Responsive Banner design

Lady Diana Spencer

Inggris terkenal tidak hanya sebagai Negara maju industri dan pendidikannya namun karena masih memiliki figure Raja/Ratu selain Perdana Menteri dalam pengelolaan Negara. Ratu Elizabeth adalah penguasa kerajaan Inggris Raya yang memiliki sejarah, dan cerita nan panjang.

Pangeran Charles adalah putera dari Raja/Ratu yang beristrikan wanita cantik Lady Diana Spencer. Hampir seluruh dunia mengenal belaka kemolekan menantu Ratu ini dan menorehkan berbagai cerita baik yang indah sampai cerita perselingkuhan.

Tahun 1997 adalah tahun dimana Lady Di mengalamai kecelakaan mobil yang akhirnya mengakibatkan kematiannya. Lady -mantan menantu Ratu meninggalkan dua anak yang bergelar pangeran yakni William dan Harry. Kematian Lady terjadi pada hari Sabtu di sebuah terowongan jalan di Prancis. Dunia menangis dan tidak terhitung rakyat Inggris yang berduka serta menaruh rangkaian bunga di depan Istana. Tumpukan karangan bunga berhari-hari dari sekian banyak orang membentuk bukit bunga. Halaman istana sampai dipenuhi dengan bunga duka rakyat Inggris.

Ratu Elizabeth yang mengetahui kematian Diana memberikan pendirian bahwa Lady Di bukanlah anggota istana lagi dan seyogyaknya dilakukan prosesi pemakaman biasa. Artinya tanpa upacara layaknya kematian anggota kerajaan, tanpa pengibaran bendera setengah tiang dan prosesi kerajaan lainnya. Dody Alfayet, teman Lady Di yang juga meninggal pada kecelakaan tersebut langsung dimakamkan malam harinya, karena Dody penganut muslim.

Ucapan berduka datang dari beberapa pemimpin besar dunia seperti Bill Clinton dan Mandela. Tony Blair perdana menteri yang baru dilantik beberapa waktu sebelum kecelakaan mobil Lady Di juga memberikan ungkapan berduka.

Kedukaan rakyat terus bertambah atas kematian Lady Di - putri yang telah menjadi buah bibir. Ditambah pihak media yang gencar menyoroti sikap kerajaan yang nampak kurang peduli dengan kematian bekas menantu kerajaan Inggris Raya tersebut.

Tony Blair ditempatkan pada posisi yang sulit manakala pendirian Ratu tetap menganggap Diana bukanlah anggota kerajaan sementara publik mengharapkan kepedulian dari pihak kerajaan.

Pada situasi tersebut ada satu kejadian menarik manakala sang ratu yang hobbi mengendari jeep Land Rover mengemudikan mobilnya di hutan sekitar kerajaan. Saat jeep menyeberang kali gardan bawah terantuk batu sungai dan macet. Sambil menunggu bantuan dari mekanik kerajaan sang ratu jalan berkeliling dan melihat seekor kijang dengan tanduk indah. Tidak lama terdengar bunyi senapan buruan dari kejauhan dan sang ratu pun menyuruh kijang itu lari agar tidak tertembak. Entah kenapa sang ratu memiliki semacam intuisi seolah kijang itu adalah jelmaan Lady Di.

Lain hari terdengar kabar dari petugas istana telah menemukan kijang bertanduk indah yang mati tertembak. Seketika sang ratu terkesiap serta merta datang melihat mendapati kijang tempo hari itu telah menjadi jasad karena ulah sang pemburu.

Dari kejadian itu ditambah desakan sang Perdana Menteri serta kritikan media akhirnya sang Ratu berkenan untuk mengibarkan bendera setengah tiang. Ratu juga memberikan pidato duka atas meninggalnya Lady Di. Puncaknya sang ratu berkenan membaur dengan rakyatnya yang berduka dengan berkunjung dan dialog di sekitar tumpukan bunga depan istana.

Barulah dilakukan pemakaman atas jasad Lady Di yang sudah seminggu meninggal. Saat itu hampir semua televisi di selutuh dunia menyiarkan prosesi pemakaman Lady Di. Selamat jalan Lady, pesonamu akan selalu tinggal di hati.

Bila Niat Bisa

SPBU itu terletak di mulut kota Tegal dari arah Pemalang. SPBU ini hanyalah satu dari ratusan pengisian bahan bakar yang tersebar di seluruh Indonesia. Sebelumnya pemasaran minyak masih dikuasai dan dimonopoli oleh pertamina, sehingga di negeri ini hanya dikenal yang namanya SPBU pertamina. Tahukah anda kepanjangan dari SPBU ? barangkali tidak semua orang tahu meskipun setiap hari melihat dan mendengar. Kepanjangannya adalah Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum. Pertaminalah dari awal merdeka hingga kini yang mengelola distribsui bahan bakar nasional. Investor yang hendak melakukan bisnis distribusi minyak ini tentunya harus bekerja sama dengan pertamina. Kali ini bukan pertamina atau investornya sebagai bahasan namun pengin mengulas sebuah SPBU yang pelayannya sedemikian bagus. SPBU Tegal ini konon mengantongi rekor Muri sebagai SPBU terbersih dan salah satu yang terluas.

Sorotan yang ingin diarahkan adalah selain sentar oengisian BBM dengan literan tepat terutama pada pelayanan yang diberikan bagi pelanggan. Sudah jamak pada era sebelumnya banyak SPBU dengan meteran kuda atau literan yang dimainkan. Boro-boro pelanggan dilayani dengan maksimal malah ini diporotin dengan meteran kuda. SPBU yang satu ini sungguh membuat banyak orang merasa puas. Ternyata bila diniatkan pelayanan bisa dimaksimalkan dan akhirnya menjadi rebutan dan buah bibir pelanggan. Tidak percaya silakan satu waktu bila melewati jalur pantura dan dimulut kota Tegal dari arah Pemalang arahkan kendaraan anda mampir. Tempat parkir yang cukup luas dan menampung puluhan kendaraan siap menyambut. Parkirnya gratis, rapi dan dimonitor CCTV.

Turun kendaraan anda dapat langsung menuju kamar mandi untuk buang air kecil ataupun mandi. Semua sudut bersih dan kering karena kipas angin besar berputar diatasnya. Toilet dan kamar mandi selalu dijaga kebersihannya dan hamper tidak pernah ditemukan kondisi yang jorok dan kotor lazimnya fasilitas umum. Anda akan bebas buang air kecil, mandi dengan air melimpah dan tiap sudut yang bersih sekali. Hebatnya tidak ada penjaga yang mengharuskan anda bayar meski ada kotak dengan tulisan mandi bayar dua ribu dan buang air cukup seribu.

Bagi yang beragama muslim disediakan sarana ibadah ber-AC yang sangat nyaman. AC-nya selalu disetel suhu terdingin sehingga dalam ruangan selalu dingin menambah khusyuknya ibadah. Bila anda kebetulan bercelana pendek atau istri lupa bawa mukena sudah tersedia sarung dan mukena yang bersih. Kursi dan meja santai bertebaran dimana-mana. Sebuah ruangan relaksasi disediakan bila kaki anda capek dan ingin dipijit yang tentunya ada biayanya meski tidaklah terlalu mahal.

Akhirnya anda dapat menyambangi kantin yang lumayan lengkap, harga terjangkau dan meja makan yang relative nyaman, karena lagi-lagi ber-AC.

Paparan ini bukanlah promosi namun lebih sebagai contoh bahwa bila niat dan komitmen dikedepankan maka fasilitas umum yang nyaman, bersih, rapi, modern bukanlah hal yang mustahil untuk diwujudkan. Siapapun termasuk pemerintah dapat mengambil contoh dan pelajaran dari pengelolaan SPBU ini bahwa sebuah layanan publik lainnya dengan performa tinggi dapat ditawarkan dan diadakan. Hanya tergantung niat dan komitmen.

Hotel

Apa bisnis yang sebenarnya ditawarkan sebuah Hotel. Beragam hotel bertebaran mulai dari kelas melati sampai hotel berbintang empat atau lima. Apa yang membedakan bisnis hotel dengan penerbangan misalnya. Paling tidak keduanya sangat erat dengan pelayanan dan penanganan terhadap tamu atau penumpangnya. Persamaan lainnya adalah kedua konsumen baik hotel maupun penerbangan umumnya berasal dari kelas ekonomi menengah atas. Dibutuhkan perhatian dan penanganan lebih khusus terhadap orang yang ekonominya mapan ini. Seberapa sering anda menggunakan jasa sebuah Hotel. Bagi mereka yang sering bepergian entah urusan keluarga atau kantor tentunya pernah menginap di sebuah hotel.

Laki-laki itu pernah menginap di sebuah hotel berbintang empat di Malaysia selama lebih dari tiga bulan. Tentu saja bukan dari biaya sendiri, karena biayanya mencapai ratusan juta rupiah. Urusan kantorlah yang membawanya menginap sampai berbulan-bulan. Itu terjadi ditahun 1992 atau enambelas tahun silam. Masih ingat bagaimana pelayanan hotel di negeri jiran itu. Harus diakui cukup professional dan mencerminkan kelas bintangnya. Selama tinggal di hotel tersebut nampak tidak ada kejadian yang berarti. Masih ingat lelaki tadi mampir dan makan di restoran hotel hanyalah sekali. Itupun saat pertama kali datang dan disambut eksekutif kantor setempat. Selebihnya lelaki itu dan banyak rekan kantornya mencari makan di luar hotel. Sarapan pagi-pun tidak pernah di hotel, karena harus berangkat ke kantor. Jadilah sarapannya cukup di kantin kantor atau pabrik. Meski kantin namun ukuran dan ragam makannya sangat banyak. Tiga bulan lebih tinggal di hotel itu cukup memberikan catatan tersendiri baginya.

Belum lama ini kembali lelaki itu menginap di sebuah hotel berbintang di kota terbesar Jawa Tengah. Lamanya juga tiga bulan. Kepentingan sama, urusan pekerjaan sehingga biaya hotel bukan dari kocek pribadi namun ditanggung perusahaan. Saat meneken invoice selama tiga bulan tersebut terlihat jumlah yang cukup besar. Hmm dana sebesar itu, bila dari kocek sendiri tentu saja sayang kalau digunakan hanya tinggal di Hotel. Berbeda dengan konglomerat minyak dari Timur Tengah yang konon pernah menyewa sekian banyak kamar hotel super mewah di Eropa hanya untuk liburan dan bersenang-senang. Uang sang raja minyak itu ibaratnya tidak berseri, sehingga membelanjakan ratusan milyar adalah hal biasa baginya.

Lelaki itu sedikit banyak menyimpulkan pelayanan hotel tersebut. Untuk makanan karena memang tinggal berbulan-bulan nampanknya memang membosankan. Meskipun menu sebuah hotel berbintang empat tentunya mewah dan beragam tetap saja membuatnya bosan. Tidak jarang lelaki itu hanya mampir dan minum susu atau sereal saja. Kali lain hanya mengambil sayuran, lontong dan sambal untuk jatah sarapannya. Dan yang paling sering adalah minta dikirim ke kamar menu jus atau susu, sereal dan roti.

Pelayanan pegawai hotel sejujurnya kurang memuaskan. Banyak pegawainya yang kurang ramah dan kurang bersahabat. Meskipun tentu ada sebagian yang ramah dan sangat baik. Seingat lelaki itu sebagai tamu longstay, dia merasa tidak diperlakukan secara khusus. Entah ini kebetulan atau memang tidak ada bedanya tamu yang hanya semalam menginap dibanding longstay. Atau pegawai berpikir toh dia menginap atas biaya kantor jadi buat apa mendapat perhatian lebih. Bahkan di restoran-pun tidak banyak yang menyapanya meskipun dia tinggal 90 hari di situ. Sentuhan pribadi dari pelayanan nampaknya tidak ditemukan. Sering saat sarapan malah jarang ditawari minum teh atau kopi yang merupakan layanan standard hotel berbintang. Entah pegawainya yang malas atau sarapan kesiangan. Jam delapan pagi tentunya belum terlalu siang bukan. Tidak banyak yang bisa dilakukan kecuali membatin bahwa hotel berbintang yang terletak di lokasi paling bergengsi kok pelayanannya jauh dari mengesankan dan kalah jauh dibanding hotel lainnya. Hal ini terjadi karena sudah mengalami puluhan kali menginap di hotel berbintang sehingga dapat membandingkan satu dengan lainnya. Bila dilihat memang hotel ini dimiliki oleh pemodal lokal dan tidak seperti biasanya sebuah hotel biasanya dimiliki atau dikelola oleh perusahaan asing yang memiliki jaringan internasional.

Puncaknya ketikan harus cek out setelah sembilan puluh hari menginap. Lelaki itu bermaksud minta sepotong kardus, tali atau lakban guna mempaking sebagian barangnya karena kopornya tidak muat. Jawaban hotel singkat tidak punya kardus. Pun tidak ada basa basi untuk mencarikan atau membelikan yang tentunya harganya akan diganti. Kardus akhirnya didapat dari kantor lelaki itu. Yang dapat dilakukan lelaki itu hanya mengisi daftar isian pelayanan yang ditaruh di meja telepon. Memang sesuai nayatanya poinya banyak di bawah rata-rata. Meski tidak begitu jelas apakah bakal ditindak lanjuti atau hanya merupakan atribut belaka. Bahwa sudah ada media penyampai uneg-uneg bagi tamu. Saat cek out di depan friontliner sungguh merupakan hal membosankan manakala harus mengantri lama, tidak ada pegawai yang menyapa, meskipun tamu itu baru saja memberikan kontribusi senilai sekian juta. Usai cek out lelaki itu bergegas menuju mobilnya tanpa menoleh. Hmm sungguh tidak ada sedikitpun keinginan untuk menginap di situ lagi.

Malam Di Suatu Kota

Semarang adalah kota yang menarik dan banyak menyimpan potensi. Semarang saat ini berbeda dengan sepuluh tahun silam. Perbedaan itu bisa jadi tidaklah besar kecuali tumbuhnya gedung bertingkat, bangunan jalan dan pusat perbelanjaan. Dari daya tarik kota barangkali Semarang masih kalah sama Bali atau Yogya. Namun Semarang sebenarnya cukup menarik. Selain berbagai potensi kekayaan kuliner, Semarang juga unik. Cukup jarang sebuah kota besar yang memiliki landscape dataran tinggi dan rendah. Makanya dikenal sebutan Semarang atas dan bawah.

Semarang juga terkenal dengan banjir rob-nya. Ketinggian daratan yang konon lebih rendah dari permukaan laut membuat bagian kota yang berdekatan dengan pantai sering terendam air laut. Meskipun sudah dilengkapi dengan pompa air yang sudah ada sejak jaman Belanda tidak urung banjir Rob selalu hadir menggenangi pemukiman. Hujan satu jam saja dapat berakibat sebagian wilayah kota terendam air, bahkan sampai ke pusat kota seperti simpang lima. Meskipun genangan ini tidaklah lama. Hanya beberapa jam saja langsung surut dan kering.

Laki-laki itu baru dua bulan tinggal di Semarang. Sebenarnya sepuluh tahun lalu pernah tinggal di kota itu selama satu tahun sebelum hijrah ke Jakarta. Kali ini kembali ia datang dan masuk kota lumpia tersebut. Lelaki itu cukup heran dengan keramaian kota dan maraknya berbagai hiburan malam.

Sebut saja Agnes yang merupakan gadis berumur dua puluh tahun yang dikenal di suatu tempat hiburan malam executive. Wajahnya cantik dan tubuhnya indah. Menurut penuturannya dia sudah memiliki satu anak dan cerai dari suaminya. Tapi keterangan tersebut diragukan manakala Agnes harus bekerja mulai dari jam tujuh malam sampai jam dua dinihari. Bagaimana ia merawat bayinya dengan ritme kerja seperti itu. Selain muda, cantik dan menarik Agnes juga bersuara bagus dan merdu. Agnes pintar menyanyi dan lelaki itu senang menyanyi. Mudah ditebak mereka berdua langsung akrab.

Rupanya hubungan itu berlanjut dan terjadilah hal itu. Lelaki itu sering menyesali tindakan yang kadang direnung kurang beradab. Menurutkan emosinya belaka atau keadaan jauh dari keluarga barangkali sering membuatnya khilaf. Tekanan kerja dan adaptasi di sebuah kota besar makin membuat gamang sikapnya. Agnes sering curhat di sela-sela hubungan mereka. Kehidupan malam kota itu memang tidak pernah mati. Diantara tempat hiburan bertebaran pula pusat perbelanjaan yang menyebar di berbagai sudut kota.

Malam itu adalah kejadian dua makhluk yang berbeda latar belakang namun yang terjadi terjadilah. Hanya satu kali memang namun sungguh sangat membawa penyesalan berkepanjangan. Tidak jelas apakah lelaki itu yang memang tidak bermoral, atau Agnes yang memang penggoda, atau temaramnya kehidupan malam dari sebuah kota besar.

Begitulah kehidupan kadang tidak adil. Kejadian itu barangkali bukanlah luar biasa dan sering menimpa banyak orang di berbagai kota. Bicara moral kadang tidak ada habisnya. Bagaimana kata bijak dapat mencerna mereka yang saling membutuhkan dan saling menyukai. Manusia terkadang merupakan makhluk paling hebat yang pernah ada - hebat dengan keanehannya. Agnes adalah potret gadis kota besar yang akrab dengan hiruk pikuk malam hari. Dan itulah memang pekerjaan yang ditekuninya. Meskipun sebenarnya ia bukanlah wanita nakal. Mungkin hanya iseng belaka. Tidak jelas apa bedanya nakal dan iseng. Lelaki itu punya keyakinan Agnes sebenarnya baik. Pun waktu berjalan terus dan dialah yang akan menjawab. Hidup bagaimanapun harus tetap berlanjut.

BBM

Kenaikan BBM lagi dan masyarakat semakin berat menanggung beban hidup. Pengangguran semakin banyak dan sulit mencari pekerjaan dan penghidupan. Berita bunuh diri anggota masyarakat karena kemiskinan sudah merupakan berita biasa di media. Ibu yang tega membunuh anaknya dan kemudian membunuh dirinya disebabkan himpitan ekonomi yang makin sesak. Ibarat hilang pegangan manakala Pemerintah dengan tega menaikkan harga bbm dengan argumen sakti untuk mengurangi subsidi. Harga minyak dunia melambung tinggi dan mendekati 200 dollar per baler adalah salah satu biang utama. Sementara harga bbm dipatok 95 dollar di anggaran pemerintah. Selisihnya menjadi beban subsidi pemerintah. Tidak kuyrang dari berbagai pakar mengatakan bahwa pemerintah masih punya opsi lainnya ketimbang sekedar menaikkan bbm. Lha kalau setiap kekurangan anggaran pemerintah selalu rakyat yang menanggung lantas gunanya pemerintah untuk apa.

Pakar energi mengatakan dengan adanya kenaikan harga minyak dunia mestinya kita mendapat berkah tambahan uang karena kita penghasil minyak. Semisal kebutuhan kita adalah 1,5 juta barrel maka yang dapat kita produksi hanya 900 ribu barrel. Dus kita harus import 650 ribu barrel. Import inilah yang menyedot anggaran pemerintah. Kenapa tidak ditingkatkan produksinya, karena belum mampu. Dan kenapa belum mampu sementara sudah merdeka puluhan tahun, ya karena belum mampu. Ktidakmampuan inilah bentuk dari kinerja Pertamina yang sudah puluhan tahun mengelola produksi minyak negara. PLN juga perlu dilihat manakala sumber listriknya masih menyedot minyak sebagai input-nya. Banyak pakar mengatakan PLN harus meminimalkan penggunaan minyak dan menggantinya dengan gas alam, batubara atau energi lainnya seperti air dan matahari yang melimpah.

Yang mampu menambang minyak adalah perusahaan minyak dunia semacam Exxon, Caltex, Conoco dan sebagainya. Masak sih kita ngga mampu meningkatkan produksi minyak sementara kandungan minyak-nya memang ada di perut bumi. Konon pertamina bukanlah penambang minyak terbesar namun hanyalah nomor empat atau lima di bawah penambang minyak asing. Sementara kandungan minyak milik negeri ini setiap hari8nya disedot oleh penambang minyak asing dan berapa yang disetor ke negara nampaknya kurang membantu. Buktinya kita tidak kuat menanggung subsidi.

Hitungan pakar ekonomi Kweek Kian Gee mengatakan bahwa pemerintah tidak perlu menaikkan harga minyak karena subsidi yang digembar gembor hanyalah hitungan angka di anggaran. Subsidi itu hanyalah abstrak dan gambaran belaka. Masih ada jalan lain ketimbang menaikan harga minyak.

Mahasiswa yang masih jernih pemikirannya mengusulkan agar kita melakukan moratorium hutang yang cicilannya menyedot sepertiga anggaran negara. Sementara seruan banyak kalangan adalah gerakan efisiensi dari birokrat pemerintah dan BUMN-nya termasuk Pertamina dan PLN.

Ada juga yang menyebut adanya mafia minyak yang sudah bertahun tahun menneggak nikmatnya jaringan distribusi minyak. Pemerintah dihimbau untuk segera menertibkan geng mafia ini yang membebani distribusi dan produksi minyak. Ada juga yang menuduh kenaikan minyak adalah pesan sponsor dan kepentingan investor minyak asing.

Apapun itu yang jelas minyak harus segera dikelola oleh negara entah dengan melakukan perundingan bagi hasil dengan investor asing termasuk nasionalisasi minyak. Saat ini dibutuhkan komitmen pemerintah untuk membela penderitaan dan beban rakyat yang semakin berat melalui pengelolaan minyak oleh bangsa sendiri sebagaimana amanat presiden pertama Soekarno!!

SMS ESIA 1 RUPIAH

Operator telepon memasuki puncak perang harga. Price War ini bakal terus berlangsung seiring dengan penetrasi pasar telepon yang masih terbuka lebar. Bahkan tidak henti-hentinya operator saling melempar produk yang diklaim murah dan kompetitif. Tidak ada fenomena unik perang harga seperti yang terjadi pada industri telekomunikasi. Bahkan ada sebuah operator yang bertahun-tahun tidur, belum kunjung komersialisasi dan terus sibuk menyiapkan infrastrukturnya, setelah merger dengan investor asing-pun segera go komersial dan meramaikan pasar.

Persaingan klasik antara kubu GSM dan CDMA terus berlangsung dan semakin sengit. Pada awalnya produk telepon hanya meliputi produk voice dan message. Mayoritas orang mengenal telepon kalau tidak untuk bicara ya mengirim pesan singkat, atau SMS. Inilah dua produk dasar telco pada awalnya. Seiring dengan perkembangan teknologi maka muncullah layanan berbasis 3G. Ada juga produk derivatif lainnya semacam Ring Back Tone (RBT). Namun industri masih mengandalkan layanan suara dan SMS sebagai tumpuan revenue-nya. Hal ini pula yang memberi kesan bahwa produk multimedia ala 3G nampak tidak terlampau sukses, mungkin karena tidak banyak yang membutuhkannya saat ini.

Price sensitif, demikian umumnya karakter pasar yang ada. Karena jargon perang harga dengan terkadang tarif promo-nya maka pasar terombang-ambing kesana kemari berburu tarif murah. Salah satu operator yang dianggap cukup kreatif dan inovatif adalah operator dari grup Bakrie yakni PT Bakrie Telecom. Beberapa hari lalu operator yang terkenal dengan produk Esia ini meluncurkan terobosan tarif SMS sebesar 1 rupiah per karakter. 1 rupiah per karakter ini hebatnya dikenakan untuk pengiriman SMS ke semua nomor baik GSM maupun CDMA. Hebatnya Esia ngeklaim bahwa tarif SMS 1 rupiah per karakter bukanlah tarif Promo sebagaimana banyak operator gembar gemborkan, namun benar merupakan tarif reguler

Yang jelas kembali konsumen dimanjakan dengan tarif yang murah dan terpenting adil, demikian klaim dari Esia. Cukup bayar yang anda pakai, adalah slogan Esia dalam promo tarif revolusioner SMS ini. Sebelumnya Esia juga melakukan edukasi tentang talktime sebagai ganti pemahaman masyarakat tentang pulsa. Ketika ditanya pulsa itu apa, umumnya orang bingung. Nah pada kondisi ini-lah Esia mencoba menyosialisasikan campaign talktime-nya.

Tentunya berbagai terobosan dan inovasi produk yang menguntungkan pasar dan konsumen luas patut ditunggu alih-alih hanya berkutat dengan tarif promo yang terkesan melakukan cheating atau jebakan. Harapan konsumen tentunya bukan sekedar tarif yang murah namun kualitas dan nilai tambah berkomunikasi haruslah diperhatikan oleh industri. Nampaknya hanya operator yang cerdas dan inovatif namun tetap memperhatikan layanan dan kualitas jaringan yang bakal mendapat empati dari konsumen. Konon dari sekitar sepuluh operator telekomunikasi yang sekarang beroperasi bakal hanya ada empat atau lima yang survive. Kemana lainnya, barangkali melakukan merger agar dapat bertahan. Itulah bisnis, akan sampai titik dimana hukum pasar menentukan segalanya. Tentunya sah-sah saja saling bersaing sejauh fair dan sehat. Persaingan yang tidak jujur hanya akan memperburuk iklim usaha dan akhirnya masyarakat luas yang bakal dirugikan.

Produk Telepon

Saat ini kita sudah sampai tahap kebingungan memilih produk telekomunikasi. Bila pada awal tahun 1990-an sambungan telepon ibarat barang mewah yang untuk mendapatkannya begitu susah, maka hari ini sambungan telepon semudah membeli pisang goreng. Bahkan dalam satu mall lebih banyak gerai telepon ketimbang penjual pisang goreng.

Booming telepon salah satunya karena deregulasi pemerintah yang mencabut monopoli duo Telkom dan Indosat. Maka masuklah beberapa pemain swasta ke dalam bisnis infrastruktur tersebut. Hari ini setiap orang sibuk nmenenteng telepon baik untuk kebutuhan bicara maupun sekedar mengirim pesan singkat. Parahnya lagi telepon hanya sekedar media ngobrol yang tidak jelas tujuannya. Ada juga yang wah dengan perangkat multimedianya meskipun barang ini pada dasarnya belum merupakan kebutuhan pokok bagi pengguna.

Semakin banyaknya operator telepon di tanah air memang sedikit banyak bakal menguntungkan konsumen dengan beragam pilihan produk dengan ragam harga. Perang harga sudah menjadi jor-joran operator telekomunikasi satu dua tahun ini. Banyak yang menawarkan tarif murah namun dengan syarat dan kondisi tertentu yang sering membingungkan konsumen. Maka terjadilah kesemrawutan informasi dan promosi dari sekian bayak operator tersebut.

Pada dasarnya operator telco juga bukan sembarang pengusaha, karena banyak modal asing dibelakangnya. Bisnis telco adalah bisnis modal dan investasi mahal meskipun strategis. Barang siapa bukan pemodal atau investor besar mustahil dapat masuk ke bisnis ini. Saking menggiurkannya bisnis ini maka banyak investor dari berbagai negara seperti Singapura, Malaysia, dan Timur Tengah yang ikut bermain.

Salah satu aspek bisnis telco adalah skala ekonomi. Dengan sedemikian besarnya modal dan investasi yang dibutuhkan untuk menggelar jaringan telco dan semakin jenuhnya pasar maka apakah bisnis telco masih berpotensi menyumbang profit yang diharapkan patut mendapat perhatian. Namun bila melihat laporan keuangan perusahaan telco yang muncul di public nampak bahwa pada dasarnya skala ekonomi masih terpenuhi.

Berikutnya pasar dari produk telco ini. Konon angka jumlah pelanggan sudah menyentuh 100 juta dari jumlah penduduk nasional katakanlah 220 juta orang. Tentunya tidak semua penduduk membutuhkan telepon ini sehingga penetrasi sebesar 100 juta yang hampir setara dengan 50% dari penduduk nasional bukanlah cerminan dari jumlah penduduknya. Katakanlah hanya 30 atau 40 penduduk yang gonta ganti nomor telepon. Angka inipun masih relatif rendah bila dilihat penetrasi dan densitas kepemilikan sambungan telepon di negara lain dimana ada yang mencapai 90% atau bahkan lebih dari 100% seperti di Hongkong. Jadi nampaknya pasar masih terbuka luas untuk terus melakukan ekspansi bisnis telco.

Perlu dicatat, edukasi masyarakat pengguna telepon kadang dilupakan oleh operator. Alih-alih memberikan edukasi para operator malah secara semrawut mencekoki pasar dengan berbagai promo yang kadang menyesatkan. Yang jelas hangat saat ini adalah tentang tarif, baik untuk tarif voice maupun sms. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat kita yang terbuai dengan hal baru atau nampak baru maka bahkan masyarakat dapat terjebak konsumtif bila tidak berhati-hati. Tidak jarang satu orang memegang tiga atau empat nomor telepon sekaligus. Katakanlah memang nomor prabayar namun harga perdana itu sendiri kan sudah merupakan biaya. Tanpa sadar masyarakat dapat terjebak dalam permainan operator telco.

Cobalah hitung berapa pengeluaran satu rumah tangga yang terdiri dari suami, istri dan dua anak baru gede. Bila keempatnya memegang nomor dan bahkan lebih dari satu nomor maka belanja untuk harga perdana sudah berapa besar. Ditambah pengeluaran setiap bulannya. Tanpa disadari pengeluaran untuk produk yang disebut telepon ini menjadi salah satu yang terbesar diantara konsumsi rumah tangga.

Sehingga masyarakat harus cerdas dan pintar memilih produk telepon yang sesuai dengan kebutuhannya. Janganlah hanyut oleh serangan promosi yang gencar ditawarkan operator semata. Masih banyak operator yang melakukan cheating dalam promonya.
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog