Responsive Banner design

New Thing



What supposed to do when you are getting into new world, into new environment and even into new mindset. It needs years to build our values and cultures. Our mindset already shaped anyway and you must change. Yes, we often to change to involve our new role. When you graduated then get into new job you must change.

When you are single then probably you get married then you need to change. In job community often everything to change. You may first place on marketing then you are rotated to Customer Service or Public Relation. You must change otherwise you face difficulties on activities needed. As human it is required to learn many things. You are ideally not such specialized person. You are such operators that must be ready face new thing and various role. Recently I was invited to other department. I have been years working from various field of department. I have ever been marketer, a buyer, an importer, services and more. It seems that I face new thing in the job. Everything however becomes not so hard since everyone around you care. They are such good person and good team. You are anyway just required to make little modification gradually. Person understands that you need not change extremely. It is just beginning but you convince it will be fine in the future. Optimistic and spirit are important. Once you have it you are not necessary to afraid of. We may learn from our baby. Do you remember that a baby had never been worried. Once he must move he move. Then he must learn moving around, sitting and so on. Finally he should be standing, walking and running. All the things he will act so. No worries how many times he fell down he was back trying. It is nature, isn’t it. New thing is really such not magic word or situation. If we assume we can so it will be. One of the crucial steps is a spirit. If we always have spirit then we are able to start. Starting is important. So let it start in the first chance.

Homeland,,



Salah satu kegiatan yang menyenangkan adalah pulang kampung/mudik. Tentunya mudik tidak harus pada hari lebaran. Kadang kita memiliki keperluan dan harus pulang mudik ke kampung halaman. Kami adalah warga Solo yang bekerja di Jakarta. Perantauan kami dimulai tahun 1991 sehingga sudah sekitar 16 tahun kami di Jakarta dan selalu rutin pulang mudik umumnya di bulan Lebaran. Kali ini mudik memang bukan periode Lebaran namun pada liburan panjang, ya libur 4 hari-lah, ngga panjang amat sih.

Rabu malam kami siap cabut dan tepatnya jam 00 malam kendaraan kami meninggalkan rumah. Berhubung kami tinggal di daerah Bekasi Timur kami putuskan masuk tol Cikampek melalui pintu tol Cibitung, tentunya sebelumnya kami sudah memenuhi tanki bensin. Ternyata jalan tol mulai ramai dengan truk dan juga pemudik lainnya. Rupanya ritual mudik masih merupakan agenda wajib manakala datang liburan panjang. Jalan di tol ramai dan kamipun merayap pelan, bahkan kadang berhenti. Saking padatnya kendaraan beberapa kali terpaksa kami mengambil bahu jalan untuk melewati jajaran truk yang memenuhi jalan. Satu jam lebih baru kami keluar tol cikmapek dan langsung disambut antrian kendaraan yang menuju jalur pantura yakni jalur cikampek, sukamandi, balongan, cirebon. Ternyata banyak perbaikan jalan di ruas ini dan kemacetan parah tak terhindarkan. Bahkan kami sempat satu jam lebih berhenti karena antrian atau pertemuan kendaraan dari dank e Cirebon. Biasanya pada kondisi normal jam 00 dari rumah sekitar jam 04.00 dinihari kami sudah lolos dari tol palimanan Cirebon. Kali ini fajar menyingsing kami baru masuk tol, hmm 2 jam rupanya kemacetan tadi. Lolos Cirebon kami piker jalanan mestinya lancer, eh masih tersendat di beberapa titik termasuk pasar-pasar. Kami heran bagaimana pasar di jalanan yang mengambil separu ruas jalan dibiarkan selama bertahun-tahun. Bagaimana sebenarnya pemikiran dari Pemerintah Daerah melihat macetnya jalur Utama pulau Jawa ini karena pasar tumpah tadi. Mestinya jangan sampai ruas jalan dipakai untuk jualan, ngetem becak, nyebrang seenaknya sementara pengguna jalan mesti macet berjam-jam. Tidakkah ada empathy bahwa pengguna jalan sudah sekian jam lelah dan butuh kelancaran jalan. Singkat cerita lama perjalanan pulang lebih lambat 4 jam dari seharusnya. Biasanya jarak Jakarta solo bisa saya tempuh 11 atau 12 jam kali ini molor menjadi 16 jam !! Beberapa kali saya terpaksa mampir ke pom bensin untuk rebahan dan tidur singkat. Maklum nyetir sendiri begitu lama kantukpun datang menyerang. Sampai di Solo kita muter-muter bentar dan menu yang kita tuju adalah nasi liwet. Hmm mana warung tradisional di kepabron, sebelah seletan kraton mangkunegaran baru saja dibuka jadi kita leluasa milih potongan ayam yang disuka. Sampai dua kali saya nambah yak arena lapar dan juga memang enak sih. Nasi liwet dipadu sayur labu(?), kuah, telur rebus dan daging ayam kampong, nyam nyam. Minumnya ice lemon tea versi keprabon. Usai menghajar nasi liwet barulah kita menuju rumah. Singkat cerita setelah dua malam di rumah kita cabut kembali ke Jakarta. Sebagaimana kebiasaan jam 00 malam kita berangkat meninggalkan rumah tercinta menuju tempat kita bekerja. Kali ini tanpa ampun kendaraan dipacu mantap dan jarak tempuh 11 jam-pun tercapai. Tidak lupa pagi-pahi sholat subuh di Pom bensin di Tegal yang mendapat rekor dari Muri karena kebersihan dan kenyamanan toilet, tempat ibadah dan tempat rehatnya.

Garbage,,,

Pagi tadi saya kebetulan mampir bengkel langganan. Seperti biasa penjaga bengkel, pak Haji namanya sedang memanaskan air. Teh tubruk satu pak Haji teriak-ku sambil mencari tempat duduk. Sementara saya asyik ngobrol dengan seorang mekanik ketika menyadari mak-nyess bau sampah habis terguyur hujan lebat. Baunya khas, ya bau sampah lah, yang jelas sangat tidak sedap. Untunglah tadi sudah sarapan di tempat lain. Teh tubruk hangat tetap saya minum sampai habis, teh aroma sampah hmm. .

Lain waktu sebelumnya bila anda melewati jalan tol, anda akan disuguhi aroma sampah yang baunya menyebar radius sekian kilometer. Diskusi sampah memang jarang orang membicarakannya meskipun ada disegala sudut termasuk depan hidung kita.

Di Bandung pernah kejadian tumpukan sampah menimpa rumah di sekitarnya, saking tingginya tumpukan sampah. Masyarakat juga pernah menumpukkan sampah begitu saja disepanjang jalan umum. Praktis terjadi kehebohan dan gangguan karena demo sampah di jalan-jalan.

Kita tentunya tahu belaka ada suatu tempat pembuangan sampah yang begitu luas dan menggunung. Konon terdapat ratusan pemulung dipembuangan tersebut. Kabar terakhir tempat tadi ditutup sementara pemerintah Jakarta sedang melobi daerah lain untuk dijadikan pembuangan sampahnya. Spontan saja ditolak, lha siapa sih yang rela dan mau tempatnya dipakai untuk pembuangan sampah.

Ya pengelolaan sampah di negeri ini begitu buruk. Sampah dibuang di sembarang tempat mulai dari kebun, sungai, selokan, laut, kolam dan bila perlu halaman tetangga. Pernah adakah semacam grand desain sampah? Nonsense. Kenapa tidak seorangpun memikirkan sampah ini. Kenapa enak saja pemerintah menunjuk atau menentukan tempat anu untuk pembuangan sampah. Pun masyarakat sungguh sering seenaknya membuang sampah bukan pada tempatnya.

Bau sampah hanyalah sedikit contoh dari ekses pengelolaan sampah yang amburadul. Kesehatan lingkungan, banjir, kebersihan dan seterusnya adalah deret dari dampak sampah yang tidak dikelola.

Pernah dengar dulu ada importer yang mengimpor sampah? Hmm masih ada saja manusia semacam itu yaa. Alih-alih mengimpor barang produktif, lha ini sampah diimport,,,

Kalau kita mencontoh pengelolaan sampah negara lainnya - banyak. Bisa disebut Jepang. Jepang memiliki mesin pengolah sampah. Sampah dikelompokkan menurut jenisnya ada plastic, kaleng alumunium, kardus dan bahan lainnya. Umumnya mereka bisa mendaur ulang bahan tadi. Dunia industri didorong membuat karton, kaleng, atau bungkus yang bisa didaur ulang.

Plastik bisa diadur ulang menjadi perkakas dari plastic. Karton, alumunium dan kardus juga bisa. Rumah tangga diharuskan membuang sampah sesuai jenis sampahnya. Mobil sampah secara teratur mengambil sampah rumah tangga juga industri dan didaur ulang.

Kita harus memikirkan pengelolaan sampah saat ini juga. Bila tidak, lingkungan kita akan semakin dipenuhi sampah. Jangan berpikir aji mumpung masih ada daerah yang dipaksa sebagai tempat pembuangan sampah, atau masih ada sungai/kali, atau ada laut dan seterusnya.

Again,,,environment !

Beberapa hari lalu E-Radio mewawancarai pakar lingkungan/tata kota, Bapak Marko. Dijelaskan bahwa setiap tahun tanpa kita sadari kota Jakarta mengalami turun sekitar 1,3 cm. Bila sepuluh tahun penurunannya sekitar 13 cm. Konon lagi permukaan laut setiap tahun mengalami kenaikan sebagai dampak pemanasan global. Katakanlah dalam sepuluh tahun naik juga 13 cm maka sebenarnya jarak daratan dan permukaan laut selama sepuluh tahun mendekat sekitar 26 cm.

Curah hujan juga disinyalir sang pakar akan mengalami peningkatan intensitas ditambah periode waktunya makin pendek. Misalnya dalam sekali musim hujan curah hujan katakanlah xxx dan berlangsung selama 6 bulan. Waktu demi waktu curahnya akan menjadi xxx + 1 dan berlangsung hanya dalam waktu 5 bulan. Sampai suatu ketika curah hujan sudah begitu tinggi dan berlangsung hanya dalam 1 atau 2 bulan saja. Kira-kira apa yang terjadi, tidakkah kota Jakarta dan sekitarnya berpotensi untuk tenggelam suatu ketika. Hal ini rasanya benar belaka. Musim hujan tempo hari, bulan Pebruari 2007 pernah hujan nonstop 12 jam !! Musim hujan kemarin konon kedalaman banjir Jakarta mencapai 6 meter. Ada yang memprediksi lima tahun mendatang yakni 2012 kedalaman banjir akan mencapai 11 meter!

Semuanya tidak terlepas dari pengelolaan lingkungan hidup di sekitar kita. Sebagai makhluk yang dianugerahi sumber daya alam beserta lingkungan hijau nan subur selama ini kita terlena. Hutan ditebangi dan kayunya dijual. Jumlah hutan merosot drastis. Kita lalai untuk menanam kembali pohon pengganti hutan gundul. Tambang kita keruk, air kita cemari, udara kita polusi dan seterusnya.

Bumi kita berpijak ya hanya ini. Kerusakan yang terjadi sudah sangat parah. Resapan air makin menipis. Di kota besar semua tanah dan situ mulai tertutup beton dan bangunan. Semuanya berlomba-lomba demi bisnisnya. Semuanya melupakan bahwa alam dan lingkungan kita memiliki batas. Manakala hutan menipis, udara terpolusi, air tercemar maka mulai terjadi apa yang disebut pemanasan global. Es di kutub mencair dan permukaan laut naik. Jumlah daratan semakin berkurang. Sementara manusia belum mampu hidup di air kan.

Bicara terlambat kita sudah terlambat. Buktinya lingkungan kita begitu rentan. Hujan deras satu jam semua sudut banjir. Masyarakat pun dirugikan dengan macetnya segala sudut jalan. Biaya social makin tinggi. Kualitas kehidupan menurun.

Kita masih belum aware. Kita masih berpikir seolah kehidupan hanyalah generasi saat ini. Bagaimana dengan generasi berikutnya. Bagaimana dengana anak cucu dan seterusnya. Dulu ada ungkapan bijak bahwa alam dan lingkungan bukanlah warisan buat kita, namun titipan anak cucu kita.

Selagi masih terdapat pakar yang peduli, hendaknya kita semua sadar. Bahwa kerusakan lingkungan sudah begitu parah. Tanpa kepedulian dan kesadaran kita segalanya akan semakin terlambat. Ada yang menghitung bahwa 17 tahun ke depan air tanah akan semakin susah. Konon kelak kita hanya bisa mengkonsumsi air setengah gelas per hari. Umur harapan hidup-pun akan semakin pendek.

Dokter,,,



Hmm ,,, dokter adalah profesi yang unik. Bila kita tanya anak kita akan jadi apa kelak bila sudah besar maka jawabnya antara lain pengin jadi dokter, insiyur atau tentara. Jadi rupanya hampir setiap anak pengin dan berangan-angan jadi dokter. Salah satu sebabnya kurang lebih bahwa setiap anak tentu mengenal profesi ini ketika masa kecilnya entah sakit atau saat imunisasi. Sehingga tidak heran sosok dokter terbayang jelas di-angan setiap anak.

Keunikan dokter bisa lebih lanjut terlihat dari sekolahnya. Selepas sekolah menengah bagi mereka yang mendapat top rank nampak secara alami memasukkan fakultas kedokteran dalam pilihannya. Tidak heran bila fakultas kedokteran merupakan salah satu fakultas favourite. Padahal jelas dibutuhkan tidak hanya otak encer dan waktu yang lama namun juga biaya yang besar. Pun selalu berjubel jebolan sekolah menengah ngantri masuk fakultas ini. Saking favouritenya konon banyak yang bersedia membayar puluhan sampai ratusan juta guna mendapat satu kursi di fakultas ini.

Keunikan berikutnya adalah ilmunya itu sendiri. Berbeda dengan reparasi mobil atau televisi yang lebih pasti dan resiko kecil. Reparasi tubuh manusia oleh dokter sangat beresiko tinggi. Bila diagnosis mobil meleset paling hanya satu atau bebera parts perlu diganti, lha kalau diagnosis atas tubuh manusia meleset, tidak jarang nyawa menjadi taruhannya. Jadi obyek hidup merupakan obyek unik dari profesi ini.

Berikutnya adalah seputar etika dimana sebagai dokter sangat besar godaannya utamanya dalam membuat resep obat baik untuk pasien atau untuk apotik rumah sakit. Tidak jarang berdatangan perusahaan farmasi menawarkan berbagai bonus dan hadiah bila dokter bersedia meresepkan obatnya. Bila kurang berpegang pada etika maka doker bisa terjebak dan berdampak pasien menjadi korban.

Seorang dokter akan memiliki berbagai permasalahan yang tiadak putus-putusnya. Sebagai gambaran bila anak anda lahir di sebuah rumah sakit A, maka mulai dari umur 1 hari dan seterusnya dokter anak akan menjadi tumpuan. Bila anak anda pilek atau panas segera dokter anak yang akan anda minta bantuannya. Pernahkah terbayang seorang dokter anak dalam sesore sampai malam praktek harus menangani 10 sampai 50 anak. Belum jadwal operasi dan pasien yang parah dan seterusnya.

Saya memiliki pengalaman cukup mendalam berkaitan dengan dokter anak ini. Bayi saya pernah lahir dengan kelainan bawaan. Istilah kedokterannya disebut Omphalocele yakni semacam organ atau usus yang tidak sempurna masuk ke dalam perut bayi. Pada minggu 10 ukuran janin di rahim masih kecil dan beberapa organ dan usus berkembang di luar janin. Seiring membesarnya janin organ/usus ini perlahan tertarik dan masuk ke dalam perut janin dan menutup sempurna. Bayi saya karena sesuatu hal tidak selesai menutupnya dan ada organ tertinggal di luar. Nah organ ini harus perlahan dimasukkan ke dalam perut dan dijahit agar sempurna.

Singkatnya bayi saya terancam meninggal dunia bila tidak ditangani medis secara tepat. Untuk proses kelahiran saja terdapat sekian banyak dokter seperti dokter kandungan, dokter bedah, dokter anak, dan dokter anestesi. Setelah lahir harus ditangani satu tim dokter untuk perawatan selanjutnya samnpai dinyakatan sehat dan boleh pulang. Hampir satu bulan bayi saya harus tinggal di rumah sakit.

Salut buat dokter anak yang dengan tekun setiap menit dan jam merawat bayi saya. Napas mesin, infuse dan obat setiap hari dipantau mili demi mili. Ditingkatkan sedikit sedikit secara tepat agar bayi segera lepas masa kritis dan berangsur membaik.

Akhirnya satu bulan perawatan dan diperbolehkan pulang meski harus control tiap minggu, lalu dua minggu dan satu bulan. Dilanjutkan dengan imunisasi tiap bulannya. Saat ini bayi saya sudah sehat dan berumur delapan bulan. Setiap bayi saya pilek atau panas langsung telepon dokter anak tersebut dan segera disebutkan harus membeli obat apa. Rasanya dokter anak kita ini selalu siap 24 jam tentunya tidak hanya bagi bayi saya namun juga bagi ratusan bayi lainnya.

Ada beberapa hal yang patut direnungkan mengenai profesi dokter ini. Tidak disangkal mereka memang kaya raya dan mendapatkan begitu banyak uang dari pasien. Namun jarang yang memikirkan bagaimana kehidupan seorang dokter. Mereka harus sedia kala setiap detik dan menit demi pasiennya. Bila pasien sembuh dan sehat nampaknya kita berpikir ya sudah semestinya. Bila meleset kadang timbul tuduhan malpraktek dan seterusnya. Saya tidak hendak membela profesi dokter, namun perlu diingat mereka juga manusia yang bisa khilaf dan memiliki banyak kekurangan. Barangkali ini hanya sepotong kisah profesi dokter. Gambar di atas adalah bayi saya usai operasi dan dirawat di NICU sebuah rumah sakit di Bekasi.

And Justice For All,,,

Sebagaimana sudah diperkirakan sebelumnya bahwa semua kembali seperti biasa, - business as usual - usai berbagai bencana menghantam. Banjir besar tempo hari yang disebabkan oleh salah satunya berubahnya fungsi resapan air menjadi bangunan permanent tidak mengubah tindakan kita. Tetap saja pembangunan mall, pusat perbelanjaan, perumahaan dan berbagai bangunan fisik lainnya dilakukan secara gencar seolah kejadian kemarin kita sudah lupa tuh – mengutip iklan obat sakit kepala.

Saat ini dan beberapa waktu kemarin banyak pekerjaan proyek di kota besar, utamanya di Jakarta gencar dilakukan. Diantara proyek tersebut misalnya pembangunan fly over, underpass dan yang kemarin bekasnya masih adalah jalur busway dan jalur monorail. Biasanya proyek atau pembangunan public facility ini dianggap crashed program dan prioritas dikebut dan dikerjakan 24 jam sehari, seiring tujuan mulia sejak awalnya. Namun di kita nampaknya hanya angan belaka berharap proyek tadi dikebut siang malam. Satu underpass saja bisa memakan waktu dua tahun sementara proyek busway, meski sekarang sudah berjalan telah begitu melelahkan pengguna jalan karena menyempitnya lebar jalan dan makin macetnya kendaraan. Proyek monorail bahkan sekarang dibiarkan begitu saja dan tidak jelas kelanjutannya.

Pun pemerintahan kita dengan paket cabinet bersatu juga nampak berjalan seperti biasa dan nampak belum banyak hasil konkrit yang dinikmati rakyat. Masalah klasik seputar terbatasnya supply beras dan harganya yang melambung masih terus berulang.

Di sector good government macam KKN, korpusi kolusi dan nepotisme terasa makin jenuh kita mendengarnya namun belum ada kakap atau bawal, eh tersangka apalagi pelaku korupsi. Memang aneh ada asset yang dikorupsi tapi pelakunya tidak ada.

Apa yang kita kemukakan semuanya bukan hal baru dan faktanya terjadi di sekitar kita. Yang kita hendak selalu ingatkan adalah pola pikir dan mindset kita yang harus berani berubah saat ini juga. Janganlah kita selalu bersikap sok benar dan berpura-pura. Masih mending saat ini terdapat para cendekia, ulama, pemuka agama dan tokoh masyarakat yang selalu menyuarakan hal yang benar. Karena bila berbagai lapisan masyarakat yang peduli pada nasib bangsa ini ini menjadi lelah dan berhenti mengingatkan, kita tidak tahu lagi akan jadi seperti apa.

Kita tidak hendak menjadi khawatir berlebihan atau bersikap seolah besok akan kiamat. Kita tentunya menyadari belaka bahwa kehidupan bukan saat generasi kita sekarang namun ada kehidupan anak dan cucu kita semua. Ironisnya kiat semua mencari nafkah bahkan kadang dengan korupsi segala tujuannya tidak lain untuk kesejahteraan anak cucu kita. Pola pikir kita selama ini terlampau ego dan sangat salah. Kita mengumpulkan sebanyak mungkin harta dan kekayaan pada dasarnya untuk jaminan keluarga, anak cucu dan keturunan kita. Berbagai cara termasuk KKN kita lakukan demi orang yang kita sayangi. Kita lupa bahwa cara ini justru menghancurkan lingkungan dan masyarakat luas dan imbasnya akan menimpa anak cucu kita. Akibat KKN timbul biaya tinggi dan merugikan lebih banyak orang. Alih-alih keturunan kita hidup sejahtera ke depan justru untuk mencari pekerjaan saja susah. Bicara harta warisan akan tahan berapa lamakah dan sungguh tidak imbang dengan tujuan awal tadi – menjamin sejahtera keturunan kita. Saat ini pun sudah terjadi gambaran ruwetnya kehidupan bernegara kita beserta eksesnya. Lapangan kerja susah, pengangguran semakin banyak, sumber daya alam habis dan basik industri kita rapuh. Apa yang kita tuai adalah semata makin merosotnya kesejahteraan masyarakat luas dan makin susahnya mencari sekedar penghidupan.

Benang merah yang hendak kita angkat adalah kita harus berani berubah saat ini juga. Mindset dan attitude kita harus dikembalikan ke jalurnya. Selalu bertindak dan berjalan di atas rel kebenaran harus menjadi acuan kita. Rambu lainnya adalah batas hak kita dengan hak orang lain. Hak setiap orang harus dijunjung tinggi dan jangan terus menurutkan ego kita belaka. Kembalikan rakyat sebagai nakhoda biduk pembangunan ini dan ciptakan akses terhadap sumber daya yang ada secara fair. And justice for all,,,

Nihon,,

Saya pernah mengalami 5 tahun kerja di perusahaan Jepang. Apa yang bisa kita dengar atau alami sehari-hari bahwa memang benar orang Jepang adalah pekerja keras. Mereka bisa bekerja dengan tekun dan focus dari pagi hari sampai larut malam. Bos saya bernama Kashiwakura adalah pria yang sudah berkeluarga dan memiliki anak. Dalam setahun hanay beberap hari beliau pulang ke negerinya. Waktunya banyak digunakan bekerja di perusahaan. Bos saya ini termasuk senior di perusahaan dan menjadi tangan kanan President Direktur. Bos saya menggantikan pejabat sebelumnya – Yoneyama yang dipanggil ke kantor pusat di Tokyo. Hari-hari pertama dating ke kantor bos banyak belajar tentang situasi pekerjaan. Belum banyak teguran atau pertintah diarahkan ke kita-kita. Selang tiga bulan mulailah bos menunjukkan kelasnya.

Setiap pagi dan sore semua dikumpulkan untuk membahas pekerjaan. Kita belum boleh pulang kecuali urusan esok sudah benar-benar pasti. Karena perusahaan ini merupakan pabrik maka segala sesuatu bisa saja dijadwalkan dan kita harus memenuhi semua jadwalnya. Konsepnya sebenarnya tidak rumit-rumit amat. Sejauh kita sudah melakukan sesuatunya dengan benar maka kita tidak akan disalahkan. Namun bukan berarti kita bebas teguran atau amarah. Pernah ada seorang karyawan jatuh pingsan saking takutnya. Bisa jadi sang karyawan tadi memang ada kesalahan yang dibuat.

Pada dasarnya orang Jepang itu ramah dan cukup peduli dengan orang lain. Mereka juga memiliki etika yang bagus. Seberapa mendesak bos pengin bicara dengan kita namun melihat kita memegang telpon tetap akan ditunggu sabar sampai selesai. Tidak peduli kita telpon urusan kerja atau pribadi misalnya. Justru kita yang tidak enak kalau nelpon bukan tentang pekerjaan.

Mereka umumnya menjunjung tinggi konsep senioritas. Bagi manajer yang muda sungguh tunduk dan patuh terhadap manajer senior. Manajer senior juga takluk dan menurut apapun instruksi dari Presiden. Barangkali itu sudah budaya mereka.

Berikutnya adalah mereka tidak bakal berhenti memikirkan suatu masalah kecuali sudah ditemukan solusinya. Dalam hal ini kita bisa belajar bahwa mereka sungguh sistematis dan taktis sekali. Kadang kita, orang local sempat putus asa suatu ketika muncul masalah serius dalam produksi. Masuklah seorang manajer menengah Imai namanya dan berlatar belakang insinyur elektro. Perlahan masalah dibedah secara sistematis, dibuatkan alur dan diagramnya, disajikan beragam scenario beserta eksesnya. Akhirnya ditarik suatu kesimpulan kompromistis yang paling ideal.

Mungkin bukan berarti orang kita kalah dengan mereka. Barangkali hanya keuletan atau semangat yang membedakan dan membuat mereka menjadi tangguh.

Jadi sebutan workaholic atau gila kerja dan semacamnya sering benar belaka. Kita juga sering berpikir wah bila setiap menit dan waktu pikiran kita curahkan terus soal pekerjaan bakal cepet tua nih. Bila ekstrem mungkin iya, katakana dalam 24 jam isinya hanya kerja, kerja dan kerja, Istirahat dan tidur bila mata sudah tidak kuat bertahan dan seterusnya. Baiknya mereka memiliki kombinasi kegiatan yang barangkali seimbang dan proporsional. Bisa jadi mereka kerja mati-matian, namun usai kerja mereka sempatkan ke café untuk minum dan barangkali mencari hiburan lain. Bukan rahasia lagi kalau orang Jepang suka mencari hiburan semacam perempuan misalnya. Sehingga pengurasan energi dalam kerja bisa di reset dan fresh dengan hiburan tadi.

Konon lagi saat ini banyak generasi muda Jepang yang jenuh dengan pola kerja keras belaka. Banyak diantara mereka mencoba menikmati hidup dan bergaya hidup layaknya orang barat misalnya. Gaya hidup santai dan memanjakan diri bisa jadi dilakukan. Hebatnya kita belum mendengar katakanlah mereka mengalami krisis. Ekonomi mereka begitu bersinar dan tangguh. Rasanya banyak hal atau konsep bisa dipelajari dan diangkat agar kite tertular ketangguhan mereka.
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog