Responsive Banner design

Leadership In New Generation

Atas kebaikan seorang rekan saya diajak menghadiri seminar. Seminar yang diliput langsung oleh SCTV dengan menerjunkan presenter Alvito Deannova menghadirkan pembicara Robby Johan, Tanri Abeng dan Djokosantosa Moeljono. Tambahan seminar ini tidak dipungut biaya dan bertempat di Universitas Al Azhar Jakarta. Seminar ini juga merupakan bentuk kegiatan mahasiswa Al-azhar seiring dibangunnya auditorium baru milik Universitas tersebut, yang dinamakan Arifin Panigoro Auditorium.

Ketika saya datang seminar sudah dimulai dengan sambutan Rektor, Bapak Zuhal. Moderator Alvito usai pembukaan oleh Rektor menjelaskan dan memperkenalkan secara singkat profil dari pembicara. Robby Johan adalah professional handal yang berhasil mengangkat kembali kinerja Garuda Indonesia dan Bank Mandiri. Berkat tangan dingin Robby maka Garuda tetap eksis dan kinerjanya semakin baik. Demikian juga dengan lahirnya bank Mandiri yang merupakan gabungan sekian bank besar juga bisa terus berkibar salah satunya karena tangan dingin Robby.

Tanri Abeng tentunya tidak asing lagi karena beliau terkenal dengan julukan manajer satu milyar, CEO perusahaan besar seperti Multi Bintang dan Bakrie Group serta pernah menjabat menteri. Beliau juga dekat dan dihubungan dengan istilah transformasi yang bisa diartikan pakar dalam mentranform suatu institusi/perusahaan menjadi lebih kompetitif dan meningkat kinerjanya.

Djokosantosa juga tidak kalah bekennya dimana beliau merupakan mantan seorang CEO di BRI maupun akademisi handal yang mengajar diberbagai perguruan tinggi. BRI disebut-sebut sebagai salah satu bank nasional terbaik dan bahkan terbaik dalam skala internasional. Lebih dari 40 negara pernah datang ke BRI untuk belajar sesuatu dari bank yang terkenal dengan kredit Usaha Kecil Menengah (UKM).

Ketiga pakar tersebut memberikan sebagian ilmunya dalam bidang Leadership. Dengan segudang pengalaman ketiganya memberikan presentasi yang menarik dan lugas. Tanpa basa-basi yang pertama tampil adalah Robby Johan dan langsung menjelaskan mengenai leadership dipadu dengan pengalaman panjangnya menangani Garuda dan Mandiri. Pak Robby mengatakan bahwa kinerja BUMN sebagai pendukung ekonomi nasional semestinya dimulai dari bawah, terus meningkat dan semakin tinggi menjadi kelas internasional. Namun yang terjadi kinerja tersebut berkutat dan jalan di tempat. Sehingga kenapa jarang ada baik BUMN maupun perusahaan lainnya yang berhasil menuju kinerja berskala internasional. Hal ini erat terkait dengan kepemimpinan dalam setiap BUMN/perusahaan.

Tanri menambahkan bahwa Petronas dan Telkom adalah contoh dua perusahaan skala internasional. Awalnya Petronas belajar dari kita (Pertamina), namun sekarang mereka lebih maju kinerjanya. Telkom dengan revenue triliunan rupiah per tahun diharapkan menjadi perusahaan nasional berskala internasional. Tanri menekankan pentingnya transformasi dimana kinerja perusahaan ditransform agar semakin bernilai tambah dan kompetitif.Tanri juga sedikit menyinggung generasi sekarang sebagai lose generation karena tidak tahu apa yang harus dilakukan, saking rumitnya masalah yang dihadapi bangsa ini.

Djokosantosa menutup seminar dengan mengulas pentingnya value (nilai-nilai) seorang pemimpin. Value haruslah menjadi budaya dari seorang pemimpin. Budaya tradisional jawa seperti Gadjah Mada, Ki Hajar Dewantoro serta Mangkunegoro mengajarkan nilai-nilai tinggi yang bisa diambil manfaatnya. Djoko juga menggambarkan kepemimpinan Samurai Jepang yang umurnya ribuan tahun namun tetap mengandung nilai-nilai tinggi yang turut berperan sebagai pondasi kemajuan ekonomi Jepang modern saat ini.

Kijang Visit

Awalnya kita hobby mailing list otomotif dan bikin milist kijang tahun 2001-an. Karena milist baru wah pada getol-getolnya diskusi apa saja seputar mobil kesayangan yang dijuluki mobil sejuta umat. Karena tahun 1997-an kalau tidak salah konon berhasil terakumulasi produk kijang sebanyak 1 juta unit. Sampai sekarang tentunya lebih dari sejuta kijang ada dan beredar di tanah air. Anggota milist beragam dari mahasiswa, orang kantoran, pengusaha maupun profesi lainnya. Bahkan yang mobilnya bukan kijang juga banyak yang ikut. Namanya juga hobby maka klop lah nggak pandang perbedaan ini itu yang penting diskusi dan kadang diseling ngumpul bareng di Senayan.

Saking ramainya milist dan lahirnya ide dari anggota maka dijajagi untuk merangkul pabrikan apakah anggota boleh mengunjungi pabriknya. Sekitar tahun 2002-an waktu itu datang tanggapan dari pihak Toyota Astra Motor (TAM) yang membolehkan kita mengunjungi pabriknya di Sunter. Wah hebat nih akhirnya datang kesempatan langka mengunjungi pabrikan mobil terbesar tanah air tersebut.

Guna menyambut baik niat pabrikan tadi, kita grup/anggota milist kijang yang beken dengan nama TKCC – Toyota Kijang Cyber Community menyiapkan segala sesuatunya termasuk kaos seragam, agar nantinya lebih formil pada saat kunjungan. Bertempat di salah satu cabang Auto 2000 (tanah abang?) kita ngumpul disitu. Wah pihak pabrikan begitu baik dengan menyediakan bus lengkap dan tim yang akan membawa kita. Akhirnya setelah ngobrol di auto 2000 tersebut- dimana mobil anggota diparkir disitu- dan tidak lupa diskusi mobil Toyota yang dipajang di situ- kita naik bus menuju Sunter ditemani tim dari Toyota Astra Motor (TAM)- hmm asyik banget deh.

Sampai di pabrik TAM sunter kita-kita langsung disambut seorang manajer dari corporate dan dilakukan briefing. Usai briefing kita ditemani staf dari produksi mulai melakukan “inspeksi” perakitan mobil paling popular tersebut. Hmmm pabriknya sudah menggunakan robot meski tenaga manusia juga masih banyak digunakan. Sebenarnya ada tiga bagian besar dari proses pembuatan mobil, namun karena keterbatasan waktu kita hanya berkesempatan keliling bagian assembly saja. Mula-mula ban berjalan dengan operator di kanan kiri melakukan proses perakitan parts ke bodi. Jadi bodi kijang ini yang berasal dari stamping plat dibentuk dan masuk ban berjalan. Bodinya mengalami pemrosesan seperti pembuatan lubang mur, pelapisan anti karat serta pengecatan. Dan bila sudah rapi maka tinggal dipasang peredam, jok, plafond juga mesin, roda serta parts lainnya sampai keluar finishing dalam keadaan menjadi mobil yang siap jalan. Hmmm lumayan canggih dan elapse time-nya untuk 1 kijang sekitar (wah agak lupa) yang jelas beberapa menit saja keluar satu kijang baru di ujung ban berjalan assembly ini.

Menurut pendamping kita, proses pembuatan kijang tergolong “biasa”, dan bila ingin melihat yang lebih hebat lagi ada pabrik Toyota di Kerawang yang merakit sedan semacam Altis maupun Camry. Nah berhubung sedan jelas lebih canggih dengan bodi monokoknya maka pastilah proses perakitannya jauh lebih rumit dan konon semuanya oleh robot.

Usai berbentuk mobil segelondong masih harus diproses lagi yakni test hujan dimana sudah tersedia ruangan yang bisa menyemburkan air dari segala arah. Test ini untuk menguji apakah mobil sudah sempurna dan tidak ada air yang menerobos masuk bila melewati hujan atau banjir. Sementara mobil juga ditest di ruangan yang ada alat berjalan di bawah ban, jadi bannya muter kencang sampai missal 90 km per jam, mobilnya tetap ditempat karena yang muter adalah jalan di bawah ban. Pokoknya asyik habis bisa berkesempatan melihat perakitan mobil kijang. Entah kapan kita akan dapat kesempatan melihat perakitan pabrik Toyota yang di Kerawang ? Mimpii kali ye,,,,

Usai melihat bagaimana sebuah mobil dibuat kembali kita briefing dan dilakukan tanya jawab, mana-mana yang belum jelas. Misinya adalah agar kita-kita bisa menjelaskan ke penggemar otomotif (ceilee GR) bahwa proses pembuatan dilakukan dengan canggih dan presisi tinggi guna menghasilkan produk bermutu tinggi. Dan ini benar belaka, kenapa ? karena kijang diakui memiliki kualitas yang handal dan menjadi mobil favorit nasional.

Kebaikan Toyota masih berlanjut karena kita semua ditraktir makan siang di Kelapa Gading dan diberi souvenir paying bertuliskan kijang. Hmm terima kasih Toyota atas semua kebaikannya. Sebenarnya banyak yang dilihat pada saat itu (tahun 2002) namun banyak terlupa karena baru diceritakan ulang sekarang (4 tahun lampau).

Underestimate

Seorang eksekutif perusahaan kedatangan tamu di ruangannya yang megah nan luas. Sang tamu terlihat sederhana, lugu, tanpa dasi, sepatu tidak mengkilap serta bersikap kalem. Sang eksekutif mengernyitkan dahi, muka agak mendongak dan mengerling tamunya. Seingatnya dia mengundang konsultan beken untuk membantu dan memberikan masukan atas berbagai masalah perusahaan. Dengan sopan sang tamu memperkenalkan diri dan menyatakan bahwa ia adalah staf dari konsultan yang diundang serta menanyakan kapan bisa mulai saling presentasi. Masih dengan wajah muram sang eksekutif sedikit malas memulai agenda hari itu, dengan gaya elegan dan tekanan suara layaknya petinggi perusahaan, eksekutif mulai membuka presentasinya. Beragam table, grafik, data yang tentu saja disusun oleh bawahannya ditampilkan. Semuanya berjalan biasa saja. Giliran konsultan yang melakukan presentasi, dengan bahasa tertata rapi, presentasi yang padat namun sistematis, dipadu wawasan dan pengetahuan yang hebat serta berbagai rekomendasi dan alternatif solusi atas masalah perusahaan, perlahan terhapus keraguan sang eksekutif dan berubahlah cara melihat tamunya yang “sederhana” namun menyimpan bobot pemikiran yang tinggi.

Meremehkan, itulah kata yang menggambarkan betapa cara pandang, penilaian, subyektifitas maupun anggapan seseorang atas lainnya. Sudah jamak berlaku di masyarakat kita bahwa penampilan fisik, cara berpakaian, desain pakaian, sepatu mahal, parfum, dasi maupun atribut fisik lainnya kadang mendominasi penilaian. Tidak jarang hal ini banyak menimpa diantara kita. Bila kebetulan kita bertemu entah itu pejabat tinggi, CEO perusahaan besar, BUMN atau golongan the haves lainnya, kita kadang merasa risih dengan lirikan mereka ke sepatu kita, ke pakaian kita yang memang sederhana dan apa adanya. Celakanya lagi penilaian ini kadang merembet ke lainnya—hmm dengan tampilan seperti itu paling dia hanya staf yang tidak tahu apa-apa, dan seterusnya.

Konon budaya kita adalah budaya agung yang ramah, tamah, sopan, suka membantu, menghargai, kekeluargaan dan seabreg budaya mulia lainnya. Namun kadang kita juga menjadi bangsa yang suka mencampuri urusan orang lain, meremehkan, suka bergunjing, suka memandang rendah dan sebagainya. Generasi muda kita barangkali menyebutnya, munafik—katanya sopan nan ramah kok juga suka memandang rendah orang lain.

Meremehkan bisa jadi merupakan sifat alamiah setiap orang, sebagaimana sifat rendah hati, sombong, pamer maupun sifat bawaan lainnya. Setiap orang juga tentunya tidak akan terlepas dari sifat-sifat bawaan tersebut. Namun barangkali kita bisa mengatur dan menampilkan sifat sifat tersebut secara arif. Pada konteks di atas dimana seorang eksekutif perusahaan yang sukses dan berhasil mencapai tingkat pencapaian materi yang tinggi, meremehkan bisa jadi alamiah sejauh segera dikoreksi dan perlahan dihilangkan. Namanya juga orang sukses dengan segala hal yang dimiliki wajar toh melihat secara remeh kepada orang berpakaian sederhana yang alim —pada kesempatan pertama.

Kadang-pun meremehkan tidaklah semata buruk. Misalnya dalam pertandingan olahraga atletik lari sprint Olimpiade, olahragawan dari negara anu guna mendorong semangat kemenangan, memandang lawan lainnya remeh—ah sayalah yang tercepat dan mereka semua ngga ada apa-apanya buat saya. Namun secara umum bahwa sifat meremehkan memang kurang baik karena terbiasa meremehkan akan segera diikuti sifat sombong kita, sifat merasa diri lebih segalanya dan hal ini mendorong kita tidak bijak. Sifat-sifat yang kita miliki kadang bakal menampilkan dan menggambarkan kita seperti apa. We are what our characters do. Jagalah dan kendalikan segala sifat-sifat tersebut secara bijak dan pandanglah manusia lainnya semulia kita juga, dan janganlah attribut fisik mengaburkan penilaian kita.

TV Nasional

Hari-hari kita selalu disertai dengan acara-acara TV dari berbagai stasiun TV yang ada. Acara TV sudah merupakan kebutuhan dan kehidupan kita sehari-hari. Dinamika hidup kita berubah dan berwarna dengan semakin banyaknya stasiun TV. Tentunya masih segar dalam ingatan kita ketika TV masih didominasi oleh TV milik negara yakni TVRI. Acara TV terbatas dan tidak banyak pilihan. Yang jelas selalu ada acara wajib yakni Siaran Dalam Berita. Dari kubu hiburan ada acara Aneka Ria Safari dan acara hiburan lagu-lagu sejenis. Dari film dewasa ada beberapa film Hollywood lama semacam Wild wild west, The six million dollar man atau Time Tunnel. Film kartun pun ada semacam Woody Wod Pecker. Film anak-anak seperti Rin Tintin dan seterusnya. TV kala itu juga berhasil mengorbitkan bintang legendaries macam Benyamin atau Bing Slamet. Juga grup musik macam Keos Plus, Bimbo, Soneta maupun Dlloyd. Bintang nyanyi macam Titik Puspa, Ebiet, Rhoma dan sebagainya.

Ketika itu TV juga merupakan barang mewah dan tidak semua rumah punya. Di desa-desa umunya hanya pak Lurah yang mampu membeli TV merk National atau Grundig yang gedenya sebesar lemari. Ketika listrik belum masuk umumnya digunakan Accu yang membutuhkan charger setiap arusnya habis. Tidak jarang jam putar TV diatur sesuai sisa arus di Accu. Bila orang tua menyukai acara wayang orang maka TV belum diputar sampai acara dimulai. Jadilah halaman rumah pak Lurah layaknya pasar malam dimana warga sekampung ngumpul menunggu TV di setel.

Dengan masuknya listrik sampai ke desa-desa disertai bangkitnya industri elektronik perlahan TV semakin banyak dimiliki. Setelah tahun 1990-an praktis TV menjadi komoditas yang umum dan banyak dimiliki keluarga di kota maupun desa. Penyedia siaran TV pun bertambah dengan masuknya swasta. Mula-mula ada RCTI, kemudian TPI, SCTV, Indosiar dan sebagainya. Sekarang tidak kurang dari 9 stasiun TV berskala nasional dan masih banyak TV lokal melakukan siarannya.

Jenis dan model TV-pun semakin canggih. Dari awalnya hanya hitam putih, kemudian berwarna dengan suara mono, menjadi stereo. Berikutnya ada suara Nicam, disertai gambar yang semakin tajam. Model TV-pun berkembang dari bentuk konvensional, menjadi bentuk datar, bentuk wide body dan terakhir ada TV plasma. Yang jelas acara TV-pun menjadi sangat beragam. Pada awalnya sempat ada segmentasi acara, seperti TPI dengan siaran pendidikannya, RCTI dengan siaran berita, maupun Indosiar dengan unggulan sinetron dan seterusnya. Namun perlahan segmentasi tadi membaur dan masing-masing stasiun bebas menyusun acaranya semenarik mungkin.

Dalam perkembangannya masih muncul stasiun TV seperti Metro TV, Trans TV, Latifi, Global TV, TV-7 maupun O-Channel. Stasiun TV tadi sebagian adalah milik grup media cetak seperti Media grup yang memiliki Metro, TV-7 yang diinduki oleh Harian Kompas. Atau sebaliknya seperti RCTI mencoba membuat unit media cetak yakni Koran Sindo. Dengan semakin bertambah banyaknya stasiun TV maupun jaringannya dengan media cetak yang jelas masyarakat akan memiliki keuntungan. Pilihan acara TV semakin banyak dan memenuhi kebutuhan masyarakat.

Produk derivative dari keberadaan industri TV-pun semakin tumbuh subur. Banyak Production House yang membuat beragam sinetron dan film. Bidang advertising pun melesat tajam dengan semakin perlu beriklan di TV. Hampir semua produk consumer, supplies ataupun komoditas lainnya berlomba mengiklankan produknya. Konon omzet dari periklanan ini bisa mencapai triliunan rupiah per tahunnya. Bagi stasiun TV pendapatan dari iklan juga menopang operasional siarannya. Bahkan TVRI yang merupakan satu-satunya stasiun TV milik negara-pun kini menerima dan menyiarkan Commercial Break berupa iklan.

Dampak dari meluasnya industri penyiaran TV sangatlah terasa bagi masyarakat luas. Ada dampak yang positip maupun negatif. Diharapkan masyarakat pandai memilah dan memilih siaran yang bermanfaat dan sesuai kebutuhannya. Sebaliknya bagi industri penyiaran dibutuhkan juga kualitas siaran mereka selalu ditingkatkan dan tidak semata mengejar rating. Dengan perkembangan IT konon rating TV bisa diketahui langsung dari seberapa banyak acara TV dilihat oleh masyarakat. Umumnya sih rating tertinggi ya masih seputar acara sinetron atau film. Hanya sempat disayangkan bahwa masih banyak sinetron kita yang kurang membumi dan banyak menjual cerita seputar ketenaran, kekayaan, kecantikan maupun atribut dangkal lainnya.

Hal ini barangkali merupakan timbal balik bahwa tingkat kemajuan pemikiran masyarakat kita baru sebatas menyukai hiburan semacam itu. Sehingga dibutuhkan kerjasama dan pengembangan secara bersama-sama dari penyedia siaran, masyarakat dan pemerintah agar acara TV nasional semakin bermutu.

Tukang Ojeg

Tidak kurang dari 10,000 tempat mangkal tukang ojeg di jabodetabek. Hm luar biasa ternyata bisnis transportasi yang tidak pernah didata resmi oleh Pemerintah ini. Kompas memberitakan hari ini, bahwa usai kenaikan bbm dan semakin banyak perusahaan merumahkan karyawannya, pun semakin banyak pengangguran, jumlah pengojeg makin menjamur. Bila kita hitung tempat mangkal ojeg yang 10,000 dengan asumsi tiap mangkal ada 5 atau 10 pengojeg saja, artinya terdapat 50 sampai 100 ribu tukang ojeg tersebar di seantero megapolitan Jakarta raya ini. Di beberapa tempat seperti di pertigaan, atau perempatan di Jakarta saja, satu tempat mangkal bisa terdapat 20 atau 30 tukang ojeg, sehingga keseluruhan jumlahnya bisa lebih dari 100 ribu.

Tukang ojeg memang dibutuhkan oleh masyarakat yang mengejar waktu entah menuju kantor, kampus atau tujuan lainnya. Tanpa keberadaan mereka, kita akan kesulitan bila misalnya kesiangan dan harus mengejar waktu, mengejar jadwal kereta atau bahkan jadwal pesawat terbang. Dus keberadaan ojeg bagi masyarakat akan memberikan keuntungan dari sisi mengelola waktu. Tukang ojeg sekarang juga canggih, karena umumnya mereka punya HP, jadi bila kita membutuhkan tinggal panggil dan datanglah mereka ke depan rumah kita. Bila sudah langganan tentunya tariff sudah biasa dan tanpa tawar-menawar lagi.

Kebutuhan waktu ini tentunya harus dibayar lebih, karena tariff ojeg akan lebih mahal dari tariff angkot/bus. Selain biaya yang lebih mahal ojeg juga punya keterbatasan dimana penumpang dengan bawaan banyak akan sulit dan tidak bisa mengojek. Kenyamanan juga hal yang tidak bisa diharapkan bila kita mengojek. Bau asap kendaraan lain, badan siap mengikuti gerakan tukang ojek yang akan bermanuver di sela-sela kendaraan lainnya.

Dari sudut pengguna jalan, sebagaimana kendaraan roda dua lainnya, akan sangat mengganggu ketertiban dan antrian di jalan karena umumnya motor tidak mau antri di belakang mobil. Perilaku tukang ojeg dan pengemudi motor lainnya cenderung tidak mau mengalah meskipun melaju bukan pada jalurnya. Sering terjadi jalur lawan diambil dan dipenuhi motor yang berakibat kendaraan dari arah lawan sulit melaju.

Banyak tempat mangkal ojeg yang tidak tertib seperti di mulut jalan tol, perempatan maupun daerah padat lalu lintas lainnya. Sering terjadi bus atau angkutan umum lain datang dan menurunkan penumpang langsung diserbu pengojek ini. Praktis terjadilah adu balap semrawut sekian banyak pengojeg yang memburu penumpang yang turun kendaraan umum. Tambahan, begitu sulitnya pengojek ini diatur dan ditertibkan, Bila hanya polisi pengatur lalu lintas biasa yang menertibkan jangan harap segera dipatuhi. Pengojeg biasanya main kucing-kucingan, tertib sebentar polisi lengah kembali lagi menyebar bak lebah menyerang. Bila diturunkan sejumlah polisi bersenjata lengkap, mau tertiblah mereka. Hanya, apakah polisi akan terus menerus menungguin pengojek, rasanya juga tidak, sehingga ketertiban hanya berjalan sebentar dan selebihnya semrawut. Padahal bila mau antri, tertib dan berbaris rapi, disamping jalanan lancar, semuanya juga kebagian penumpang, demikian logikanya. Namun hal sederhana ini saja sulit terwujud, karena ya factor pengojeknya ya factor penumpangnya yang mau saja naik pengojek semrawut.

Ojek motor belakangan menjadi fenomena yang menarik, Didukung dengan kemudahan kepemilikan roda dua oleh industri motor. Bahkan tanpa uang muka, kita bisa memiliki motor dan tinggal membayar angsuran tiap bulannya. Banyak yang spekulasi di sini. Bermodalkan KTP, KK maupun slip gaji-entah dari mana dapetnya, seseorang bisa segera memegang motor baru. Dipakailah motornya mengojek dan mulailah aksi kejar setoran dimulai. Dari pagi buta sampai malam hari pengojek beraksi memburu penumpang. Hal ini juga yang mendorong perilaku pengojek sulit diatur, karena kondisi kejar setoran buat bayar motornya serta tentunya buat dapur ngebul. Sering juga terjadi mereka kesulitan mengangsur dan bersiaplah sewaktu waktu motornya diambil oleh dealernya.

Meski pelik nan rumit balada pengojek yakni biang semrawut di jalanan, sulit diatur dan sering mengabaikan rambu jalan, pengojek juga menanggung resiko. Tidak sedikit mereka dirampok oleh penumpang, tentunya penjahat yang menyamar sebagai penumpang ojek. Tidak jarang pula yang dilukai sebelum motornya diambil, dan bahkan satu dua ada yang dibunuh karena melawan saat mau diambil motornya.

Kenapa transportasi roda dua ini tidak dilegalkan saja ya dengan pengaturan oleh Pemerintah, disiapkan jalur motor dan tempat ngetem/terminal ojeknya, ditentukan tarifnya dan seterusnya. Apakah hal ini sulit? Mungkin juga, mengingat begitu mudahnya menjadi pengojek hanya dengan bekal motor dan ketrampilan mengendarainya. Pengaturan angkot dan trayeknya saja kadang masih overlapping dan over trayek. Namun bila pengojek hanya dibiarkan saja juga tidak bijak mengingat ini menyangkut public service. Tentunya segala sesuatu tentang public, pemerintah sebaiknya juga terlibat, gimane,,,,,,

Toilet

Hampir tidak ada dari kita yang tida mengenal dan akrab dengan tempat yang satu ini. Bahkan sudah menjadi salah satu lokasi santai keseharian kita. Menurut dokter kita, sebaiknya kita mengunjungi tempat ini minimal sehari sekali, hal ini sangat logis karena setiap hari kita makan lebih dari sekali. Kalau tidak kita buang, akan berakibat organ pencernaan kita terganggu karena ibaratnya saluran haruslah lancar dari mulai masuk, proses, distribusi dan buang. Sudah menjadi menu kita sehari-hari, kadang tergantung kebiasaan kita, apakah pagi atau malam hari kita pergi ke toilet untuk tugas rutin kita yakni buang hajat.

Bentuk dari toilet sangatlah beragam, mulai dari toilet alam seperti sungai, kolam ikan, WC umum sampai toilet exclusive di kantor atau hotel mewah. Namun kesemuanya memiliki fungsi yang sama. Seiring berkembangnya kemajuan jaman dan teknologi maka toilet merupakan lebih dari sekedar tempat kita membuang waste kita. Bagi penulis novel misalnya toilet cocok untuk mendapatkan ide segar. Bagi pekerja, toilet juga merupakan tempat membaca atau merokok.

Tidak jarang manakala di toilet, sebelah kubik kita sedang menerima telepon HP-nya dan berbicara panjang lebar. Rekan saya pernah menggunakan toilet untuk tidur, nah lho, gimana. Critanya pabrik sedang sibuk, kerjaan numpuk, dan orang lalu lalang tiada henti disela dering telepon sana sini. Karena malamnya begadang nungguin bayinya, saking kantuknya begitu kerjaan agak senggang pergilah dia ke toilet, duduk dan zzzzz nyenyak banget dia, he he seru juga ya.

Toilet sekarang juga bukanlah suatu tempat yang jorok, kotor atau basah belepotan air. Banyak toilet yang mewah dan membuat betah orang berlama-lama. Di banyak negara maju, toilet dibuat sedemikian rupa sehingga kita tidak perlu melepas celana dan sepatu kita. Cukup melorotkan celana kita dan duduk sambil baca, bereslah tugas rutin kita tadi.

Toilet juga kadang ungkapan suatu seni dari pemiliknya. Di rumah seniman misalnya, toilet bisa dibentuk gitar, sepatu, atau bahkan dibingkai foto-foto yang unik. Rupanya ekspresi seni sudah merambah ke segala sudut termasuk “tempat belakang” ini. Dulu kalau kita pergi ke toilet untuk kesopanan kita menyebut pergi ke belakang. Hal ini karena umumnya tempatnya yang di belakang rumah, dekat sumur. Namun toilet kini tidak harus di belakang, bisa di tengah atau di depan dari rumah kita, bahkan di setiap kamar bisa juga tersedia toilet.

Di internet sering ditunjukkan berbagai model toilet yang unik dan eksentrik. Ada gambar kartun seseorang sambil ngetik di komputer duduknya di toilet, lebih praktis kan. Di acara TV show semacam rumah gue atau crib, itu yang ditayangkan MTV, dibedah seluruh bagian dari rumah seorang artis misalnya. Dari mulai ruang tamu, kamar tidur, isi kulkas dan tidak ketinggalan toilet. Bahkan toilet ini dapat menggambarkan karakter dari pemiliknya. Ada yang biasa, jorok, unik, bersih, rapi dan sebagainya.

Di tempat-tempat umum toilet juga dibisniskan. Bagaimana kalau kita ke terminal bus dan ingin pipis misalnya? Nah pergilah ke toilet umum, hanya kita harus bayar lho. Di stasiun kereta juga sama. Jadi toilet sudah merambah menjadi produk bisnis juga. Ada yang sering naik bus? Ada juga di sana bus yang biasanya VIP disediakan toilet. Jadi di tengah jalan bila pengin ke belakang sementara tujuan masih jauh, tidak perlu harus sakit perut menahan, bisa ke toilet mobile yang disediakan. Cuman- biasanya begitu dibuka dan kebetulan aromanya bau, langsung wess ke sebar seluruh penumpang bus, ya anggap sebagai aroma alami deh.

Toilet juga bisa digunakan ajang melatih mengelola waktu. Pernah jadi pramuka atau kegiatan camping di alam terbuka. Nah, mandinya atau buang airnya akan dijatah oleh guru-guru kita. Mandi dan buang air paling lama 10 menit, karena jadwal kegiatan ketat, pengguna banyak sementara toilet/kamar mandi terbatas.

Pebisnis kelas berat sering harus membawa laptop sambil ke toilet. Jadinya ya mengetik di atas toilet, karena kan pengambilan keputusan tidak boleh berhenti meskipun sedang buang hajat. Toilet adalah teman sejati kita yang selalu setia disaat kita butuh. Jagalah selalu kebersihannya.

Travelin’

Banyak dari kita yang menyukai kegiatan yang satu ini yakni bepergian. Tidak masalah bepergian bersama keluarga, handai taulan maupun teman sekantor. Traveling tetaplah mengasyikan. Dengan traveling kita melupakan sejenak rutinitas, melihat view yang tidak biasa dan menghirup lebih banyak udara segar. Banyak dari kita yang lebih menyukai bepergian ke pantai misalnya, atau ke gunung yang banyak pepohonan atau ke perkebunan teh, kopi, karet, kelapa dan sebagainya. Namun bagi yang tinggal di daerah yang setiap harinya melihat gunung, pohon atau pantai tentunya lebih menarik pergi ke kota yang gemerlap, banyak tempat hiburan, mall, gedung megah nan tinggi maupun angkutan kota yang canggih.

Tentunya traveling tidak tepat kalau dilakukan terlalu sering, jadinya malah kurang menarik. Misalnya sopir antar kota yang setiap hari melihat sawah, pohon, bukit, sungai dan sebagainya. Pada saat masuk kota sang sopir gantian melihat keramaian kota, gemerlapan, gedung, supermarket dan sebagainya. Bagi pak sopir bus tadi travelingnya tentulah tempat yang tidak biasa dikunjungi. Jadi traveling akan lebih menarik bila dilakukan misalnya setahun dua kali atau sekali saja.

Traveling juga hendaknya dilakukan dengan rencana yang matang, karena akan menyangkut biaya yang tidak sedikit. Agar traveling benar-benar nyaman maka kita sebaiknya membawa cukup uang guna dibelanjakan dan memanjakan kita sekeluarga. Dengan frekuensi setahun sekali, bisa saja kita mengumpulkan sedikit uang kita dan mewujudkan kegiatan ini. Dus, negara kita kaya akan tempat-tempat yang indah dan menarik. Ingin ke pantai banyak yang menarik semacam pantai di Bali, pantai di Jawa maupun tempat lainnya. Gunung? Wah banyak pula ada Bromo, Lawu, lembah Dieng dan sebagainya. Masih banyak obyek lainnya semacam museum, candi, tempat bersejarah dan sebagainya.

Belakangan ini bagi kaum muslimin, ada juga wisata dikombinasikan dengan ziarah ke tempat-tempat bersejarah agama. Ada misalnya sekelompok pengajian di Jawa Tengah yang mengadakan traveling ke Demak, dimana banyak terdapat makam para wali pendakwah agama. Untuk lingkup lebih luas, ada juga ibadah Umroh yang tujuannya ibadah namun bisa sekaligus sebagai ajang traveling. Di Eropa juga tentunya terdapat banyak paket-paket wisata yang dikemas menarik dengan pelayanan yang menyenangkan. Sudah jamak bagi warga dari negara maju yang taraf hidupnya tinggi, traveling tidaklah sebatas bepergian dalam negaranya, namun lebih jauh ke negara lain atau bahkan keliling dunia. Hal ini juga menjelaskan mengapa di Bali banyak turis asing yang umumnya datang dari negara maju.

Semakin marak dunia traveling juga berdampak sektor pariwisita menjadi penting dan menghasilkan makin banyak devisa. Apa jadinya Bali tanpa ada wisatawan? Di banyak negara, pariwisata semakin diperhitungkan dan diperhatikan. Bagaimana dengan kita, apakah pariwisata sudah secara optimal dikelola? Jawabnya tidaklah sederhana. Namun secara umum masih banyak yang bisa dilakukan dengan sector pariwisata kita. Ketimbang pusing memikirkan komoditas barang yang persaingannya sangat ketat, pun kita tertinggal teknologinya, kenapa tidak coba mengoptimalkan sumber daya pariwisata kita. Kita memiliki comparative advantage bidang ini ketimbang negara lainnya. Kita punya pantai, gunung, museum, tempat bersejarah, perkebunanan dan sebagainya. Bahkan sejak dulu kita memiliki menteri yang khusus menangani pariwisata, jadi kenapa kita tidak menggalakkan bidang yang menarik ini.

Traveling - suatu kegiatan yang sehat, bisa dibuat tidak mahal, bermanfaat bagi banyak orang dan dapat mempertebal semangat nasionalisme, patut kita lakukan secara teratur dan ditularkan ke anak cucu kita.
Diberdayakan oleh Blogger.

Arsip Blog