupakan suatu jalur formal dalam system pendidikan kita. Kenapa kita membahas doctor adalah dalam kaitan ini, sehingga tidak semata bahasan mencari ilmu sebanyaknya atau setingginya. Apakah lantas dengan semakin banyak doctor akan menjamin Negara kita semakin maju. Jawabnya memang relative, namun tentunya lebih banyak doctor akan lebih memungkinkan Negara kita membangun dan maju ketimbang sedikit doctor.

Begitulah cerita doctor di Negara kita. Untuk mendapatkannya begitu sulit dan lama namun setelah didapat belum jelas jaminan apresiasinya. Namun kiranya jangan mengurangi semangat kita bila berobsesi paripurna dalam akademisi. Semoga ada bentuk balasan lain selain sekedar apresiasi materi belaka. Karena kita rasa konteks kita juga bukan soal materi, namun lebih dari itu. Konteksnya adalah keadilan dan kepantasan. Bila ternyata cara pandang dan kebijakan kita sudah bergeser maka belum terlambat diluruskan. Hargailah dunia pendidikan.

Kendaraan

Konon penjualan kendaraan roda empat nasional adalah sekitar 300 sampai 500 ribu per tahun. Geliat industri otomotif nasional dimulai sejak tahun 1970-an dan nampaknya mencapai puncaknya sekitar tahun 1995 sampai tahun 2000-an. Bila kita ambil penjualan kendaraan nasional sejak tahun 1980 saja maka selama 25 tahun dengan jumlah kendaraan terjual per tahun 300 ribu maka akumulasinya menjadi 7,5 juta unit. Dan bila panjang kendaraan anggap 4 meter maka dibutuhkan setidaknya jalan sepanjang 30 ribu kilometer atau setara dengan 30 kali panjang pulau jawa. Praktis dengan jumlah kendaraan segitu banyak bila tanpa diimbangi pembangunan panjang jalan akan berdampak semakin macetnya jalanan.

Jakarta, adalah kota dimana kendaraan terkonsentrasi. Pernahkah anda bayangkan bila di depan rumah kita saja sudah macet, sehingga sekedar untuk keluar pagar saja terhalang antrian kendaraan. Tidak percaya, nyatanya ini terjadi di berbagai bagian kota. Sebagai masyarakat kita kadang bertanya kemana saja pajak kendaraan yang jumlahnya triliunan rupiah kok kondisi jalan semakin macet ditambah kondisinya yang semakin rusak.

Ada anomali disini manakala kendaraan dibuat dan dipasarkan sebagai bukti kemajuan jaman dan kemudahan, namun di sisi lain kemacetan yang diciptakan menimbulkan biaya social dan beban emosi masyarakat. Ibaratnya untuk pergi sejauh 5 kilometer naik mobil bahkan kadang lebih lambat ketimbang naik sepeda onthel misalnya.

Kendaraan sebagai salah satu ikon suatu pembangunan serta sarana transportasi yang semestinya menjawab hambatan waktu, jarak, tenaga dan biaya sering mulai bergeser menjadi bagian dari hambatan itu sendiri. Di berbagai sudut jalan selalu berjejal yang namanya kendaraan dan menjadikannya sumber masalah social kita.

Mestinya ada yang harus diluruskan di sini bahwa pembangunan memang haruslah seimbang dan sejalan. Percuma menjual 400 ribu kendaraan per tahun bila sarana jalan terbengkelai. Alih-alih menikmati kemudahan berkendara justru timbul masalah dengan transportasi kita. Banyak pakar mengatakan bahwa sebaiknya dikembanagkan mass rapid transport semacam subway, busway atau monorail. Hal ini yang dilakukan di Negara lain ketika jumlah kendaraan pribadi semakin banyak dan jalanan tidak lagi dapat menampung jumlah kendaraan.

Namun bila pembangunan mass rapid transport baru dilakukan sekarang dan itupun berjalan begitu lambat masyarakat luaslah yang menderita dan membayar social cost sangat mahal. Semestinya pembangunan itu dilakukan 5 atau 10 tahun silam dan hari ini sudah menjadi bagian terpadu dari system transportasi kita. Kenyataanya itulah yang terjadi, kemacetan semakin parah ditambah project mass rapid yang menyita waktu, bagian badan jalan serta lambannya project yang mestinya menjadi super project yang dikebut 24 jam sehari 7 hari seminggu.

Nasi menjadi bubur dan kendaraan telah menjadikan kita begitu lelah dan terbebani setiap harinya. Seolah tak pernah ada titik terang dan gambaran akan nyamannya berkendara di Jakarta ini maupun di kota-kota lainnya yang rata-rata menghadapi masalah baik prasarana jalan yang rusak parah maupun perimbangan jumlah kendaraan dan kapasitas jalan yang ada. Belum ditambah dengan perilaku pengguna jalan kita yang seenaknya sendiri maupun jarang yang mematuhi rambu-rambu lalu lintas.

Time is (NOT) money

Pernahkan kita bepergian dengan jarak yang normalnya ditempuh 30 menit menjadi 3 jam. Pernahkan kita melakukan suatu urusan yang hanya makan waktu 10 menit namun perjalanan bolak baliknya mencapai 5 jam? Bila anda tinggal di suburban Jakarta dan setiap hari harus bolak balik ke jantung kota dari rumah kita dipinggiran atau di luar kota maka pengalaman di atas akan sering dilakukan. Bahkan saya pernah membuktikan bahwa ternyata jalan kaki (cepat) pada jam sibuk bahkan lebih cepat dari naik mobil ! Saya jalan sekitar 2 km dari jalan Thamrin menuju Semanggi dan cukup butuh 20-an menit, sementara bila kita naik mobil pada jam sibuk bisa makan waktu 45 menit sampai 1 jam.

Konon segala sesuatu yang normal di negara lain begitu dipraktekan di Indonesia belum tentu hasilnya sama, biasanya hasilnya akan aneh-aneh. Orang Eropa-pun akan berpikir seribu kali sekedar memboyong sebuah mobil Bentley atau Rolls Royce ke garasi meskipun cukup uang untuk membelinya. Karena mereka lebih realistis dalam bertransaksi dan memiliki barang. Bagaimana di Indonesia atau khususnya Jakarta, itu mobil bakal pasti ada yang membeli meskipun harganya mendekati 10 milyar misalnya. Dan apakah alasannya, ternyata seputar prestige atau exclusive belaka.

Coba datang ke tempat-tempat makan malam bergengsi di Jakarta di amati begitu royalnya tamu atau pembeli mengobral tips dengan recehan katakanlah 20 ribuan, sementara terlampau banyak kaum papa, anak terlantar, kaum jompo bergelimpangan di jalan-jalan dan pembeli yang tadi royal-pun tidak tergetar hatinya melihat hal ini dari dalam mobilnya nan mewah dan nyaman. Boro-boro melempar recehan 20 ribuan, paling banter koin 100-an, 200-an atau bahkan tidak sama sekali.

Ada lagi soal gengsi dan kebanggaan kalau bisa katakanlah menggunakan produk import, atau latah menyekolahkan anaknya ke Singapura atau Amerika. Atau bila memang uang banyak maka mobil keluarga haruslah 4 yakni buat ngantor, buat shopping istri, ngantar anak sekolah dan buat stand by di rumah. Jadilah memang kita jor-joran belaka soal gaya hidup. Eh nglantur nih, tadi ngomong apaan sih, oh ya soal waktu ternyata ya, judulnya saja time is,,,. Benar bahwa kadang waktu di tempat kita ini bukanlah hal yang berharga. Di tempat kerja bisa saja kita meeting berjam-jam, tapi kadang apa hasilnya. Nah yang ini memang related dengan teknik dan perencanaan meeting yang efektif seperti apa, namun tetap waktu turut terlibat.

Masalahnya adalah bahwa kondisi fisik kita, kondisi jalan, kondisi transportasi kita, tata ruang kota, tata jalan, perempatan, pasar, kaki lima, perilaku pemakai jalan dan sembarang hal yang berhubungan dengan akses lalu lintas orang dan barang sangatlah memprihatinkan. Hingga praktis segalanya mampet pada saat jam sibuk, dan belakangan pada hampir sembarang waktu jalanan macet. Jadilah slogan hebat waktu adalah uang, waktu adalah ilmu atau waktu adalah investasi menjadi berantakan semua. Waktu ternyata memang tidak berharga manakala terbentur dengan kondisi akses transportasi nan semrawut.

Sebuah media menyebutkan penjualan motor 2005 tembus 5 juta unit, hmmm coba kita jejerkan motor itu katakanlah 1,5 meter dikali 5 juta, nah berapa kilometer tuh panjangnya. Dewasa ini di jalanan kendaraan roda dua lah rajanya. Makanya bagi yang mobilisasinya kebetulan naik mobil atau angkutan umum, mesti siap-siap mengalah dan mengorbankan lebih banyak waktu. Saking banyaknya motor saya pernah menghitung di perempatan jalan pas tidak ada polisi. Bila kita mengendarai mobil dan sekedar ingin belok saja, mesti menunggu diserobot puluhan motor barulah bisa nyelip satu mobil. Katakanlah 50 motor lewat baru sebuah mobil berkesempatan belok.

Akhirnya hakikat kita membangun sarana transportasi guna pencapaian kemajuan dan kesejahteraan rakyat kadang ironis. Lha jalan kaki saja malah lebih cepat ketimbang naik mobil kan artinya bikin jalan dan mobil malah nggak bikin efektif toh. Bikin motor untuk menggerakan ekonomi dan mendongkrak transportasi malah menjadi biang dari segala kesemrawutan dan kemacetan belaka. Nampaknya kita harus redefine ulang segala bentuk kegiatan pembangunan sarana transportasi kita agar selaras dengan efektifitas waktu.

Blank

Do you have ever had intention to write but it is blank on your mind. Yes sometimes so, And right now I have totally now idea about what to write down. But I am eager to try writing even nothing on my mind. Today not much I have to do with my main job unless little briefing and little type on my computer. Even I have time to spend my rest time with some colleague upstairs. We talk any topics from job to anything else matter. And in the lunch time we order to office boy to buy our lunch and enjoy together our menu like rice, vegetables, some fried-eggs and little others. Hmm this lunch feel good even the things are quite common.

After lunch with stomach are full then we take a pray and followed by discussing little job. We just supervise some other job implementing on the floor upstairs and much more to spend relax time. Due to any other thing to do then I am trying to read some hobbies in the internet. I search some advertising and some light articles. Then it is arise in my think to write on my blogs and I find it blank on my head.

So what else I should type now, hmmm maybe about end of day. This is supposed such heavy topics I think but let us see. From certain source I have been read that next hundred and sixty years the end of day shall be coming. So it is based on the prediction of wise man. All of you may not believe or some other may believe. Any religion probably teach us that end of day surely will be coming, because this world is only a moment.

Relevant to this opinion we may think that water also will be run out someday, isn’t it. If today we may drink any much water we want but next ten or twenty years water might be run out and we may not drink as we need. It is very scares of imagining but that is the fact. And this earth / globe is also consists f some layers that derived from fire in the center of this globe then very hot land or mud. Actually the surface of this land only very thin compares to overall size. Someday the center of fire getting hotter and hotter and may explode this exciting place.

Our universal also consists of some planet and stars in which some day will occur crash among the planet. It is still any other part of this universal that if we think even logically it may not last forever. That is why the end of the day not such utopia but realistic. So are all of you ready to face this judgment day or we still exploit this source as much as we need. So are you already doing some good thing to human kind and to the earth. If you think that all of big thing around us are really just a moment thing then prepare at your best before end of day real coming and end up all the things.
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog